fbpx

Día: 14 de noviembre de 2023

Las preguntas sobre equidad en salud y diversidad de ensayos aún no han sido respondidas por la industria farmacéutica

Si bien los actores globales son más conscientes de los problemas de equidad en salud en todo el mundo, todavía hay problemas persistentes, según Jayasree Iyer, director ejecutivo de la Fundación Acceso a la Medicina.

Hablando en el panel de discusión 'Equidad en salud: ¿Cómo puede la industria farmacéutica marcar la diferencia?' En el último día de la Cumbre Global de Farmacia y Biotecnología de FT en Londres, Reino Unido, Iyer destacó que es necesario combinar incentivos comerciales y de acceso para mejorar la equidad en salud.

Seyda Atadan Memis, directora general de Takeda para el Reino Unido e Irlanda, señaló que si bien centrarse en los pacientes y generar confianza es crucial, también es importante abordar las cuestiones de asequibilidad en cada país.

Memis también dijo que la equidad en salud va de la mano de consideraciones éticas dentro de los ensayos clínicos. Takeda ha traducido sus directrices de ensayos clínicos a varios idiomas para que los posibles participantes y cuidadores mejoren la diversidad y la representación.

Arena de ensayos clínicos ha informado anteriormente sobre la importancia de incluir pacientes de orígenes racialmente diversos, mejorando representación femenina en estudios en etapa temprana, y la inclusión de la población embarazada y pacientes con discapacidades cognitivas.

Aunque los datos desempeñan un papel crucial en el proceso de desarrollo de fármacos, también pueden afectar la diversidad. Liz Hampson, directora ejecutiva para Europa del Deloitte Health Equity Institute, explicó que los datos sesgados utilizados para elegir qué productos deberían entrar en ensayos clínicos influirán en las cohortes que se inscriban en los ensayos.

Leer el texto completo aquí

Apresiasi UU Kesehatan untuk Kegiatan Usaha dan Investasi

Rokok elektrik, yang dikenal juga dengan nama vape, saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian jutaan orang di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Saat ini, dengan mudah kita bisa menemukan berbagai pengguna vape di banyak tempat, dan juga toko-toko yang menjual produk-produk rokok elektrik dari berbagai merek.

Semakin meningkatnya pengguna vape di Indonesia ini tentu merupakan hal yang sudah menjadi rahasia umum. Pada tahun 2021 lalu misalnya, jumlah pengguna vape di Indonesia hanya sebesar 0,3% dari seluruh penduduk di tanah air. Angka ini meningkat drastis menjadi 10 kali lipat pada tahun 2021menjadi 3% (republika.co.id, 31/5/2022).

Dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna vape, tentu membuat industri produk ini menjadi semakin berkembang dengan pesat, dan menyerap semakin banyak tenaga kerja. Por lo tanto, compre entre 150.000 y 200.000 dólares por cada vapeo industrial (jawapos.com, 6/1/2023).

Angka ini tentu bukan jumlah yang sedikit, dan sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah. Selain itu, semakin meningkatnya jumlah pengguna vape, dan juga tenaga kerja yang bekerja di sektor industri concisamente, tentunya juga membuat sumbangan kepada negara menjadi meningkat. Pada tahun 2022, diperkirakan sumbangan cukai industri vape kepada negara mencapai angka 1,02 triliun rupiah (vapeboss.co.id, 7/7/2023).

Di sisi lain, semakin besarnya industri vape di Indonesia, dan juga fenomena peningkatan pangguna vape di tanah air, juga menimbulkan pro dan kontra. Tidak sedikit pihak-pihak yang mengutarakan pandangan yang negatif terhadap fenomena conciso, dan menganggap vape merupakan produk yang sangat berbahaya bagi kesehatan sama seperti rokok konvensional yang dibakar.

Padahal, beberapa lembaga kesehatan publik dari luar negeri sudah mengeluarkan laporan yang menyatakan vape merupakan produk yang lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar. Penting dicatat bahwa, 95% lebih tidak berbahaya ini bukan berarti tidak adadamak negatif sama sekali dari produk concisamente. Melainkan bahwa, tingkat bahaya produk conciso pero jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rokok konvensional.

Lembaga kesehatan asal Inggris, Public Health England (PHE) misalnya, pada tahun 2015 lalu menyatakan bahwa, vape 95% lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar. Dengan demikian, rokok elektrik atau vape merupakan produk yang bisa digunakan sebagai alat untuk membantu para perokok untuk berhenti merokok (theguardian.com, 28/12/2018).

Para ello, dibutuhkan serangkaian kebijakan regulasi yang tepat agar upaya untuk mengurangi konsumsi rokok di Indonesia dapat tercapai, dan tidak kontraproduktif. Hal yang patut diperhatikan tidak hanya dalam aspek kesehatan publik saja, tetapi juga aspek ketenagakerjaan, mengingat bahwa industri vape meruapakn salah satu sektor industri yang telah menyerap ratusan ribu lapangan kerja.

Beberapa waktu yang lalu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mensahkan Undang-undang No. 17 tahun 2023 tentang Kesehatan. Dalam undang-undang conciso, terdapat poin yang mengakomodir dan memberikan kepastian hukum terhadap industri dan juga produk-produk rokok elektrik.

Undang-undang conciso pero menggolongkan vape sebagai salah satu produk tembakau padat dan cair. Dengan adanya kepastian hukum conciso, tentu hal ini merupaakn berita yang baik bagi industri vape di Indonesia, dan juga sangat membantu para perokok yang ingin berhenti merokok melalui produk rokok elektrik.

Selain memberikan kepastian hukum, UU tesebut jugat membuat serangkaian regulasi yang ditujukan untuk mengatur peredaran produk-produk vape yang dijual dan dikonsumsi di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah hanya orang dewasa yang secara legal bisa membeli dan menggunakan rokok elektrik. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang penting, mengingat vape merupakan produk yang dibuat untuk digunakan orang dewasa, dan bukan anak-anak.

Adanya kepastian hukum dan juga regulasi produk-produk rokok elektrik di Indonesia dalam UU tarsebut juga disambut baik oleh pelaku usaha industri vape, diantaranya adalah Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) dan Asosiasi Ritel Vape Indonesia (ARVINDO). 

APPNINDO menyatakan bahwa dimasukkanya produk vape ke dalam UU tersebut akan mempermudah pelaku industri untuk berinvestasi dan melakukan kegiatan usaha. 

Selain itu, ARVINDO mengapresiasi adanya regulasi vape dalam UU contersebut, dan berkomitmen untuk menindak tegas para pelaku usaha vape yang menjual produk tersebut kepada anak di bawa umur (vuva.co.id, 31/8/2023).

Adanya kepastian hukum dan juga regulasi vape di Indonesia tentu merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat tingginya jumlah perokok aktif di Indonesia, dan juga banyaknya pekerja yang mencari nafkah melalui industri tersebut. 

Dengan adanya kepastian hukum, para perokok di Indonesia bisa memiliki opsi lebih banyak yang dapat membantu mereka untuk berhenti merokok, dan para pelaku usaha juga bisa menjalankan usaha mereka dengan aman.

Diharapkan, dengan adanya kepastian hukum conciso, akan semakin banyak para perokok aktif yang terbantu di Indonesia untuk menghentikan kebiasaan merokoknya dan beralih ke produk lain yang lebih tidak berbahaya. Dengan demikian, kesehatan publicik di Indonesia akan semakin baik.

Publicado originalmente aquí

Remédier au manque de nourriture grâce au marché libre

Legalizar el genio genético es una buena novedad para todo el mundo.

La Unión Europea preparará la legalización del genio genético para la utilización en la agricultura. En un informe fechado en 2021, la Comisión Europea concluyó que la legislación vigente sobre los OGM no se ha adaptado a la edición de genes y que frena el desarrollo de las culturas innovadoras. Los análisis comentan esta decisión a été prise et ce qu'elle signifie pour les agriculteurs et les consommateurs.

Les règles existantes en matière de génie génétique dans l'agriculture remontent à 2001, avec la «directiva OGM» de la Unión Europea. Bien qu'elle ne soit pas totalment interdite, esta legislación a eu pour effet que, dans la pratique, presque aucun OGM (OGM n'est pas un terme scientifique mais, pour les besoins du débat public, c'est celui que nous utiliserons Aquí) n'est cultivé en Europa. De hecho, seuls deux pays, l'Espagne et le Portugal, cultivent du maïs BT, un vieil OGM répulsif pour les insectes.

Cuando el genio genético está disponible, la pregunta que se debe plantear es saber si esta nueva tecnología es la misma que cada una de las utilizadas para crear OGM. La respuesta no es: el genio genético se utiliza para introducir modificaciones en el material genético natural. Contrariamente al OGM, que introduce nuevas configuraciones de material genético generalmente derivadas de otros organismos, el genio genético modifica el material genético existente de manera que se obtengan resultados beneficiosos.

Sin embargo, ce n'est pas l'interpretation que la Cour européenne de Justice a autorisée. En un arresto dictado en 2018, el CJUE estimó que los OGM y las culturas genéticamente modificadas constituyen una sola y algunos elegidos y devaient donc être réglementés de la misma manera. Esto significa que las culturas genéticas modificadas au moyen des technologies CRISPR-Cas9 – una tecnología co-desarrollada por la científica francesa Emmanuelle Charpentier, lauréate du prix Nobel – ne sont toujours pas disponible en Europa, incluso si elles ont été utilisées en toute sécurité aux Etats-Unis, en Canadá y en Brasil.

¿Pourquoi cela es-il importante? Tout d'abord, il convient de s'interroger sur le principe de este règlement. Les scientifiques ont mis au point une technologie dont l'utilisation est sans Danger et qui est souhaitée par les producteurs; il est donc difficile de comprendre en vertu de quel droit les régulateurs empêchent son autorisation.

Además, el genio genético es una tecnología apasionante y necesaria. Permite reducir el uso de recursos como las grasas o el agua, puede resistir los parásitos, lo que reduce las necesidades de pesticidas y puede tener en cuenta las alergias a los consommateurs. Des chercheurs européens ont déjà mis au point du blé et des noix sans gluten qui ne provoquent pas de réactions allergiques chez les personnes allergiques aux noix.

Uno de los tres efectos positivos de esta tecnología, también es la reducción de la utilización de recursos, es la necesidad de utilizar menos tierras para atender la misma cantidad de producción. Très souvent, les défenseurs de l'environnement afirman que ce n'est pas la quantité de nutriture que nuus produisons qui pose problème, mais sa Distribution. Es una razón parcial: Europa no es un problema de alimentación, al igual que África es un problema de disponibilidad y accesibilidad de la alimentación. Esto significa que la población mundial no es necesaria para aumentar, y nosotros también reflejamos la manera de incorporar nuestra producción alimentaria mundial.

La reducción de la superficie de las tierras necesarias para la producción alimentaria tiene otro efecto positivo: el estímulo a la biodiversidad. L'abattage des forêts pour produire de la nutriture a des négatifs évidents sur our écosystème. C'est ainsi que l'humanité a malheureusement menacé surees espèces et que des pays como le Brésil réduisent la taille de la forêt amazonienne pour accroître ses capacités agricoles. Con el desarrollo del genio genético, también tenemos una reducción de las tierras necesarias, lo que significa que nuestros hijos no necesitan utilizar más tierras para alimentar a más personas. Telle est, en sustancia, la característica fascinante del mercado libre: faire plus avec moins et, ce faisant, améliorer le niveau de vie de chacun.

Un título de referencia, los estudiantes de la Universidad de Stanford descubrieron que si practicamos la misma agricultura desde hace 60 años, nos gustaría descongelar una superficie igual a la totalidad de Rusia, así que tres veces la cola de la tierra. Amazonie et quatre fois celle de l'Union européenne, pour e installer des forêts et des habitats naturals et les transformadores en producción agrícola. Además, la agricultura de alto rendimiento permitió eliminar 161 gigatoneladas de dióxido de carbono desde 1961, así como las investigaciones realizadas en Royaume-Uni en Montré que le passe del conjunto de la agricultura actual a la agricultura. La tecnología biológica introduce un aumento de las emisiones de gas con efecto de serre pouvant aller jusqu'à 70%.

Cela montre que les militantes qui s'opositor au génie génétique au motive que notre système agricole était meilleur dans le passé se trompent tout simplement.

La propuesta presentada por la Comisión Europea no es perfecta. Davantage de variétés devraient être mises à disposition et les agriculteurs du secteur bio devraient également avoir aux aux nouvelles técnicas de selección. Esto es algo importante frente al premio en cuentas de Bruselas de las realidades científicas de este siglo.

El plan de Biden para la 'equidad digital' pronto conducirá a que el gobierno microgestione 'casi todos los aspectos' de Internet, advierte el comisionado de la FCC

"Bajo la apariencia de "equidad digital", el presidente Biden ha pedido a la FCC que ejerza un grado de control sobre los servicios e infraestructuras de Internet que nunca antes habíamos visto", dice un comisionado de la FCC al Sun.

La administración Biden pronto podría implementar regulaciones radicales que le darían el control de Internet, advierten los analistas antes de la votación de la Comisión Federal de Comunicaciones del 15 de noviembre sobre las reglas propuestas. 

“Bajo la apariencia de 'equidad digital', el presidente Biden ha pedido a la FCC que ejerza un grado de control sobre los servicios e infraestructura de Internet que nunca antes habíamos visto”, le dice al Sun en un correo electrónico un comisionado de la FCC, Brendan Carr. 

"Dará al Estado administrativo el poder de microgestionar casi todos los aspectos del funcionamiento de Internet", añade. "Este tipo de regulaciones de comando y control sólo harán más difícil la construcción de infraestructura y servicios de Internet y podrían hacer que nuestras redes se parezcan más a las redes lentas con las que tienen que lidiar los consumidores en Europa".

La FCC, controlada por los demócratas, dice que las nuevas reglas "prevendrían la discriminación en el acceso a los servicios de banda ancha basada en el nivel de ingresos, raza, etnia, color, religión y origen nacional".

"Reconocemos que el objetivo final de este procedimiento es facilitar el acceso igualitario a la banda ancha tal como dice la ley", dijo la presidenta de la FCC, Jessica Rosenworcel, dice

Leer el texto completo aquí

Un renacimiento nuclear es el mejor camino a seguir

Durante décadas, los frutos de la revolución del fracking, además de nuestro nuevo estatus como líder mundial principal exportador neto del gas natural, demostró que los consumidores estadounidenses nadaban en abundancia de energía.

Pero a medida que los efectos pandémicos de la escasez en la cadena de suministro, la guerra en Ucrania y el mayor gasto público dieron paso a aumentos de la inflación, de repente todas las miradas se centraron en las facturas de servicios públicos. En 2021, los estadounidenses gastaron como mucho como 25% más en energía que el año anterior.

Para agravar ese problema para los consumidores de energía están las promesas políticas destinadas a la “electrificación de todo”, incluidos subsidios masivos para vehículos eléctricos, bombas de calor domésticas y paneles solares en busca de un futuro carbono neutral.

Ahora las políticas estatales están acelerando eso, ya que al menos 22 estados, además de Puerto Rico y Washington, DC, se han comprometido a generar electricidad libre de carbono 100% o emisiones de carbono “netas cero” para 2050.

Pero en lugar de subsidiar nuestro camino hacia objetivos políticos climáticos con paneles solares, baterías y turbinas eólicas de fabricación extranjera, ¿qué pasaría si miráramos a la nueva generación de una tecnología segura que ya es la fuente de electricidad más densa y libre de carbono del mundo? ? ¿Qué pasa si es hora de defender una vez más la energía nuclear?

Los inversores en energía, los clientes e incluso los políticos ecologistas deberían tener todos los motivos para amar el átomo. La energía nuclear es segura, limpia y confiable durante décadas. No produce emisiones y genera decenas de miles de buenos empleos durante generaciones. Hay una razón por la que las plantas nucleares tienen estacionamientos más grandes que las turbinas eólicas o los parques solares.

Al menos tres estados (Illinois, New Hampshire y Carolina del Sur) generan actualmente más de 50% de sus necesidades de electricidad a partir de energía nuclear, lo que los convierte efectivamente en carbono neutral y un centro ideal para la industria de uso intensivo de energía. 

Incluso el guerrero verde Gobernador de California, Gavin Newson, se vio obligado a repensar el cierre de Diablo Canyon frente a objetivos climáticos agresivos, dando un salvavidas a la única planta nuclear del estado. Otros estados están reconsiderando la energía nuclear a medida que sus licencias se acercan a su fecha de vencimiento.

Dicho esto, la energía nuclear tradicional enfrenta varios obstáculos. Se invocan preocupaciones ambientales y radiológicas, aunque nuevas innovaciones, como los combustibles tolerantes a accidentes, han reducido el riesgo. Las restricciones regulatorias y los permisos pueden retrasar las aprobaciones y renovaciones hasta por una década. Lo más importante es que los proyectos nucleares requieren mucha mano de obra y capital, lo que pone a prueba los límites financieros de los inversores privados y las empresas de servicios públicos que recurren a subsidios para mantenerse a flote.

Pero la era de las brutalistas torres de enfriamiento de hormigón y el control estatal altamente centralizado como únicas características de la energía nuclear puede que ya haya terminado.

La tecnología de energía nuclear de próxima generación (como los pequeños reactores modulares) puede compartir la división del átomo con su predecesora, pero su forma moderna es todo lo contrario.

Los SMR pueden ser tan pequeños como un SUV pero aun así producir muchos megavatios de energía. Pueden suministrar energía a la red eléctrica o a la industria de manera más rápida y confiable y, en algunos casos, el combustible gastado puede reutilizarse. Los SMR podrían convertirse en la principal fuente de energía libre de carbono para una gran instalación de fabricación que emplearía a miles de personas y mantendría la carga fuera de las redes residenciales. 

Por ejemplo, el desarrollador de SMR X-energy es colaborando con el gigante químico Dow para instalar una planta nuclear SMR avanzada en el sitio de fabricación de Dow en Seadrift, Texas. El proyecto Dow se centra en proporcionar a su sitio Seadrift energía y vapor industrial seguros, confiables y con cero emisiones de carbono, ya que los activos de energía y vapor existentes están cerca de su fin de vida útil.

El proyecto depende de la entrega de varias revisiones y aprobaciones, ya que empresas como Dow deben seguir plazos estrictos para garantizar el funcionamiento continuo de su sitio. X-energy inició por primera vez las actividades previas a la solicitud de la NRC para su reactor Xe-100 en 2018.

Sólo un pequeño diseño de reactor modular, fabricado por NuScale, con sede en Oregón, ha sido certificado por la Comisión Nacional Reguladora, que publicó su reglamentación final después de un proceso de solicitud de una década.

Si queremos suministrar energía a escala y a bajo costo para millones de consumidores de energía, ese ritmo tendrá que acelerarse a una velocidad vertiginosa.

Hay soluciones sencillas que podrían ahorrarnos tiempo. Cada estado con una licencia nuclear a punto de expirar debería considerar apoyar la extensión de la vida útil de las plantas. Los Estados con estatutos antinucleares deberían repensar sus implicaciones. Siempre que sea posible, los estados deberían incluir la tecnología nuclear y de fusión dentro de las definiciones de “energía limpia”, como Carolina del Norte. parece preparado hacer. La NRC debe continuar con sus firmes esfuerzos por reducir las cargas regulatorias para acelerar las revisiones y permisos para nuevas centrales nucleares, manteniendo al mismo tiempo un enfoque láser en la seguridad.

En lugar de cerrar plantas de carbón sin alternativas, los estados deberían permitir rápidamente que los proponentes de proyectos experimentados conviertan esas instalaciones en estaciones nucleares. El Departamento de Energía de EE.UU. estimados que más de 80% de las plantas de carbón existentes en el país podrían convertirse de manera económica en SMR o reactores nucleares avanzados, ahorrando hasta 35% en costos de infraestructura y al mismo tiempo reduciendo las emisiones durante décadas. Ya existen hojas de ruta para convertir los empleos de las plantas de carbón en empleos nucleares de próxima generación.

Esto representaría miles de millones en ahorros para los clientes de energía, cientos de miles de empleos bien remunerados y oportunidades ilimitadas para que los innovadores desencadenen la próxima generación de tecnología de energía nuclear tanto a nivel nacional como como exportación global.

Los políticos y reguladores han creado el paradigma de un mundo neto cero. La energía nuclear permitirá eso y proporcionará prosperidad, resiliencia y sostenibilidad que nos mantendrán energéticamente independientes. 

Es hora de que reconozcamos el papel vital de la energía nuclear y la defendamos como una fuerza para el bien en nuestro mundo.

Publicado originalmente aquí

La “colaboración” de IA de Biden con Europa perjudicará la innovación

La semana pasada, el presidente Joe Biden dio a conocer una orden ejecutiva eso marca el comienzo de un camino regulatorio estadounidense para la inteligencia artificial. La orden es un preludio a la formación de un Instituto de Seguridad de IA de EE. UU., ubicado dentro del Departamento de Comercio.anunciado por la vicepresidenta Kamala Harris en el Reino Unido la semana pasada. Este período de “colaboración cercana“Con el Reino Unido y la UE es una amenaza considerable para décadas de liderazgo estadounidense en tecnología.

En lugar de adoptar las características tradicionales de la innovación estadounidense, la administración Biden parece decidida a importar algunos de los peores aspectos del oneroso régimen regulatorio europeo, impulsado por el miedo. Si continúa el enfoque actual, la innovación en IA será sofocada, excesivamente vigilada y tratada como culpable hasta que se demuestre su inocencia. 

A cada lado del Atlántico se están configurando dos mundos distintos en cuanto al futuro de la inteligencia artificial y sus beneficios.

El primero es uno con competencia de vanguardia entre grandes desarrolladores de modelos de lenguaje, codificadores de software de código abierto e inversores que crean las mejores aplicaciones prácticas para la IA. Esto incluye nuevas empresas ambiciosas, grandes empresas tecnológicas heredadas y todas las grandes corporaciones globales que buscan una ventaja. Como cualquiera puede adivinar, un alto porcentaje de los primeros en esta categoría se encuentran en los Estados Unidos, con cerca de 5.000 startups de IA y $249 mil millones en la inversión privada. Este espacio es esperanzador, enérgico y con visión de futuro.

El segundo mundo, que languidece detrás del primero, se caracteriza por la burocracia, los intensos procesos de aprobación y los permisos. La mentalidad predominante en torno a la IA es la mitigación de amenazas y la fijación en los peores escenarios de los que se debe salvar a los consumidores. 

Europa es ese segundo mundo, guiado por la mano nerviosa de su Comisario de Mercado Interior, thierry bretón, un enemigo clave de las empresas tecnológicas estadounidenses. Bretón es el rostro de dos amplias leyes digitales de la UEque imponen cargas adicionales a las empresas de tecnología que esperan llegar a los consumidores europeos. 

En cuanto a la IA, el enfoque claramente europeo de Breton se basa enteramente en el riesgo y el cumplimiento. Requiere que los productos de IA generativa, como imágenes o vídeos, están plagados de etiquetas y las aplicaciones específicas deben someterse a un riguroso proceso de registro para determinar si el riesgo es inaceptable, alto, limitado o mínimo.

Este proceso resultará restrictivo para una industria de la IA que cambia constantemente y garantizará que los titulares de la tecnología tengan una ventaja de cumplimiento. Los reguladores de la UE están acostumbrados a tratar con empresas como Meta y Google y han sentado algún precedente para subordinar a estas empresas estadounidenses de alto vuelo. 

Es un sistema complicado que los burócratas de la UE están felices de defender. Adoptan reglas onerosas incluso antes de que existan las industrias, con la esperanza de mantener un cierto status quo. Como resultado, Europa va muy por detrás de la inversión y la innovación que tienen lugar en Estados Unidos e incluso China. 

En la actualidad, Estados Unidos alberga una parte importante de la industria de la IA, ya sea Meta y el gran modelo de lenguaje de código abierto de Microsoft conocido como LLAMA, OpenAI Chat-GPT y Productos DALL-E, así como Midjourney y Stable Diffusion. Esto no es una casualidad ni un error en el orden internacional de la innovación tecnológica. Estados Unidos tiene un espíritu específico en torno a la asunción de riesgos empresariales y su enfoque regulatorio ha sido históricamente reactivo.

Si bien el presidente Biden podría haber tomado esto como una señal de que se necesitaba un toque ligero, en cambio ha tomado la ruta europea de “mando y control”, una manera que puede resultar aún más amplia.

Por ejemplo, la orden ejecutiva de Biden invoca la Ley de producción de defensa, una ley en tiempos de guerra diseñada para ayudar a reforzar el frente interno estadounidense frente a graves amenazas externas. ¿La IA ya está clasificada como una amenaza?

Utilizando la DPA, Biden requiere que todas las empresas que crean modelos de IA deben "notificar al gobierno federal cuando entrenen el modelo y deben compartir los resultados de todas las pruebas de seguridad del equipo rojo". Al igual que el sistema de riesgos europeo, esto significa que las empresas tendrán que actualizar y cumplir constantemente con las demandas de los reguladores para garantizar la seguridad.

Más que aumentar los costos de cumplimiento, esto efectivamente bloquearía a muchas empresas emergentes que no tendrían los recursos para informar cómo utilizan los modelos. Empresas más grandes y más cooperativas se lanzarían a comprarlos, lo cual puede ser el punto.

Andrew Ng, cofundador del primer proyecto de inteligencia artificial de Google, dijo recientemente Según el Australian Financial Review, muchas empresas existentes de IA están “creando miedo a que la IA conduzca a la extinción humana” para dominar el mercado al ordenar la regulación para mantener alejados a los competidores. Biden parece haber creído esa línea.

Otro aspecto que amenaza el desarrollo existente es que todas las empresas que crean modelos deben informar sus “propiedad y posesión.” Considerando que LLAMA de Meta, el modelo más grande producido hasta ahora está escrito como software de código abierto, es difícil ver cómo esto podría implementarse. Esto pone en peligro la naturaleza de código abierto de gran parte del ecosistema inicial de IA.

¿Es algo de esto realmente necesario? Singapur, que tiene una industria de IA incipiente pero en crecimiento, ha optado por un enfoque de no intervención para garantizar que los innovadores creen valor primero. En los primeros días de Silicon Valley, este fue el mantra que convirtió el Área de la Bahía en un faro global para la innovación tecnológica. 

Este impulso por regular es comprensible y sigue la ideología de Biden. Pero si Washington adopta el enfoque de Bruselas, como parece estar haciendo ahora, pondrá en riesgo la innovación, la competencia y los cientos de miles de millones en inversiones existentes en IA. Y podría ser precisamente lo que quieren los grandes actores actuales.

El Congreso debería intensificar y rechazar el enfoque de “teléfono y bolígrafo” de Biden para regular una industria en crecimiento. 

Para garantizar el liderazgo estadounidense en materia de IA, debemos abrazar lo que hace que Estados Unidos sea único para los innovadores, exploradores y soñadores del mundo: un entorno de asunción de riesgos basado en la libertad de expresión y la creatividad que ha generado riqueza y plusvalía incalculables para los consumidores. Seguir el ejemplo de los superreguladores y pesimistas tecnológicos europeos es un riesgo que no podemos permitirnos.

Publicado originalmente aquí

Vuelve al comienzo