fbpx

Mois : PMavril

Pentingnya Peneliti Indonésie Meneliti Kebijakan Harm Reduction di Negara Lain

Rokok elektrik, atau yang dikenal juga dengan nama vape, saat ini merupakan produk yang digunakan oleh banyak orang di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Kita, khususnya yang tinggal di wilayah perkotaan, tentu sudah tidak asing lagi melihat penggunaan rokok elektrik di berbagai tempat.

Indonésie sendiri memiliki jumlah populasi pengguna vape yang tidak kecil. Tercatat pada tahun 2022 lalu misalnya, Indonésie memiliki sekitar 2,2 juta pengguna vape, di mana angka ini merupakan peningkatan sebesar 40% dari tahun 2021 (ekonomi.bisnis.com, 18/07/2022).

Jumlah pengguna di atas 2 juta orang tentu bukan merupakan angka yang kecil. Dengan besarnya jumlah pengguna vape tersebut, tentu ada alasan yang beragam yang membuat para konsumen untuk menggunakan produk tersebut. Mulai dari alasan financier, bahwa secara total biaya vape lebih murah dibandingkan rokok, hingga vape digunakan sebagai alat yang dapat membantu para penggunanya untuk mengurangi atau berhenti merokok.

Vape atau rokok elektrik sendiri memang sudah menjadi salah satu alat yang difungsikan untuk membantu para perokok untuk mengurangi hingga menghentikan kebiasaan merokoknya. Inggris misalnya, melalui National Health Service (NHS), telah merekomendasikan rokok elektrik sebagai alat untuk membantu para perokok untuk berhenti merokok (nhs.uk, 10/10/2022).

Di sisi lain, tidak sedikit pula pihak-pihak yang memiliki tanggapan négatif terhadap fenomena meningkatnya pengguna vape di Indonesia. Mereka yang memiliki sikap sangat kontra, umumnya berpandangan bahwa vape atau rokok elektrik merupakan produk yang sangat berbahaya bagi kesehatan publik sehingga harus dilarang, atau setidaknya diregulasi secara sangat ketat.

Beberapa lembaga kesehatan dunia sendiri justru telah menyatakan bahwa rokok elektrik atau vape merupakan produk yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional yang dibakar. Lembaga kesehatan publik asal Inggris, Public Health England, misalnya, pada tahun 2015 lalu, mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa vape merupakan produk yang 95% lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar (theguardian.com, 28/12/2 018).

Itulah sebabnya, vape cukup sering digunakan sebagai alat untuk membantu kebijakan harm reduction dari rokok. Réduction des méfaits sendiri merupakan serangkaian kebijakan programme atau yang ditujukan untuk mengurangi dampak négatif dari penggunaan produk tertentu yang berbahaya, seperti rokok misalnya.

Menjadikan vape atau rokok elektrik sebagai alat untuk membantu program dan kebijakan harm reduction sendiri mungkin merupakan sesuatu yang belum terlalu akrab di telinga publik. Tidak bisa dipungkiri, salah satu penyebab utama dari hal ini adalah masih banyak pihak-pihak yang memiliki pandangan bahwa vape merupakan produk yang sama bahayanya, atau bahkan jauh lebih berbahaya, dari rokok konvensional yang dibakar.

Untuk itu, sangat penting bagi para peneliti dan juga para pembuat kebijakan untuk bekerja sama dan saling bertukar pengalaman dengan para peneliti dan juga pembuat kebijakan harm reduction di negara lain. Indonésie sendiri sebenarnya sudah memiliki potensi untuk melakukan hal tersebut.

Beberapa waktu lalu misalnya, ada peneliti asal Indonésie yang memaparkan penelitian mengenai pengurangan bahaya tembakau di sebuah konferensi di ibukota Philippine, Manille. Dalam konferensi tersebut, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG UNPAD) memaparkan mengenai penelitian mereka mengenai masalah tingkat merokok yang tinggi di Indonesia dan dampaknya terhadap kesehatan, khususnya terhadap kesehatan gigi dan mulut.

Dalam pemaparannya, tim FKG UNPAD menyatakan bahwa terdapat perbedaan profil risiko pengguna vape dan produk tembakau yang dipanaskan dengan rokok konvensional. Risiko vape dan tembakau yang dipanaskan terhadap kesehatan lebih rendah bila dibandingkan dengan rokok (tribunnews.com, 24/3/2023).

Selain itu, dipaparkan juga oleh tim tersebut bahwa produk vape dan tembakau yang dipanaskan memiliki peran potensial untuk membantu para perokok aktif untuk mengurangi kebiasaan merokoknya. Tidak hanya itu, tim dari FKG UNPAD tersebut juga melakukan studi yang mengevaluasi penggunaan vape dan tembakau yang dipanaskan secara jangka panjang, yang juga berkolaborasi dengan berbagai peneliti dari negara lain seperti Italia, Polandia, dan Moldova (tribunnews.com, 24/3/2023 ).

Adanya peran aktif para peneliti Indonesia di konferensi international dan juga kerja sama dengan peneliti dari negara lain tentu merupakan hal yang patut untuk diapresiasi dan didukung. Permasalahan kesehatan publik yang disebabkan oleh rokok tentu bukan hanya masalah besar yang melanda Indonésie, tetapi juga masalah besar yang dialami oleh banyak negara di dunia.

Sebagai penutup, rokok merupakan salah satu masalah kesehatan publik terbesar di Indonesia saat ini, mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi perokok dewasa tertinggi di dunia. Melalui kerjasama dan kolaborasi penelitian tersebut, diharapkan akan tercipta ekosistem penelitian mengenai program dan kebijakan harm reduction yang lebih komprehensif, dan para peneliti dan pembuat kebijakan di Indonesia bisa saling belajar satu sama lain dan bertukar pengalaman dengan para peneliti dan pembuat kebijakan dari negara-negara lain .

Publié à l'origine ici

L'INCOHÉRENCE DES SUBVENTIONS EN EUROPE

Nous devrons revenir aux principes fondateurs du marché commun.

Selon une tendance que j'ai décrite à plusieurs reprises dans La Chronique Agora, les pays européens s'orientent de plus en plus vers des modèles de subventionnement de l'industrie, dans le but de s'aligner sur les très vastes projets des États-Unis visant à soutenir les transitions économiques respectueuses du climat. Cela a créé une situation dans laquelle l'Union européenne punit les États qui impliquent leur industrie nationale, mais les incitent également à le faire.

Prenons un exemple dans lequel la Commission européenne applique strictement les règles anti-subventions de l'Union.

La Commission européenne vient de décider, à juste titre, que les aides d'État accordées par l'Italie à la compagnie aérienne en difficulté Alitalia (qui a depuis fait faillite et s'est rebaptisée « ITA Airways ») n'étaient pas conformes aux règles de l'UE. Rome a accordé à la compagnie aérienne un total de 1,3 milliard d'euros de prêts en 2017 et 2019 – selon Bruxelles – sans indication palpable que la compagnie serait en mesure de rembourser les prêts ; 400 millions d'euros de ce prêt doivent maintenant être remboursés aux contribuables italiens, a statué la Commission. Cependant, ITA Airways affirme qu'elle n'est pas responsable de la dette demandée par Alitalia, ce qui signifie que Rome ne sera probablement pas en mesure de se conformer à la décision.

« La solution à long terme ne réside pas dans les subventions publiques », explique Ebba Bush, vice-premier ministre et ministre des Affaires suédoise, interrogée sur les projets de l'UE visant à augmenter ainsi les subventions pour contrer la « loi sur la réduction de l'inflation » américaine (IRA). Certaines plus grandes économies européennes, telles que la France et l'Allemagne, ont fait pression en faveur d'un assouplissement des règles de l'Union en matière d'aides d'État afin de rester compétitives au niveau mondial dans les secteurs verts . Des pays plus petits, dont la Suède, qui assurent la présidence tournante du Conseil, ont toutefois averti que le marché intérieur pourrait être menacé si Bruxelles pouvait donner trop d'argent aux plus grandes économies de l'Union.

L'assouplissement des règles relatives aux aides d'État a été motivé par la forte augmentation des prix de l'énergie et le risque de voir l'industrie européenne se déplacer vers les États-Unis en réponse à l'IRA, qui est entré en vigueur en août 2022 et offre des subventions d'une valeur de 369 milliards de dollars pour les « investissements verts », à la suite de quoi les entreprises envisagent de se délocaliser vers les États-Unis.

Margrethe Vestager, vice-commissaire de l'UE, affirme qu'il est essentiel de préserver l'intégrité du marché unique de l'UE. « Quoi que nous fassions, nous devions éviter une course aux subventions », at-elle ajouté. La Commission propose de simplifier le calcul des aides d'État, d'accélérer les approbations et d'élargir le champ d'application de l'encadrement temporaire de crise et de transition – adoptée à la suite de l'invasion de l'Ukraine par la Russie – afin de « soutenir toutes les sources d'énergie renouvelables possibles ».

Cet accompagnement propose également un encadrement « option temporaire très exceptionnelle d'aide à l'alignement ». Le projet suggère que les États membres soient autorisés à égaler les subventions offertes par les pays tiers, afin de garantir que les investissements ne soient pas « injustement détournés vers le plus offrant en dehors de l'Europe ». Les dispositions ne s'appliquent qu'aux secteurs concernés par l'IRA, et des conditions strictes seront imposées, notamment si le projet profite à plus d'un État membre, a indiqué Mme Vestager.

Même en prétendant qu'il y aura des contrôles stricts sur l'utilisation des aides d'État, la Commission européenne a des antécédents plutôt occasionnels en ce qui concerne l'application de règles strictes (Alitalia est l'une d'entre elles) . En général, Bruxelles énumère toutes sortes de raisons exceptionnelles pour lesquelles un paquet particulier d'un milliard d'euros a été approuvé et, dans le cas de COVID-19, a emprunté des sommes incroyables sur le dos des contribuables de l'UE.

En théorie, l'Union européenne s'efforce de créer un marché exempt de distorsions anticoncurrentielles, mais en réalité, elle ne fait pas grand-chose pour y parvenir. L'IRA américain a touché un point sensible : non seulement l'Europe peut revenir au protectionnisme, mais elle peut aussi le faire en prétendant le faire au nom du développement durable. Après tout, nous diront les bureaucrates, quel meilleur scénario qu'une guerre commerciale qui protège l'environnement ?

Voici les principaux problèmes liés à l'ouverture des portes de l'État dans l'UE :

  • bien que plafonnée à 150 millions d'euros par entreprise, l'aide ne tient pas compte de la taille et des concurrents européens, ce qui signifie qu'elle bénéficiera de manière disproportionnée aux grandes entreprises par rapport aux PME ;
  • les pays les plus pauvres de l'UE – même s'ils sont autorisés – ne sont tout simplement pas en mesure d'accorder autant d'aides d'État qu'un pays comme l'Allemagne, ce qui crée de nouveaux déséquilibres sur le marché ;
  • les grandes entreprises sont également en mesure d'augmenter leurs subventions sur plusieurs continents, car l'UE autorise le dépassement du plafond s'il existe un risque palpable de voir les investissements quitter le marché unique.

Nous devrons revenir aux principes fondateurs du marché commun : le libre-échange, l'absence de distorsions du marché dues à des normes réglementaires injustes pour les produits et les services, et l'absence de subventions. Nous ne pouvons tout simplement pas nous permettre, tant sur le plan financier qu'économique.

Publié à l'origine ici

SÉN. CRUZ ET SES COLLÈGUES RÉINTRODUISENT LE PROJET DE LOI POUR ÉLIMINER LA TAXE SUR LES PRODUITS CHIMIQUES

WASHINGTON DC – Les sénateurs américains Ted Cruz (R-Texas), John Kennedy (R-La.), Mike Lee (R-Utah) et John Barrasso (R-Wy.) ont réintroduit aujourd'hui la loi sur l'abrogation de la taxe sur les produits chimiques pour éliminer la taxe Superfund imposées par la Loi sur l'investissement et l'emploi dans les infrastructures. Le sénateur Cruz avait précédemment présenté ce projet de loi en 2021.

La loi sur les infrastructures de 2021 a imposé environ $15 milliards de taxes sur 42 produits chimiques, minéraux critiques et éléments métalliques différents qui sont les éléments constitutifs d'articles ménagers courants tels que le plastique, le caoutchouc, le béton, le savon, les ampoules et l'électronique. Le Texas abrite quarante pour cent des usines de fabrication de produits chimiques du pays et serait fortement touché par cette taxe.

Lors de sa réintroduction, le sénateur Cruz a déclaré : 

"L'inflation a monté en flèche sous le président Biden, et sa taxe sur les produits chimiques ne ferait qu'empirer les choses. Cette taxe augmente les prix des fabricants texans et américains, faisant grimper les prix des articles ménagers de tous les jours dont les familles ont besoin. L'abrogation de cette taxe profiterait à ceux qui sont le plus touchés par les dépenses incontrôlables et génératrices d'inflation de Washington : les familles américaines et les personnes à revenu fixe.

La directrice adjointe du groupe de défense des consommateurs Consumer Choice Center, Yaël Ossowski, a déclaré :

« À une époque d'inflation persistante et d'escalade des guerres commerciales, nous devons faire tout notre possible pour alléger les charges et les coûts imposés aux consommateurs. L'abrogation des taxes sur les produits chimiques et les composants nécessaires - tous essentiels à la fabrication américaine, à la production nationale et à une concurrence accrue - est une excellente mesure qui contribuera grandement à faciliter la vie des consommateurs. Nous louons tous les efforts qui contribuent à rendre les produits et services plus abordables pour les familles américaines. »

Lire le texte complet ici

Le Royaume-Uni distribuera un million de kits de démarrage Vape aux fumeurs cherchant à arrêter

Le ministère de la Santé distribuera les kits dans le cadre d'une nouvelle campagne anti-tabac qui comprend des plans de répression des ventes illicites de vape. 

Alors que les groupes officiels de santé publique britanniques tels que Public Health England (PHE) et Action on Smoking and Health (ASH) continuent d'assurer qu'il y a pas d'épidémie de vapotage chez les adolescents tout en plaidant en faveur des bienfaits des vapes pour le sevrage tabagique, le Guardian vient de publier un article affirmant que le vapotage chez les adolescents est une « catastrophe de santé publique ».

"Je crains que nous ne somnambulions dans une catastrophe de santé publique avec une génération d'enfants accros à la nicotine", a déclaré le professeur Andrew Bush, médecin consultant en pneumologie pédiatrique aux hôpitaux Royal Brompton et Harefield, alors que cité par le Guardian. L'article poursuit en citant un certain nombre de parents qui expriment leurs inquiétudes concernant les habitudes de vapotage de leurs enfants.

Pendant ce temps, le Consumer Choice Center (CCC) a cité un rapport Action on Smoking and Health (ASH) de 2021, qui a examiné les comportements de vapotage chez les jeunes au Royaume-Uni et a constaté qu'une écrasante majorité (83%) d'adolescents et de préadolescents âgés de 11 ans et 18 ans, n'ont jamais essayé ni même entendu parler des cigarettes électroniques. Ce constat est constant depuis 2017.

Lire le texte complet ici

Les problèmes de sécurité en ligne ne devraient pas activer un état de surveillance

Aux Jeux olympiques de Londres en 2012, Sir Tim Berners-Lee, créateur du World Wide Web, a rédigé le message « Ceci est pour tout le monde ». Et à cette époque, les opportunités numérisées semblaient illimitées. Maintenant, un peu plus d'une décennie plus tard, ce message pourrait se lire "Ceci est pour tout le monde - En attente de surveillance et d'approbation".

En effet, propositions de responsabilité technologique et audiences de haut niveau avec les meilleurs de Silicon étaient nombreux l'année dernière et cette année ne montre aucun signe de ralentissement. Les responsables gouvernementaux des deux parties ont prouvé qu'ils avaient un intérêt sans fin à se mêler de l'anonymat en ligne, comme le montre la loi RESTRICT récemment proposée.

RESTRICT signifie Restreindre l'émergence des menaces de sécurité qui menacent les technologies de l'information et de la communication - le nom dit tout. 

Essentiellement, cette loi accorde au Département du commerce le pouvoir d'interférer avec les données de tout utilisateur et de poursuivre toute activité basée sur toute possibilité de menace - et toute désapprobation pour ingérence dérivée du Congrès ne peut être apportée qu'après coup. Si cela semble disproportionné, lisez-le vous-même.

Alors que d'autres projets de loi, tels que l'article 230, ont (à tort) a fait des fournisseurs de services et des réseaux sociaux la cible de la réglementation, la loi RESTRICT s'applique à tous.

En vertu de la loi RESTRICT, toutes les interactions et transactions sur Internet seraient soumises à une surveillance et à un examen minutieux, c'est pourquoi certains ont surnommé la loi RESTRICT "le Patriot Act 2.0". Une telle affirmation, cependant, est trop aimable, puisque le 'jeter un coup d'œil' les approches autorisées par le Patriot Act sont pâles par rapport à la surveillance constante des affaires en ligne que le RESTRICT Act permettrait.

Il convient également de noter que le Patriot Act devait expirer en 2005 mais, comme de nombreux programmes gouvernementaux, il a été préservé et vit actuellement sous le USA Freedom Act de 2015. Et bien que le USA Freedom Act ait une date d'expiration prévue pour 2020, il est également toujours suspendu.

Il semble peu probable que la loi RESTRICT gagne en popularité compte tenu de sa nature extrême, mais des propositions comme celles-ci agissent comme des prototypes ou des tests de concept pour ce qui pourrait suivre – et des choses plus étranges se sont produites.

C'était il y a un peu plus d'un an, par exemple, lorsque l'administration Biden a lancé le Conseil de gouvernance de la désinformation, alias le «ministère de la vérité». Nina Jankowicz, la "tsar de la désinformation" nommée est devenu viral sur TikTok avec une interprétation remaniée (et ridiculisée) de "Supercalifragilisticexpialidocious", et un contrecoup s'ensuivit rapidement car le conseil était évidemment trop orwellien pour que le public américain puisse l'accepter. 

Les états s'en mêlent aussi. Prenons par exemple l'adoption récente par la législature de l'Arkansas d'un projet de loi "sécurité des jeunes en ligne", qui lui-même reflète une loi adoptée par l'Utah le mois dernier. 

Loi sur la sécurité des médias sociaux de l'Arkansas, signé par le gouverneur Sanders, oblige tous les utilisateurs en ligne à prouver s'ils sont adaptés à l'âge pour certaines plateformes et certains contenus, ce qui nécessite ainsi la collecte de données biométriques et personnelles pour la vérification de l'identité. 

Tout anonymat en ligne ou semblant de confidentialité des données a été révoqué par l'État au nom de la protection des enfants. Yaël Ossowski, directrice adjointe du groupe de défense des consommateurs Consumer Choice Center, affirme à juste titre que le gouvernement est désormais sur le point d'être "l'arbitre final de l'accès ou non des jeunes à Internet". 

La capacité (et la responsabilité) parentale de jouer un rôle dans la vie numérique de leurs enfants est déléguée aux bureaucrates du gouvernement, et il ne faudra pas longtemps avant que d'autres législatures d'État emboîtent le pas. Looks du Connecticut être le prochain.

Ce qui est vraiment troublant dans ces lois, c'est qu'elles permettent au gouvernement d'aller trop loin dans des endroits où le marché a déjà fourni solutions pour la sécurité des enfants en ligne. Les préoccupations concernant la gestion des données et l'accès aux données ont fait de la cybersécurité l'un des marchés à la croissance la plus rapide, avec postes lucratifs pour ceux qui étudient pour devenir des analystes de l'information et des scientifiques des données. 

Il se trouve que nul autre que Sir Tim Berners-Lee a lancé un projet de décentralisation pour s'attaquer à la gestion des droits sur les données. Le sien est l'un des de nombreuses initiatives qui devrait être incité par les intérêts des utilisateurs et laissé libre par ingérence politique

Des preuves historiques et empiriques prouvent que une économie décentralisée mène au progrès et à la prospérité, nous devrions donc activer notre économie numérique avec la même approche. 

Publié à l'origine ici

Les demandes de partage équitable du commissaire Breton s'adressent au mauvais destinataire

La proposition de l'UE de faire contribuer les plateformes au développement de l'infrastructure numérique peut sembler raisonnable et facile pour aider les opérateurs de télécommunications, mais elle créerait plus de problèmes qu'elle n'en résoudrait.

En mai dernier, le commissaire Breton a proposé de faire contribuer les plateformes au développement des infrastructures numériques, comme les réseaux 5G, qui ont suscité des réactions mitigées. Certaines voix dans l'industrie des télécommunications affirment que les fournisseurs de contenu et les plateformes de streaming ne paient pas leur « juste part » pour l'utilisation des réseaux qui transmettent leur contenu. Ils soulignent le trafic élevé généré par les services de streaming, qui sollicite leur infrastructure et leurs ressources.

Cependant, ce n'est pas vrai. La mise en œuvre de ces règles de partage équitable entraînerait une augmentation des coûts pour les consommateurs, car des entreprises comme Netflix, Disney, Sky – NowTV et l'italien Mediaset Play seraient tenues de payer pour les réseaux à large bande.

La bataille pour les contributions « équitables » a révélé un énorme problème sur le marché européen de la connectivité : les fournisseurs de télécommunications sont censés construire les autoroutes de données européennes, mais manquent de capitaux pour le faire rapidement. Le manque d'argent place les économies européennes dans une position concurrentielle désavantageuse, et il faut faire quelque chose. Malheureusement, le commissaire Breton et ses alliés dans certaines sociétés de télécommunications traditionnelles voient le coupable dans un groupe croissant de fournisseurs de contenu numérique.

La mise en œuvre de ces règles de partage équitable entraînerait une augmentation des coûts pour les consommateurs, car des entreprises comme Netflix, Disney, Sky – NowTV et l'italien Mediaset Play seraient tenues de payer pour les réseaux à large bande..

L'argument selon lequel les fournisseurs de contenu ne veulent pas payer leur juste part pour l'utilisation du réseau ne résiste pas à l'examen. En effet, les fournisseurs de services Internet, qui dans de nombreux États membres possèdent l'infrastructure, ne sont pas autorisés à bloquer des services ou du trafic, sauf pour des raisons de sécurité, grâce à règlement 2015/2120, le soi-disant règlement Internet ouvert.

L'application de l'idée de partage équitable aux services de streaming irait à l'encontre de cette disposition, car elle obligerait certains fournisseurs à payer pour l'utilisation du réseau, leur accordant un traitement différent par rapport aux autres.

Les fournisseurs de télécommunications facturent aux consommateurs l'accès au réseau et les données ; ils sont donc déjà rémunérés pour l'utilisation de leur infrastructure. Au lieu d'imposer des frais injustes aux fournisseurs de contenu, l'UE pourrait travailler avec les États membres pour réduire le coût des licences de spectre, qui sont les frais que les entreprises de télécommunications paient pour accéder au spectre de radiofréquences nécessaire à la transmission des signaux sans fil.

Ces frais peuvent être exorbitants dans de nombreux États membres. Certains se souviennent peut-être encore que l'Allemagne a mis aux enchères le spectre 3G/UMTS pour un total de 50 milliards d'euros en 2000. Cela représente 620 euros par société de télécommunications résidente allemande qui avait moins pour construire l'infrastructure de données nécessaire. La réduction, voire la suppression totale de ces frais donnerait aux fournisseurs de télécommunications plus de capital, leur permettant d'investir dans les infrastructures et d'améliorer leurs services.

À l'heure actuelle, le spectre n'est généralement «donné» que pendant deux décennies. Une propriété appropriée et des marchés secondaires fonctionnels pour le spectre dans l'ensemble de l'UE apporteraient également plus de dynamisme à notre marché de la connectivité. Malgré la rhétorique selon laquelle la fin de l'itinérance intra-UE nous a conduits à un marché unique de la connectivité, l'Europe est encore loin d'un marché télécom harmonisé. La création d'un marché européen concurrentiel de la connectivité et des télécommunications pourrait apporter des rendements plus élevés que la tentative de Breton de taxer les plateformes de contenu principalement basées aux États-Unis. Cela, à son tour, profiterait aux consommateurs en augmentant la concurrence, en faisant baisser les prix et en améliorant la qualité des services de télécommunications.

La bataille pour les contributions "équitables" a révélé un énorme problème sur le marché européen de la connectivité : les fournisseurs de télécommunications sont censés construire les autoroutes de données européennes, mais manquent de capitaux pour le faire rapidement

Alors que la proposition de l'UE de faire contribuer les plateformes au développement de l'infrastructure numérique peut sembler raisonnable et facile pour aider les opérateurs de télécommunications, elle créerait plus de problèmes qu'elle n'en résoudrait. La soif de revenus de certains États membres a massivement paralysé la connectivité de l'UE et les capitaux disponibles pour d'importants investissements dans les infrastructures de réseau. Les consommateurs paient toujours la facture des enchères du spectre à travers des prix exorbitants pour les forfaits de téléphonie mobile en Allemagne et dans d'autres pays comme le Royaume-Uni. D'un autre côté, les États membres des pays baltes ne paient qu'entre 5 et 35 € par citoyen, laissant aux fournisseurs de réseau les liquidités nécessaires pour construire l'infrastructure.

Les difficultés financières de l'industrie des télécommunications sont mieux traitées en réduisant le coût des licences de spectre plutôt qu'en imposant des frais injustes aux fournisseurs de contenu. Une nouvelle approche du spectre profiterait aux consommateurs en augmentant la concurrence, en faisant baisser les prix et en améliorant la qualité des services de télécommunications.

Publié à l'origine ici

QUAND LES VICTIMES DES LOIS ANTI-CARBONE PRENNENT LE POUVOIR

La victoire électorale du parti des agriculteurs néerlandais préfigure les prochaines batailles environnementales en Europe.

Le Mouvement des agriculteurs citoyens néerlandais (BBB) a remporté une grande victoire lors des élections provinciales du pays, le 15 mars dernier. Avec 19,36% des voix et 139 des 572 sièges en jeu, il est devenu, 4 ans après sa création, le plus puissant parti du pays au niveau local.

Le 30 mai prochain, lors des élections sénatoriales, il devrait obtenir environ 15 des 75 sièges de la Première Chambre (équivalent à notre Sénat), gagnant ainsi une place majeure dans l'échiquier politique national. Il pourra ainsi saper les efforts du gouvernement du Premier ministre Mark Rutte, dont la coalition reste majoritaire dans la Seconde Chambre (équivalente à notre Assemblée nationale).

A l'origine d'une protestation

Le BBB n'a été créé qu'en 2019, mais il a renforcé d'un soutien populaire à la suite de la décision du gouvernement de réduire ainsi les émissions d'azote en fermant environ un tiers des exploitations agricoles néerlandaises. Et sa victoire dans les urnes n'est probablement qu'un début.

Au cours de l'été dernier, les agriculteurs néerlandais ont protesté contre la politique prévue par le gouvernement en bloquant des routes et des aéroports, et en jetant du fumier sur les fonctionnaires. Le gouvernement de La Haye tente de suivre les directives de l'UE en utilisant les émissions d'azote de 50 % d'ici à 2030. Les émissions d'oxyde nitreux et de méthane sont des sous-produits de l'élevage, par exemple lorsque le fumier est déposé.

Les Pays-Bas, ainsi que le Danemark, l'Irlande et la région flamande de la Belgique, bénéficiaient d'exemptions concernant les plafonds fixés par l'UE pour le fumier en raison de leur faible superficie, mais cette exemption est sur le point de prendre fin pour les agriculteurs néerlandais.

Le gouvernement de Mark Rutte entend réduire les émissions en rachetant les éleveurs, même si ces derniers n'ont pas susceptibles d'intérêt pour les cartes-cadeaux.

Le BBB a été critiqué pour ses positions anti-immigration et son hostilité à l'élargissement de l'UE, mais son succès dans les sondages n'a pas été grand-choisi à voir avec un glissement à droite aux Pays-Bas. En fait, ce scrutin a non seulement fourni de nouveaux électeurs qui ont utilisé les élections provinciales comme un sondage sur le gouvernement, mais il a également porté un coup important aux partis d'extrême droite qui ont subi de lourdes pertes, notamment le « Foorum vor Democratie » (15 sièges, contre 86 en 2019).

Symptôme européen

Le gouvernement néerlandais n'a donc que deux options. Prétendre qu'il s'agit d'une phase politique temporaire, exploiter le fait que ce nouveau parti fera inévitablement des erreurs de communication, et continuer sur la même voie… ou en changer. Il semble que cette dernière option devienne inévitable, et pas seulement parce que le gouvernement a besoin de l'approbation de la Première Chambre pour ses objectifs de réduction d'émissions d'azote.

S'il est possible que la coalition de M. Rutte trouve des voix à l'extrême-gauche, cette stratégie ne serait pas sans inconvénients. Les sénateurs verts et d'extrême gauche sont susceptibles de soutenir les objectifs de la réduction des émissions d'azote, mais aussi de demander des objectifs encore plus ambitieux pour l'avenir, ce qui ne suffira qu'aggraver le climat politique.

Le Premier ministre Mark Rutte, surnommé « Teflon Mark » (pour sa capacité à surmonter de multiples crises politiques au cours de ses 13 années de mandat), est également confronté à la possibilité que les membres de sa propre coalition quadripartite se dégonflent au cours du processus.

Les événements politiques qui se déroulent aux Pays-Bas sont un symptôme de ce qui risque de se produire dans toute l'Europe. L'agriculture, un domaine réservé aux débats politiques obscurs et aux réunions de commissions qui durent des heures et font bailler, est en train de devenir un élément central des ambitions vertes de l'Europe. Le secteur agricole est indéniablement responsable d'une grande partie des émissions de gaz à effet de serre, mais il s'est avéré injustement ciblé par des règles simplistes.

Des promesses intenables

La politique néerlandaise d'élimination progressive d'un tiers des exploitations agricoles est née du constat que le seul moyen réaliste de réduire les émissions de manière fiable serait de réduire ainsi les secteurs de l'aviation et de la construction, deux secteurs que les Pays -Bas ne peut pas se permettre de manière réaliste compte tenu de leur activité économique.

La décision de cibler les agriculteurs en dernier recours est la plus emblématique de l'approche européenne qui suscite beaucoup d'hostilité : c'est l'histoire parfaite pour créer des mouvements populistes.

Au cours de la dernière décennie, l'Europe a fait des promesses ambitieuses en matière d'objectifs d'émissions, mais maintenant que l'UE et ses États membres sont confrontés à la réalité de la manière dont ces objectifs seront atteints, il est probable que les choses se gâtent.

La stratégie " De la ferme à la fourchette » de l'Union européenne connaît le même sort : le commissaire à l'Agriculture de la Commission européenne, Janusz Wojciechowski, a déclaré qu'il présente que cette stratégie désavantage injustement les États membres d'Europe de l'Est. Ce même commissaire est censé défendre les politiques de réduction des pesticides, des engrais et de l'utilisation des terres agricoles.

Selon une étude d'impact réalisée par l'USDA, cette stratégie entraînerait une baisse de la production agricole comprise entre 7 et 12%. Dans le même temps, la baisse du PIB de l'UE représentait 76% de la baisse du PIB mondial. Les ménages à faibles revenus, qui souffriraient déjà de l'inflation, subiraient une pression encore plus forte et seraient très probablement politisés.

Ces dernières années ont vu défiler de jeunes activistes climatiques qui ont dressé des listes de demandes politiques ambitieuses. Dans les années à venir, ce seront les manifestations de ceux qui devront les financer.

Publié à l'origine ici

Le marché du diable sur l'élimination des PFAS

Les substances per- et polyfluoroalkyles (PFAS) ont récemment fait la une des journaux à travers le pays. Des États comme Maine ont fait pression sur les règles et réglementations pour limiter la présence de PFAS dans les produits de consommation ; le APE limites d'eau PFAS recommandées qui sont proches de zéro, et des recours collectifs ont été mêlés producteurs.

Les PFAS, un groupe diversifié de produits chimiques artificiels utilisés dans tout, de la production de micropuces aux produits pharmaceutiques et aux implants médicaux, sont sous le feu, pour le moins. En fait, 3M, basée à Saint-Paul, en réponse à la pression croissante, a annoncé en Décembre qu'il chercherait à quitter complètement le marché dans l'espoir de ne plus produire de PFAS du tout d'ici 2025.

Les détracteurs de l'approche réglementaire actuelle des PFAS ont averti que l'élimination complète de la production de PFAS aux États-Unis serait créer d'énormes perturbations de la chaîne d'approvisionnement pour les biens de consommation courante et créer une longue liste d'externalités. En fait, il semblerait que la représentante américaine Betty McCollum voit l'écriture sur le mur et le désastre qui se produira si les États-Unis ne produisent aucun PFAS. La députée démocrate du quatrième district du Minnesota expliqué que 3M quittant le marché présente un risque pour la sécurité nationale, principalement en raison de la vitalité du PFAS pour la production de puces. Le Congrès et l'administration Biden ont alloué $53 milliards pour augmenter la production de puces aux États-Unis, dans l'espoir de mettre fin à la dépendance des États-Unis vis-à-vis de la Chine pour les puces.

C'est là que le débat sur les PFAS devient géopolitique. McCollum est allé jusqu'à dire que l'administration Biden pourrait ordonner à 3M de continuer à produire des PFAS et d'utiliser la loi sur la production de défense, qui oblige les entreprises privées à hiérarchiser les besoins du gouvernement.

Ainsi, d'une part, nous avons des agences gouvernementales qui limitent considérablement les PFAS aux États-Unis, tandis que dans le même temps, le Congrès peut contrer ces efforts pour exiger que les PFAS continuent d'être produits au niveau national. Il semblerait que les législateurs commencent à se rendre compte que l'élimination progressive de la production de PFAS aux États-Unis n'élimine pas la demande de PFAS tout au long de la chaîne d'approvisionnement, ce qui signifie que les producteurs de micropuces, par exemple, devront importer ces produits chimiques pour éviter une pénurie de production. . Ce n'est pas une mince affaire, étant donné qu'en 2019, la dernière fois que les données de production étaient disponibles, les États-Unis produisaient 625 millions de livres de PFAS sur le marché intérieur, dont seulement 54 millions de livres étaient importées. Un manque à gagner de 571 millions de livres est une somme importante.

Et d'où les fabricants de puces américains importeraient-ils des PFAS si la production américaine cessait ? Ironiquement, les producteurs de puces américains devraient importer l'essentiel de ce manque à gagner de Chine, ce qui compromet complètement l'objectif de relocaliser la production de puces aux États-Unis. Nous savons que c'est probablement ce qui se passera car cela s'est déjà produit en Europe lorsque l'usine belge de 3M a été temporairement fermer. Les principaux producteurs de puces coréens comme Samsung et SK Hynix ont acheté des PFAS à des fournisseurs chinois pour éviter la production les pénuries.

Il est certainement très logique d'essayer de se dissocier de la Chine en ce qui concerne les puces, en particulier avec des tensions accrues sur l'autonomie de Taiwan et l'engagement de Biden à défendre militairement Taiwan si la République populaire de Chine envahit. C'est quelque chose qui devient de plus en plus probable avec le président chinois Xi Jinping demandant à l'armée chinoise de se préparer à une invasion par 2027.

Si les producteurs de puces américains finissent par devoir importer des PFAS pour produire des puces, les États-Unis mettront la table pour un scénario étrangement similaire à la dépendance de l'Europe au gaz russe. Si, ou quand, la Chine envahit Taïwan, les États-Unis seraient dans un conflit armé actif avec un pays qui est maintenant le principal fournisseur d'intrants vitaux pour les micropuces. Dans ce scénario, ces importations prendront probablement fin, soit par décision de la Chine, soit par des sanctions contre la Chine, bloquant la chaîne d'approvisionnement.

Et le coût serait astronomique. Par exemple, les pénuries de puces ont coûté à l'économie américaine $240 milliards en 2021. La pénurie a fortement affecté l'industrie automobile, coûtant aux fabricants $210 milliard de revenus alors que les voitures attendaient que des puces soient installées. Une véritable pénurie nationale de puces, non seulement avec les voitures mais avec tous les produits qui dépendent des puces, serait si coûteuse qu'il est difficile de la prévoir.

En fin de compte, la politique PFAS doit englober une vision complète des coûts et des avantages, en tenant compte de la discussion géopolitique émergente. Il doit y avoir une voie à suivre qui permette une production responsable, garantissant une eau potable propre, tout en évitant une pénurie de puces en gros et le chaos qui en résulterait.

Publié à l'origine ici

Comment une réaction suédoise contre les huiles essentielles nuirait aux consommateurs

Que vous appliquiez du parfum avant une soirée ou un anti-moustique cet été, vous pourriez utiliser des huiles essentielles dans le processus. Les extraits concentrés de plantes sont largement utilisés à la maison et pas seulement pour les blogueurs du bien-être - ils rafraîchissent votre lessive, traitent votre acné et repoussent les mouches des fruits. Pourtant, en vertu des nouvelles règles de l'UE, l'utilisation des huiles essentielles pourrait être gravement perturbée. La présidence suédoise de l'Union européenne a la chance d'éloigner les piqûres d'insectes de nos étés.

L'Agence européenne des produits chimiques (ECHA) a annoncé son intention de faire passer ses évaluations des composés chimiques (qui incluent même de simples extraits de plantes) d'une évaluation basée sur les risques à une évaluation basée sur les dangers. La différence n'est pas seulement sémantique. Dans la communication des risques, « risque » et « danger » signifient différentes choses en anglais.

Prenons l'exemple d'être juste à l'extérieur. Le soleil représente un danger, car en plus de vous donner un coup de soleil grâce à sa lumière UV, il peut provoquer des affections plus graves telles que le cancer de la peau. Les gens gèrent ce danger en limitant leur exposition, par exemple en se tenant à l'ombre, en apportant un parasol ou en appliquant de la crème solaire. L'équation devient alors risque = danger x exposition. La question de toute évaluation des risques est donc la suivante : quelle est la probabilité qu'un certain produit ait un effet négatif sur ses utilisateurs ?

Si vous appliquiez une approche de la vie basée sur les dangers, vous craindriez les voitures sur les routes que vous ne traversez pas, vous esquiveriez sous les avions qui volent à une altitude normale ou, très franchement, vous ne sortiriez pas du tout. Malheureusement, l'ECHA a l'intention d'appliquer cette approche ouvertement trop prudente aux huiles essentielles, en les étiquetant comme dangereuses. L'agence est incitée à évaluer l'huile essentielle en vertu du règlement sur la classification, l'étiquetage et l'emballage (CLP) ((CE) n ° 1272/2008), ce qui signifie qu'elle les obligerait à porter des étiquettes d'avertissement indiquant son danger ou à être interdites de vente.

Comme pour tout, le dosage fait la différence. Bien qu'un verre d'eau soit parfaitement sûr, consommer plus de cinq litres en moins d'une heure pourrait en fait vous tuer par intoxication à l'eau. Il en va de même pour l'huile essentielle : si l'anti-moustique est parfaitement sûr pour l'homme et (heureusement) très désagréable pour les moustiques, il peut être toxique si vous en buvez. Bien que ce fait semble évident pour les consommateurs, à qui il est également conseillé de garder les huiles essentielles ou les produits chimiques tels que les produits de nettoyage hors de portée des enfants, il semble échapper aux régulateurs qui pensent qu'il s'agit d'une substance dangereuse.

Si les consommateurs n'ont pas accès aux produits à base d'huiles essentielles ou sont découragés par leur utilisation, ils sont susceptibles de se tourner vers des alternatives artificielles et peut-être plus nocives, telles que les insectifuges contenant du diéthyltoluamide, connu sous le nom de DEET, qui peut affecter le système nerveux humain et avoir un impact négatif sur les plantes et les animaux.

Les étiquettes d'avertissement peuvent avoir un effet durable sur la façon dont les consommateurs perçoivent les produits qu'ils achètent. Si les huiles essentielles sont maîtrisées par des étiquettes de danger injustifiées, cela pourrait déplacer les consommateurs vers de pires alternatives et avoir un impact sur une industrie qui est également importante. En 2022, la valeur marchande mondiale de l'huile essentielle a dépassé 24 milliards d'euros. En 2021, la France a exporté plus de 450 millions d'euros valeur de produits d'huiles essentielles. Cela signifie que la réglementation actuellement soutenue par la présidence suédoise affecterait non seulement les consommateurs de l'UE et de la Suède, mais saperait également l'industrie dynamique et en développement de ce pays.

La politique chimique est ringard, et ce n'est certainement pas aussi attrayant que l'huile essentielle utilisée pour fabriquer nos parfums. Pourtant, il est important de rappeler aux régulateurs qu'une approche paternaliste et basée sur les risques pour leur classification n'est ni nécessaire ni pratique. Les décideurs politiques doivent peser les risques et les avantages de chaque produit et agir en conséquence. Dans ce cas, agir en conséquence signifie NE PAS étiqueter tout ce qui contient des huiles essentielles comme dangereux, surtout… parce qu'en utilisation modérée, elles ne le sont pas.

Publié à l'origine ici

L'Illinois envisage une interdiction de la vape dans les espaces publics

La sénatrice d'État Julie Morrison s'est efforcée de mettre fin à consommation de tabac par les adolescents depuis son entrée à l'Assemblée générale. En 2019, elle a adopté une loi qui a porté à 21 ans la limite d'âge pour le tabagisme dans l'État. Et après avoir mené un travail considérable pour lutter contre le tabagisme, elle s'est tournée vers les vapes.

La loi actuelle de l'État sur l'Illinois sans fumée interdit de fumer en public et à moins de 15 pieds des entrées depuis 2007. Cependant, lorsque cette loi est entrée en vigueur, la plupart des gens utilisaient du tabac combustible, et maintenant Morrison aimerait l'étendre au vapotage via le projet de loi 1561 du Sénat. année, elle a également mis en place une mesure qui restreint commercialisation de produits de vapotageafin qu'il n'attire pas les mineurs.

Pendant ce temps, en 2022, le projet de loi du Sénat 3854 a été introduit d'interdire les produits aromatisés, y compris les dispositifs de vapotage au THC, les systèmes de chauffage sans combustion et les produits du tabac à chiquer. En réponse à ce projet de loi et conformément aux arguments des experts en réduction des méfaits du tabac, Elizabeth Hicks de l'analyste des affaires américaines du Consumer Choice Center, a déclaré que la promulgation d'une interdiction des saveurs pour les produits de vapotage ne ferait que ramener les anciens fumeurs à fumer.

Lire le texte complet ici

proche
fr_FRFR