fbpx

Redução de Danos

Rokok Elektrik e Miskonsepsinya

Rokok elektrik atau vape saat ini merupakan salah satu produk yang menjadi bagian keseharian yang tidak bisa dilepaskan dari jutaan orang di seluruh dunia, termasuk juga tentunya di Indonesia. Di berbagai tempat, khususnya di wilayah perkotaan, kita bisa dengan mudah menemukan berbagai pengguna vape, dan juga berbagai pertokoan yang menjual produk-produk rokok elektrik yang sangat beragam.

Semakin banyaknya konsumen yang memilih untuk mengkonsumsi vape ou rokok elektrik ini tentu disebabkan oleh berbagai hal. Setiap orang tentu memiliki alasan yang berbeda-beda mengenai mengapa mereka menggunakan vape, mulai dari harganya yang secara umum lebih murah dibandingkan dengan rokok konvensional, pilihan rasa yang lebih beragam, dan juga untuk membantu mereka mengurangi konsumsi rokok konvensional yang berabagaibul, yang birabaaibulkan penyakit kronis.

Di sisi lain, ada juga sebagian kalangan yang memiliki sikap kritis dalam menanggapi semakin meningkatnya pengguna vape atau rokok elektrik yang ada di Indonesia. Mereka berpandangan bahwa vape merupakan produk yang sangat berbahaya, sama seperti rokok konvensional yang dibakar.

Padahal, sudah ada laporan yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga kesehatan internacional yang menyatakan bahwa, vape ou rokok elektrik merupakan produk yang jauh lebih aman bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar. Salah satu dari lembaga kesehatan yang telah mengeluarkan laporan tersebut adalah lembaga kesehatan publik asal Britania Raya, Public Health England (PHE). PHE dalam laporannya menyatakan bahwa vape atau rokok merupakan produk yang 95% jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional (theguardian.com, 28/12/2018).

Oleh karena itu, untuk melihat fenomena tersebut secara lebih dalam, beberapa waktu lalu, lembaga advokasi konsumen konsumen international, Consumer Choice Center (CCC), melakukan riset mengenai persepsi masyarakat terkait dengan kebijakan harmduction product tembakau, khususnya rokok konvensional yang dibakar. Penelitian itu sendiri dilakukan di dua negara Eropa, yakni Jerman dan Prancis.

Meskipun sudah ada laporan yang dikeluarkan oleh lembaga kesehatan public dari berbagai negara bahwa vape ou rokok elektrik jauh lebih tidak berbahaya dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar, tetapi masih banyak miskonsepsi yang diyakini oleh banyak orang. Hal ini bisa dilihat dari hasil laporan yang dilakukan oleh CCC.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh CCC misalnya, di Jerman, hanya ada 3 de 15 dokter yang pernah mendengar dan mengetahui istilah redução de danos untuk mengurangi humidak buruk dari rokok. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa, sebagian besar dokter di Jerman tidak menganggap bahwa produk-produk vape atau rokok elektrik sebagai alat yang bisa digunakan untuk programa de redução de danos (consumerchoicecenter.org, 2022).

Sebagai catatan, redução de danos sendiri merupakan serangkaian kebijakan kesehatan public yang dirancang dengan tujuan untuk mengurangi humidak negatif dari perilaku sosial tertentu. Hal ini mencakup berbagai perilaku, seperti konsumsi rokok, kegiatan seksual yang beresiko, dan lain sebagainya.

Kembali ke penelitian yang dilakukan oleh CCC, hal ini cukup berbeda dari hasil penelitian yang ada di Prancis. Di negara tempat Menara Eiffel tersebut, sebagian besar dokter pernah mendengar e mengetahui istilah redução de danos, e menganggap bahwa vape ou rokok elektrik bisa digunakan sebagai alat redução de danos.

Hasil penelitian lainna, ditembukan bahwa 33% perokok di Prancis e 43% perokok di Jerman menganggap bahwa rokok memiliki bahaya yang sama ou bahkan lebih berbahaya dari rokok konvensional yang dibakar. Selain itu 69% perokok di Prancis dan 74% perokok di Jerman menganggap nikotin dapat menyebabkan kanker.

Hal ini adalah pandangan yang sangat keliru, karena nikotin dalam rokok merupakan kandungan yang menyebabkan ketagihan, namun nikotin tidak menyebabkan kanker. Ada berbagai terapi berbasis nikotin yang aman yang disarankan oleh dokter untuk para perokok yang ingin berhenti merokok (cancerresearchuk.org, 24/3/2021),

Adanya miskonsepsi tersebut juga menimbulkan yang negatif dan membuat para perokok di kedua negara tersebut menjadi lebih sulit untuk menghilangkan kebiasaannya yang sangat berbahaya tersebut. Berdasarkan riset yang dilakukan CCC misalnya, 29% perokok di Prancis e 45% perokok di Jerman tidak pernah mendapatkan masukan dari dokter tentang bagaimana langkah efektif yang bisa mereka lakukan untuk berhenti merokok.

Dari penelitian CCC di atas, meskipun dilakukan di dua negara Eropa, ada hal yang bisa ditarik dan memiliki relevansi dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Di Indonésia sendiri, miskonsepsi mengenai rokok elektrik merupakan sesuatu yang sangat umum. Beberapa waktu lalu misalnya, tidak sedikit pekerja medis misalnya yang mengadvokasi agar pemerintah melarang seluruh produk vape yang ada di Indonesia (cnnindonesia.com, 24/9/2019).

Sebagai penutup, adanya miskonsepsi mengenai produk-produk vape dan juga kegunannya sebagai alat harm redução bagi para perokok tentu akan sangat merugikan publik, khususnya mereka yang sudah kecanduan dengan rokok dan memiliki keinginan untuk berhenti. Hal ini semakin berbahaya terutama di negara dengan tingkat perokok yang sangat tinggi seperti di Indonesia. Para isso, adanya kampanye mengenai pentingnya produk-produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik para redução de danos merupakan sesuatu yang sangat penting, agar semakin banyak orang-orang yang bisa terbantu untuk mereka berhenti merokok.

Publicado originalmente aqui

CCC apóia o Ministério da Saúde para realizar uma reavaliação completa da Lei do Tabaco

O Centro de Escolha do Consumidor (CCC), que representa os consumidores em mais de 100 países em todo o mundo, elogiou o recém-nomeado Ministro da Saúde, Dr. Zaliha Mustafa, por tomar a medida certa para reavaliar a Lei do Tabaco.

Recentemente, o Dr. Zaliha disse que a proposta de lei de controle de tabaco e produtos para fumar 2022 será revisada e reavaliada antes que uma decisão seja tomada. O MP PKR-Pakatan Harapan (PH) para Sekijang está certo ao mencionar que a implementação de qualquer política chave deve ser buscada gradualmente ou passo a passo e não drasticamente.

Concordando com a decisão do Dr. Zaliha, Tarmizi Anuwar, associado do CCC Malaysia, disse que algumas das medidas propostas, que incluem a política Generational End Game (GEG), são muito extremas e criaram muita complexidade.

Ele também destacou a necessidade de diferenciar os produtos do tabaco do vape, dado o potencial deste último como produto menos nocivo para ajudar a reduzir o número de fumantes de cigarro no país.

Leia o texto completo aqui

Desinformação generalizada sobre vaping prejudica a saúde pública

Parar de fumar é uma das coisas mais difíceis de se fazer, como muitos ex-fumantes e atuais sabem por experiência pessoal dolorosa. A saúde pública e os políticos devem fazer melhor para ajudar os fumantes a parar de fumar. 700.000 mortes por ano na UE devem ser um incentivo suficiente para nos fazer repensar nossa abordagem atual.

Para ajudar efetivamente os fumantes a parar de vez, três condições devem ser atendidas:

Em primeiro lugar, os fumantes devem poder escolher entre tantas opções quanto possível para descobrir qual método de cessação do tabagismo funciona melhor para eles. As pessoas são diferentes e, portanto, devem ser disponibilizadas e acessíveis formas diferentes de deixar de fumar. Para muito poucas pessoas (menos de 4%), desistir sem ajuda funciona. Para alguns, a terapia de reposição de nicotina (como gomas ou adesivos de nicotina) funciona e, para muitas pessoas, novas alternativas de nicotina os ajudam a parar de fumar de uma vez por todas. Esses produtos variam de vaping e produtos que não queimam a snus ou bolsas de nicotina. O que todas essas novas formas têm em comum é que elas separam o consumo de nicotina da combustão do tabaco (que produz a grande maioria da toxicidade do fumo), tornando-as muito menos prejudiciais do que fumar cigarros. Cada um é diferente, cada um funcionando melhor para cada pessoa diferente.

62% dos fumantes na França e 53% na Alemanha acreditam que as políticas antifumo ignoram o quão difícil é parar de fumar. Claramente, os fumantes não estão satisfeitos com os métodos tradicionais de cessação e, portanto, procuram o vaping como meio de parar de fumar.

Em segundo lugar, precisamos de um marco regulatório moderno e aberto para atender a essas novas alternativas. Esses novos produtos não são o mesmo que fumar. Portanto, não devem ser pintados com o mesmo pincel regulador. Em vez disso, precisamos de regulamentação baseada no risco. Vaping é 95% menos prejudicial do que fumar e, portanto, não deve ser tratado da mesma maneira. A redução de danos deve se tornar uma peça central das políticas antifumo, como no campo das drogas farmacêuticas. A redução de danos segue estratégias e soluções práticas para reduzir as consequências nocivas associadas ao uso de certas substâncias, em vez de uma abordagem irrealista de 'simplesmente desistir'. Incentivar os fumantes que não conseguem ou não querem parar de fumar a mudar para o vaping é o melhor exemplo de redução de danos.

Em terceiro lugar, os fumantes devem ter informações precisas sobre os riscos potenciais de diferentes produtos para tomar decisões. O mesmo se aplica aos profissionais médicos que trabalham com esses fumantes. Eles precisam conhecer os fatos para fazer uma diferença duradoura para os fumantes.

Leia o texto completo aqui

Liberte o potencial do vaping: a falta de conhecimento sobre vaping impede a cessação do tabagismo

O Consumer Choice Center, juntamente com a World Vapers' Alliance, apresentou recentemente um novo pesquisa realizado com 30 médicos de clínica geral e mais de 800 fumadores na Alemanha e em França – com uma boa notícia inicial: mais de metade dos inquiridos quer deixar de fumar!

A conscientização sobre os efeitos do tabagismo na saúde cresceu exponencialmente nas últimas décadas, levando os formuladores de políticas a criar regras para coibir o uso. No entanto, assim como qualquer vício que traz riscos, medidas proibitivas e rigorosas não deram os resultados desejados.

A terapia padrão de reposição de nicotina (TRN) é reconhecida, observada e coberta pelos sistemas de seguridade social, apesar de apresentar efeitos muito limitados nos esforços de ajudar aqueles que optam por parar de fumar. O vaping apresentou aos consumidores a oportunidade de satisfazer a necessidade de nicotina, ao mesmo tempo em que representa uma fração do dano. Vapor é 95% menos prejudicial do que usar cigarros convencionais, e é simultaneamente o ferramenta de cessação do tabagismo mais bem sucedida.

Sabendo de tudo isso, podemos dizer que vaping é para o uso de nicotina o que o cinto de segurança é para dirigir ou o que o preservativo é para encontros sexuais: embora possa ser mais seguro não usar nicotina, não dirigir carro ou não fazer sexo, é crucial para aplicar a redução de danos. Desde a invenção do primeiro cigarro eletrônico em 2003, o vaping percorreu um longo caminho para oferecer uma escolha aos fumantes que desejam parar, e o fez com muito menos riscos envolvidos do que os cigarros.

Infelizmente, às vezes é difícil encontrar relatórios precisos sobre vaping. Muitos leitores podem se lembrar do aumento nos casos de EVALI (cigarro eletrônico, ou produto vaping, uso de lesão pulmonar associada) nos Estados Unidos em 2019, que foi atribuído ao vaping. Até hoje, esses casos desincentivaram os fumantes a mudar, embora Foi mostradoque os usuários afetados estavam consumindo e-líquidos contendo THC do mercado ilícito. Sem o conhecimento dos compradores da época, o acetato de vitamina E havia sido adicionado a esses líquidos, com consequências fatais para quem os consumia. Tudo o que a história realmente fez foi sublinhar a importância de um mercado regulamentado e legal para produtos vaping, o que evita deixar o mercado para contrabandistas.

Ao defender a redução de danos, organizações como a nossa não se deparam apenas com histórias assustadoras da mídia, mas também com equívocos generalizados. A pesquisa CCC/WVA mostrou que 33% de fumantes na França e 43% na Alemanha acreditam que o vaping é tão ou mais prejudicial do que os cigarros. As crenças errôneas sobre a nicotina vão ainda mais longe: 69% de fumantes na França e 74% de fumantes na Alemanha acreditam que a nicotina causa câncer, o que está longe das evidências científicas. Os especialistas em nicotina sabem disso há muito tempo, mas a informação não chegou ao público, aos políticos ou aos médicos de clínica geral.

Os médicos são agentes de mudança essenciais quando se trata dos hábitos pouco saudáveis de seus pacientes. No entanto, nossa pesquisa mostrou que muitos médicos compartilham visões mal informadas sobre a nicotina, ou nem sequer estão cientes do conceito de redução de danos. Como resultado, a maioria dos médicos não recomenda vaping como uma ferramenta para parar de fumar. Suas opiniões sobre a nicotina (eles muitas vezes acreditam que causa danos aos pulmões) também são fundamentalmente incoerentes: se a nicotina causasse danos aos pulmões, por que os médicos recomendariam NRTs, todos contendo nicotina?

A redução dos danos do tabaco tem um longo caminho a percorrer antes de atingir as metas ambiciosas de cessação do tabagismo em larga escala. A informação é, portanto, crucial: a demonização da ferramenta de redução de danos mais bem-sucedida precisa parar, assim como as regras e regulamentos punitivos. O vaping deve estar no centro de quaisquer mudanças políticas futuras projetadas para conter o consumo de tabaco, em vez de ser alvo de sobretaxação.

Publicado originalmente aqui

O estudo revela que 62% de fumantes na França e 53% na Alemanha acreditam que as políticas antifumo ignoram o quão difícil é parar de fumar

O estudo encomendado pelo Consumer Choice Center e escrito em cooperação com a World Vapers' Alliance revela vários equívocos sobre nicotina e redução de danos entre profissionais de saúde e consumidores.

O inquérito sobre Percepções sobre redução de danos do tabaco e nicotina na França e na Alemanha foi realizado para obter uma maior visão sobre o impacto das percepções errôneas sobre vaping entre clínicos gerais, fumantes e formuladores de políticas, na futura política de redução de danos na Europa. A pesquisa apresenta 30 entrevistas com clínicos gerais e uma pesquisa quantitativa com 862 fumantes franceses e alemães.

Principais conclusões:

  • Apenas três em cada 15 médicos na Alemanha dizem conhecer o termo redução de danos.
  • 33% de fumantes na França e 43% na Alemanha acreditam erroneamente que o vaping é tão prejudicial ou mais prejudicial do que os cigarros.
  • 69% de fumantes na França e 74% de fumantes na Alemanha acreditam erroneamente que a nicotina causa câncer.
  • 62% dos fumantes na França e 53% na Alemanha acreditam que as políticas antifumo ignoram o quão difícil é parar de fumar.

Leia o texto completo aqui

Pentingnya Meningkatkan Penelitian Produk-Produk Tembakau Alternatif di Dalam Negeri

Vape atau rokok elektrik saat ini merupakan produk yang kerap menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan. Bagi sebagian kalangan, vape atau rokok elektrik merupakan produk yang sangat berbahaya bagi kesehatan, sehingga harus dilarang secara penuh, atau setidaknya diregulasi secara sangat ketat.

Sementara itu, bagi kalangan lain, vape atau rokok elektrik dianggap sebagai produk yang sangat penting, khususnya untuk membantu para perokok untuk berhenti merokok. Untuk itu, bila pemerintah melarang atau meregulasi produk-produk vape secara sangat ketat, maka kebijakan tersebut merupakan sesuatu yang tidak tepat, kerena hal tersebut akan membatasi kesempatan para perokok untuk mendapatkan produk alternatf lain yang dapat membantu menghilangkan kebiasaan merokoknya.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa, fenomena penggunaan produk-produk rokok elektrik merupakan hal yang kian meningkat dari waktu ke waktu, khususnya bagi mereka yang tinggal di masyarakat urbano. Pada tahun 2017, diperkirakan ada sekitar 900 ribu pengguna vape na Indonésia. Dalam jangka waktu 3 tahun, tepatnya tahun 2020, angka tersebut meningkat pesat menjadi 2,2 juta pengguna vape di negara kita (medcom.id, 22/01/2021).

Fenomena semakin meningkatnya pengguna vape ini juga bukan merupakan hal tarjadi da Indonésia saja, tetapi juga di dunia seca keseluruhan. Mais informações sobre Global Harm Reduction 2021 misalnya, seca total de 82 juta pengguna vape di seluruh dunia. Angka ini meningkat dari sebelumnya sekitar 68 juta pengguna vape aktif di dunia pada tahun 2020 (tribunnews.com, 22/06/2022).

Untuk itu, tentunya kerangka kebijakan yang tepat dalam menghadapi fenomena ini merupakan sesuatu yang sangat penting yang harus dilakukan oleh para pembuat kebijakan. Tanpa adanya kebijakan yang tepat, tentunya konsumen menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan, selain tentunya para pekerja yang mendapatkan penghasilannya dari industri tersebut.

Até mampu merancang kebijakan yang tepat, salah satu langkah utama yang sanga penting até dilakukan tentunya adalah dengan melakukan riset dan penelitian terlebih dahulu terkait dengan produk-produk rokok elektrik, dan juga produk-produk tembakau alternatif lainnya secara lebih luas. Tanpa adanya penelitian yang memadai, tentunya akan sangat sulit bagi kita untuk bisa menemukan kebijakan yang tepat dalam mespon fenomena semakin tingginya pengguna vape na Indonésia.

Di berbagai negara lain, penelitian terahdap produk-produk rokok elektrik atau vape merupakan sesuatu yang sudah sangat banyak dilakukan, salah satunya adalah Britania Raya. Pada tahun 2015, lembaga kesehatan publik asal Inggris, Public Health England (PHE), mengeluarkan laporan yang menunjukkan bahwa, vape atau rokok elektrik 95% jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar (www.gov.uk, 19/08/ 2015).

Hasil dari penelitian tersebut tentunya memiliki dampak yang sangat significa terhadap para pembuat kebijakan di Britania Raya para menyusun kebijakan terkait vape dan produk tembakau alternatif lainnya secara tepat. Britania Raya sendiri akhirnya menjadi salah satu negara pelopor yang menjadikan produk tersebut sebagai produk alternatif untuk membantu para perokok untuk berhentu merokok (insidesources.com, 03/05/2021).

Negara kita tentu bisa belajar dari langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris. Riset dan penelitian mengenai vape dan produk tembakau alternatif lainnya masih cukup kurang di negara kita, yang membuat masih banyaknya berbagai kabar misinformasi terkait dengan produk-produk tersebut, seperti vape atau rokok elektrik memiliki kandungan yang sama rokoyanya atau ionalbahkan lebakar .

Hal ini juga diakui oleh beberapa pihak terkait da Indonésia, salah satuya adalah Asosiasi Vapers Indonesia (AVI). AVI menyatakan bahwa, industri vape e produk-produk tembakau alternatif lainnya merupakan industri yang saat ini seang mengalami perkembangan di Indonésia, dan untuk itu dibutuhkan penelitian yang lebih besar terkait dengan produk-produk tersebut (tribunnews.com, 22/06/2022).

Melalui penelitian yang memadai, tentu hal tersebut dapat membantu para pengambil kebijakan untuk mengeluarkan kbeijakan terkait vape dan produk tembakau alternatif lainnya yang tepat, agar tidak merugikan para konsumen dan juga para pekerja. Jangan sampai, regular dan juga auran yang diberlakukan etrsebut justru menjadi kontraproduktif, dan justru merugikan para konsumen karena membuat mereka lebih sulit untuk mendapatkan produk alternatif tembakau yang memiliki resiko jauh lebih rendah.

Sebagai penutup, adanya penelitian yang memadai terhadap rokok elektrik, dan juga produk-produk tembakau alternatif lainnya, merupakan hal yang sangat penting, agar para pembuat kebijakan bisa menyusun kerangka kebijakan yang tepat terkait dengan produk-produk tersebut. Dengan demikian, diharapkan para pembuat kebijakan dapat menyusun kebijakan yang tepat, yang dapat membantu jutaan para perokok da Indonésia para menghentikan kebiasaan merokoknya yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Publicado originalmente aqui

A redução de danos dá uma reviravolta no vaping

Autoridades de saúde pública e pessoas com balanço significativo na definição de políticas de saúde foram felizes no mês passado, quando a Food and Drug Administration negou a capacidade da Juul Labs de continuar vendendo seu dispositivo vaping.

Entregue como um Ordem de negação de marketing, a decisão força postos de gasolina, varejistas e lojas de vape a retirar os dispositivos Juul das prateleiras, privando os consumidores de sua capacidade de comprar esses produtos por meios legais.

Embora a empresa tenha conquistado um estadia temporária pelo Tribunal Distrital de Apelações de DC, o recente mandato “nicotina zero” da FDA – incluindo limites de nicotina em cigarros e proibições de produtos de tabaco mentolados – mostra que a administração não recuará em seus planos de reduzir o consumo de nicotina.

Mas isso seria uma verdadeira oportunidade perdida para a saúde pública.

Em vez de proibir produtos de consumo ou estabelecer padrões rigorosos – se não impossíveis – para levar produtos vaping ao mercado, a FDA poderia seguir a retórica do presidente e endossar a redução de danos do tabaco como alternativa.

Por uma questão de saúde pública, a redução de danos é um dos pilares chave da Estratégia Nacional de Controle de Drogas do presidente Biden, como ele revelado no discurso do Estado da União deste ano. Isso inclui educação, apoio, trocas limpas de agulhas e locais de injeção seguros para viciados em drogas como heroína e outras prescrições. Se esse caminho é virtuoso para os viciados em opioides, por que não deveria ser o mesmo para os viciados em nicotina, como praticado em outros lugares?

O Reino Unido não só reconhece os benefícios dos dispositivos vaping, mas os recomenda ativamente em seus próprios materiais e no Serviço Nacional de Saúde, seus sistema estadual de saude, defendendo os 1,2 milhão de vapers britânicos que agora pararam de fumar. Unidades de saúde na Nova Zelândia rotineiramente oferecer produtos vaping aos pacientes.

Se o Reino Unido e a Nova Zelândia podem citar vários estudos e pesquisas de saúde que demonstram que os dispositivos vaping são 95% menos prejudiciais do que fumar, por que essa evidência falha em atravessar o oceano para os reguladores americanos?

Se acreditarmos nas últimas pesquisas Gallup, 6% dos americanos são vapers, a maioria dos quais ganha menos de $40.000 por ano. Isso é o equivalente a 20 milhões de vapers que escolheram um produto menos prejudicial para reprimir seus desejos de nicotina.

O dobro desse número — quase 40 milhões — ainda são fumantes, de acordo com ao CDC. A adoção de uma estratégia de redução de danos poderia facilmente salvar milhões de vidas.

Isso inclui reconhecer os donos de lojas de vape, grupos comunitários apaixonados por vaper e profissionais de controle do tabaco que confiam em toda uma indústria de produtos vaping como uma estratégia mais eficaz para eliminar os danos do tabaco.

Aqueles que aplaudem as ações do governo em Juul apontam para a publicidade anterior da empresa para os jovens e a maior aceitação dos jovens aos dispositivos vaping. São situações preocupantes que merecem consideração cuidadosa, desprezo público e ação, especialmente considerando os efeitos da nicotina no cérebro dos adolescentes.

Dito isto, em vez de mitigar esses danos aos jovens e abordá-los adequadamente, por que somos tão rápidos em abandonar 40 milhões de fumantes da oportunidade de mudar para um produto menos prejudicial para satisfazer seu vício?

A maioria dos vapers gosta de produtos de um mercado competitivo de sistemas de tanques abertos, descartáveis e tanques de cápsulas longe do alcance de qualquer executivo de tabaco. Este ponto é muitas vezes esquecido no debate público sobre vaping.

Se a pandemia nos ensinou alguma coisa sobre as percepções públicas de risco, é que devemos capacitar os indivíduos a tomar decisões para melhorar sua própria situação, em vez de fazê-lo por eles.

Frustrar a capacidade dos consumidores adultos de escolher uma opção mais saudável é negar os benefícios genuínos à saúde que vêm com a adoção da redução de danos.

Temos leis por um motivo, e elas devem ser aplicadas para manter os dispositivos vape longe das mãos dos jovens. A educação e a forte supervisão dos pais fariam maravilhas para manter uma geração longe do vício.

Mas abandonar completamente a perspectiva de uma sociedade sem fumo seria uma loucura, e é hora de nossos funcionários de saúde pública admitirem isso.

Publicado originalmente aqui

A repressão Juul da FDA é o mais recente golpe na guerra irracional contra a nicotina

Na semana passada, a Food and Drug Administration proferiu uma decisão que afeta milhões de consumidores: um ordem de negação de marketing para a Juul Labs, fabricante do popular dispositivo vaping Juul baseado em pod.

É melhor resumido como uma proibição imediata dos produtos Juul.

Isso força postos de gasolina, lojas de conveniência, lojas de vape e outros estabelecimentos que estocam esses dispositivos e suas cápsulas com sabor a parar imediatamente de vendê-los aos clientes que os desejam.

Agora, as ações do FDA foram temporariamente interrompido pelo Tribunal de Apelações de DC, dando à empresa tempo adicional para discutir seu caso no sistema judicial.

Embora a ordem judicial seja um suspiro fugaz de alívio para os usuários desses produtos, ela marca apenas a mais recente causalidade na guerra irracional do estabelecimento de saúde pública contra a nicotina e os produtos de nicotina. E um sinal de que ainda mais negações continuarão a reduzir o acesso dos consumidores a alternativas à nicotina, produtos conhecidos por serem muito menos prejudicial do que fumar.

O processo complicado e bizantino que a Juul falhou é conhecido como Aplicação de Produto de Tabaco de Pré-mercado, uma Teste de permissão exigido pela FDA para qualquer empresa que queira vender um novo produto de tabaco (todos os anteriores a 2007 são adquiridos). Como se poderia imaginar, os padrões para este teste são opacos, pouco claros e totalmente arbitrários.

Apenas um punhado de produtos vaping conseguiu aprovar o mandato da FDA de “melhorar a saúde pública” desde 2015, e apenas um não foi fabricado por uma empresa de tabaco. Até o momento, existem dezenas de milhares de dispositivos vaping, líquidos e componentes ainda aguardando seu destino pelo FDA.

Esse último ponto é importante porque o FDA - e as leis aprovadas pelo Congresso - agora reconhecer produtos vaping, mesmo aqueles contendo nicotina sintética em vez de derivada do tabaco, como o tabaco, o que justificou esse processo extenuante.

O que o labirinto burocrático imposto a todas as empresas de vaping familiares e empresas de tabaco nos mostra é que a FDA tem um viés persistente contra o uso do consumidor de vaping de nicotina – e nicotina de forma mais ampla.

Em seu próprio site, a FDA lista os produtos que tem aprovado para parar de fumar, principalmente medicamentos farmacêuticos como Chantix e Zyban, ou adesivos ou gomas de nicotina da Nicorette, distribuídos nos EUA pela gigante farmacêutica GlaxoSmithKline.

O governo do Reino Unido, por outro lado, reconhece os benefícios dos dispositivos vaping e os recomenda ativamente, citando o número de 1,2 milhão de vapers britânicos que já pararam de fumar.

O Reino Unido cita pesquisas científicas disponíveis internacionalmente e endossos de órgãos de saúde como outra razão pela qual os fumantes devem considerar trocar seus cigarros por um vape. A FDA não tem acesso a esses dados? Ou isso faz parte de uma tendência maior?

No mesmo mês em que a FDA proferiu esta decisão, está buscando comentários públicos sobre sua proibições propostas em charutos aromatizados e cigarros mentolados e em breve apresentar uma regra que limita os níveis de nicotina permitidos nos cigarros. Como essas regras irão impactar a relação entre a aplicação da lei e as comunidades minoritárias – que usam produtos de mentol com mais frequência – ainda não foi esclarecido, e nem o risco de aumento dos mercados ilícitos, já é o caso de Massachusetts e Canadá, que têm seu próprio mentol proibições.

Pensar que quando os estados estão procurando legalizar a cannabis para acabar com a guerra às drogas, é desconcertante que estamos começando uma nova guerra às drogas contra a nicotina ao mesmo tempo.

Em tudo isso, a principal suposição, como o site da FDA afirma claramente, é que as pessoas que desejam parar de fumar já têm as respostas, e essas respostas são produtos farmacêuticos ou programas de abstinência de nicotina que receberam o selo de aprovação do governo.

Os milhões de americanos que pararam de fumar por meio de dispositivos vaping comprados em postos de gasolina ou lojas de vape estão correndo um risco que a FDA considera muito perigoso, ou como muitos ativistas de saúde observam “mais perigoso” do que fumar.

Essas alegações se opõem a um ladainha de estudos científicos e artigos que comprovam que o vaping é uma alternativa menos prejudicial ao uso do tabaco.

Por que, então, grupos antitabagismo notáveis, como a Campanha para Crianças Livres do Tabaco, a Associação Pulmonar e outros, seriam tão focado na proibição de produtos vaping?

Os esforços nacionais anti-vaping representam um esforço organizado de grupos ativistas e de controle do tabaco – muitas vezes ligados ao financiamento do bilionário ex-prefeito de Nova York Michael Bloomberg - para tentar eliminar o vaping como uma alternativa de nicotina segura e acessível aos cigarros combustíveis.

Sabemos disso em vários países onde esses grupos ajudaram a impulsionar as proibições de vaping, como México e Filipinas, mas também do $160 da Bloomberg milhões de subsídios às organizações dos EUA para fazer campanha contra o vaping juvenil.

O desvio do tabaco para o foco no vaping, especialmente a “crise do vaping juvenil”, é tanto sobre o dinheiro quanto sobre os números.

De acordo com o CDC, a taxa atual de fumantes nos EUA é apenas 12.5%, abaixo de mais de 20% há não mais de uma década. Alternativas de nicotina, como dispositivos vaping, snus e bolsas, desempenharam um grande papel nisso, assim como tabus culturais mais amplos sobre o tabagismo.

E embora a justificativa para restringir os dispositivos vape seja por causa do uso de jovens, o CDC dados próprios mostra que menos de 0,6% de estudantes do ensino médio usaram um dispositivo Juul mais de uma vez por mês, uma queda considerável em apenas dois anos. Essa tendência de baixa é consistente entre todos os produtos vape.

A confusão vem com a forma como o os dados são tabulados, mostrando a porcentagem de alunos do ensino médio que usam vape e os produtos que usam, muitas vezes levando políticos e ativistas com a impressão de que muito mais jovens tentam vaping do que eles. E isso não inclui aqueles que vaporizam produtos de cannabis, que em pesquisas anteriores mostraram números mais altos do que o vaping de nicotina.

Independentemente desses fatos, o vaping está na mira.

Apesar dos milhões gastos, não há como admitir que adultos responsáveis usem esses produtos em números muito maiores e tenham resultados positivos para a saúde como resultado.

Este último ponto foi, felizmente, retomado por um selecionar grupo de pesquisadores do tabaco que entendem o continuum de risco e elogiam o potencial do vaping para fazer com que os fumantes parem de fumar, incluindo Cliff Douglas, diretor da Rede de Pesquisa do Tabaco da Universidade de Michigan e ex-vice-presidente de controle do tabaco da American Cancer Society.

Se isso fosse uma conversa racional e baseada na ciência e um processo regulatório, esses resultados positivos para a saúde seriam óbvios. Infelizmente, como vimos com a guerra global contra os produtos vaping, esta é mais uma batalha ideológica do que uma missão de saúde pura.

A FDA tem estado muito disposta a jogar este jogo no tribunal da política, e eles devem ser condenados por fazê-lo.

Yaël Ossowski é uma escritora canadense-americana e vice-diretora do Consumer Choice Center.

Taxar o vaping promove o tabagismo. Então, por que Ottawa está fazendo isso?

Regulamentos e impostos vaping pesados não fazem nada além de criar mais fumantes

A Health Canada anunciou na semana passada que as etiquetas de advertência agora serão exigidas em cada cigarro em um maço. Essa estreia global faz parte da meta do Canadá de ter menos de 5% dos canadenses fumando até 2035. É difícil dizer que efeito medidas semelhantes tiveram no passado, mas por qualquer motivo o uso de tabaco no Canadá tem diminuído significativamente nos últimos últimos 15 anos. Dentro 2007, 31 por cento dos canadenses identificados como fumantes regulares. Em 2020, esse número caiu para apenas 11%. Isso é certamente uma boa notícia. Todos sabemos o impacto devastador que fumar pode ter. Aproximadamente 48.000 canadenses morrem a cada ano de doenças relacionadas ao tabaco.

Mas, embora o declínio do tabagismo seja motivo de comemoração, os novos regulamentos vaping de Ottawa podem, na verdade, contrariar a meta de 2035 sem fumo da Health Canada, empurrando alguns ex-fumantes de volta ao fumo.

O vaping, que é o consumo de nicotina sem a combustão de cigarros, é dramaticamente menos prejudicial do que fumar e, portanto, é amplamente considerado uma ferramenta útil de redução de danos para fumantes que tentam parar. Um 2017 estudar de pesquisadores da Universidade da Califórnia descobriram que os dados do censo dos EUA mostraram que o vaping contribuiu para um aumento significativo na cessação do tabagismo. Portanto, recomendou comunicações positivas de saúde pública apoiando o vaping. Essa é a abordagem adotada na Inglaterra, com resultados positivos. Depois que a Public Health England considerou o vaping 95% menos prejudicial do que fumar, o Escritório de Saúde do Reino Unido decidiu para promover o vaping para fumantes adultos como parte do próprio plano do país de se livrar do fumo até 2035. Ele até criou um programa “swap to stop” no qual os fumantes podem trocar seus cigarros por dispositivos vaping gratuitos.

Infelizmente, a abordagem do Canadá ao vaping não abrange a redução de danos da mesma forma que o Reino Unido. No que diz respeito aos narcóticos e outras drogas, a redução de danos está na ordem do dia em Ottawa. Mas quando se trata de produtos de tabaco, por algum motivo, a erradicação ainda é o objetivo. Assim, Ottawa já procurou banir todos os sabores de vape, exceto tabaco e menta / mentol – embora quase metade dos vapers canadenses usem sabores como seu método preferido para deixar o fumo para trás, e por boas razões. Um longitudinal nacionalmente representativo estudar de mais de 17.000 americanos mostraram que os adultos que usavam produtos vaping com sabor eram 2,3 vezes mais propensos a parar de fumar quando comparados aos vapers que consumiam produtos vaping com sabor de tabaco. Por que não é difícil de entender. Se você está tentando parar de fumar, limitar-se a produtos vaping com gosto de tabaco não é muito útil.

Mas Ottawa não visa apenas os sabores vape. Agora também está aumentando a tributação. O novo imposto proposto no orçamento de abril adicionaria $7 ao preço de uma garrafa de 30mL de líquido vape, $10 para uma garrafa de 60 mL e $14 para uma garrafa de 100 mL. Para aqueles que vape com dispositivos de cartucho, um pacote de quatro cartuchos de um mililitro, que geralmente é vendido entre $24-$26, teria um $4 extra adicionado.

Qual será o efeito desses aumentos de impostos?

Os preços do vape provavelmente aumentarão. Um 2020 documento de trabalho publicado pelo National Bureau of Economic Research, que analisou dados de 35.000 varejistas dos EUA, descobriu que, para cada aumento de dólar na tributação, os preços do vape aumentaram entre $0,91 e $1,16, o que significa que o imposto é quase inteiramente repassado aos consumidores. Para um pacote de quatro cartuchos de um mililitro, os preços podem aumentar entre $3.64-$4.64.

E como os vapers responderão a esses aumentos de preços? Muitos vão voltar a fumar. Esse mesmo estudo do NBER mostrou que um aumento de $1 nos impostos sobre vape aumentou as vendas de cigarros em 10%.

Do ponto de vista da saúde pública, esta é exatamente a abordagem errada. Sabemos que o vaping é uma ferramenta de redução de danos muito útil. Visar o vaping com proibições de sabores e alta tributação certamente desencorajará as pessoas de vaping, mas também incentivará alguns ex-fumantes a voltarem aos cigarros e impedirá que alguns fumantes atuais mudem para vaping. Se o Canadá quiser ter alguma chance de atingir sua meta de não fumar em 2035, devemos seguir o exemplo do Reino Unido e incorporar o vaping como meio para esse fim. Regulamentações e tributação pesadas sobre vaping não fazem nada além de criar mais fumantes, e ninguém ganha se isso acontecer.

Publicado originalmente aqui

Pentingnya Regulasi Berbeda antara Rokok dan Produk Tembakau Alternatif

Konsumsi rokok elektrik saat ini merupakan salah satu fenomena yang sangat umum dan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Você pode usar o tinggal di wilayah urbano, mas também pode mudar para o tidak sedikit ou yang mengkonsumsi rokok elektrik, dan juga berbagai produk vape e rokok elektrik yang dijual di berbagai toko dan pusat perbelanjaan.

Fenomena semakin meningkatnya konsumsi vape ini juga menarik perhatian banyak pihak. Bagi sebagian pihak, fenomena ini merupakan sesuatu yang negatif, karena vape atau produk tembakau alternatif lainnya dianggap sebagai produk yang sama berbahayanya, atau bahkan lebih berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar.

Oleh karena itu, bagi sebagian kalangan, kebijakan pelarangan atau setidaknya pembatasan ketat bagi produk-produk alternatif tembakau seperti rokok elektrik merupakan sesuatu yang tepat untuk dilakukan. Hal em idikarenakan, produk-produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik dianggap sebagai salah satu ancaman besar bagi kesehatan publik.

Sementara itu, pihak lainnya memiliki pandangan yang cukup positif, atau setidaknya optimis, melihat fenomena tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa, berdasarkan berbagai laporan penelitian, diketahui bahwa rokok elektrik atau vape merupakan produk yang jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar.

Semakin semakin meningkatnya pengguna vape atau rokok elektrik, maka diharapkan pengguna rokok konvensional yang dibakar juga akan semakin berkurang. Dengan demikian, berbagai penyakit kronis berbahaya yang disebabkan karena penggunaan rokok konvensional yang dibakar dapat dimitigasi. Demikian, langkah untuk melarang atau membatasi rokok elektrik merupakan kebijakan yang kontraproduktif, karena hal tersebut akan semakin mempersulit para konsumen untuk mendapatkan akses terhadap produk alternatif dari rokok konvensional yang lebih tidak berbahaya.

Informações mengenai bahwa produk tembakau alternatif jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar merupakan hal yang sudah diketahui sejak beberapa tahun lalu. Salah satu lembaga kesehatan yang mengeluarkan laporan mengenai hal tersebut adalah lembaga kesehatan publik Inggris, Public Health England (PHE), pada tahun 2015 lalu (theguardian.com, 28/12/2018).

Laporan tersebut tentu merupakan laporan yang sangat penting untuk diperhatikan, terutama bila kita ingin menyusun regulasi yang tepat terkait dengan produk-produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik. Salah satunya adalah, bagaimana kita dapat memanfaatkan produk-produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik, untuk membantu para perokok untuk mengurangi hingga berhenti seca total menggunakan rokok konvensional yang dibakar, yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Salah satu langkah awal untuk menyusun regularsi yang tepat tersebut adalah dengan tidak menyetarakan antara produk-produk rokok konvensional yang dibakar dengan produk-produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang penting mengingat dampak negatif dari produk tembakau alternatif jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar.

Menjadikan vape atau rokok elektrik sebagai alat untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merupakan merupakan hal yang sudah dilakukan oleh jutaan orang di seluruh dunia, teramsuk juga tentunya na Indonésia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Universitas Trisakti misalnya, menunjukkan bahwa setidaknya ada 30% responden yang menyatakan bahwa mereka menggunakan produk-produk vape alternatif sebagai sarana untuk berhenti merekok (vapemagz.co.id, 20/05/2022).

Sementara itu, 11% respondeu lainnya menyatakan bahwa mereka menggunakan vape untuk alasan kesehatan, dan 9% lainnya menggunakan produk-produk tembakau alternatif atas anjuran dari ahli kesehatan. Oleh karena itu, setidaknya 80% dari seluruh respondeu menyatakan bahwa promosi tembakau alternatif harus lebih dimasifkan sebagai salah satu upaya untuk berhenti merokok (vapemagz.co.id, 20/05/2022).

Adanya regulari yang berbeda, diharapkan hal tersebut uga akan semakin merangsang para pelaku industri, khususnya industri dengan skala kecil dan menengah, até masuk ke dalam sektor produk-produk tembakau alternatif. Hal ini juga berarti tidak hanya semakin membantu konsumen para menyediakan sarana para mereka agar berhenti merokok, namun juga akan berpotensi membuka dan menyerap semakin banyak tenaga kerja.

Selain itu, tidak hanya regulasi yang berbeda, dibutuhkan juga upaya untuk meningkatkan berbagai riset dan penelitian terkait dengan rokok elektrik dan juga produk-produk tembakau alternatif lainnya. Penelitian dan riset ini merupakan sesuatu yang sangat penting, sebagai landasan até menyusun kebijakan dan regulasi yang tepat. Saat ini, berbagai riset dan penelitian terkait dengan produk-produk vape alternatif dilakukan oleh lembaga-lembaga dari luar negeri (financial.detik.com, 22/05/2022).

Sebagai penutup, penyusunan kebijakan vape dan juga produk-produk tembakau alternatif lainnya yang tepat, dan juga peningkatan riset e penelitian terkait denga produk-produk tersebut, merupakan hal yang sangat penting. Hal ini sangat penting mengingat Indonésia merupakan salah satu negara dengan populari perokok tertinggi di dunia, dan produk-produk tembakau alternatif dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk membantu para perokok menghentikan kebiasaannya yang sangat berbahaya.

Publicado originalmente aqui

Role para cima