fbpx

Mes: pmñ2024 f08592024-02-28T14:08:59+00:00pmmiércoles

Gravar los cigarrillos electrónicos pondrá en riesgo la vida de 4,5 millones de usuarios

Londres, 27 de febrero de 2024 – El Consumer Choice Center (CCC) está preocupado por los informes sobre la implementación de un nuevo impuesto a los vaporizadores y exige al gobierno que lleve a cabo una investigación adecuada sobre las consecuencias de un impuesto a los vaporizadores en su estrategia sobre los daños al tabaco.

En un comunicado, Mike Salem, asociado de la CCC en el Reino Unido, explicó que “este impuesto no sólo desalienta económicamente a los vapeadores, sino que también envía un mensaje de que el gobierno los está castigando por intentar dejar el tabaco. No deberíamos poner barreras a quienes intentan desesperadamente dejar de fumar; en cambio, el gobierno debería brindar apoyo a quienes lo necesitan”.

El impuesto propuesto supondría la introducción de un impuesto nuevo y separado sobre los vaporizadores además del IVA que ya existe, lo que afectaría directamente 4,5 millones de vapeadores e indirectamente algunos 6,4 millones fumadores.

Salem afirmó además que “al Reino Unido le ha ido muy bien en los últimos años en su esfuerzo por reducir la prevalencia del tabaquismo, pero ahora el gobierno actual lo está obstaculizando activamente. Estas medidas pondrán a nuestra población y especialmente a nuestros niños en mayor riesgo, ya que los consumidores recurrirán al mercado negro en busca de alternativas más baratas. Insto al gobierno a reconsiderar su posición sobre los impuestos a los vaporizadores y su estrategia más amplia para reducir la prevalencia del tabaquismo para no dañar a nuestros niños y adultos”. 

La CCC insta al gobierno a considerar la salud de los fumadores y el apoyo que puede brindarles durante la actual recesión económica. Además, a la luz de la reciente decisión del gobierno de ignorar las recomendaciones de Khan Review y la mala gestión del anuncio conjunto sobre la prohibición de los vaporizadores desechables entre Westminster y la administración descentralizada, también recomienda que el gobierno del Reino Unido lleve a cabo una investigación y coordinación adecuadas con la administración descentralizada en materia de reducción de los daños del tabaco.

Pentingnya Riset Pelaku Pengguna Vape di Indonesia untuk Kebijakan yang Tepat

Vape saat ini merupakan salah satu produk yangs udah dikonsumsi dan digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Kita, khususnya yang tinggal di daerah perkotaan, tentunya akan sangat mudah bisa melihat banyak pengguna vape di sekitar kita.

En Indonesia envía misalnya, konsumsi vape atau rokok elektrik mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Desde principios de 2011, prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia sejumlah 0,3%. Angka ini mengalami peningkatan yang pesat pada tahun 2021 menjadi 3% atau setara dengan 6,2 juta penggguna vape yang ada di Indonesia (republika.co.id, 31/5/2022).

Semakin meningkatnya pengguna vape di Indonesia ini tentu juga membawa Damak yang signifikan terhadap perkembangan industri rokok elektrik yang ada di negara kita. Pada tahun 2022 lalu mislanya, industri vape di Indonesia mampu menyerap jumlah pekerja sekitar 100.000 pekerja. Angka concisamente pero tentu bukan jumlah yang sedikit (liputan6.com, 6/13/2022).

Semakin meningkatnya pengguna vape di Indonesia ini juga menimbulkan pro dan kontra dari beberapa pihak. Asosiasi kesehatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) misalnya, menghimbau masyarakat untuk tidak menggunakan vape karena produk ini dianggap memiliki tingkat bahaya yang sama dengan rokok konvensional yang dibakar (cnnindonesia.com, 24/9/2019).

Para ello, no se puede utilizar el agar de forma segura, ni se puede utilizar un cigarrillo electrónico, ni un vaporizador industrial ni un electrodoméstico. Di kawasan Asia Tenggara sendiri, sudah ada beberapa negara yang menerapkan pelarangan konsumsi dan juga distribusi vape, diantaranya adalah Singapura dan juga Tailandia.

DI sisi lain, ada juga negara-negara yang mengambil langkah yang berbeda. Inggris misalnya, beberapa waktu lalu, justru mengeluarkan aturan yang berbeda 180 derajat dari langkah yang diambil oleh Singapura dan Tailandia. Inggris justru menggunakan vape sebagai alat yang bisa digunakan untuk membantu warganya berhenti merokok.

Lembaga penyedia layanan kesehatan publik asal Inggris, Servicio Nacional de Salud (NHS) misalnya, telah mengadvokasi hal tersebut. NHS envía un vapeo bahwa menyatakan tidak 100% aman, tetapi roko elektrik tidak menghasilkan tar dan karbon monoksida yang merupakan dua elemen yang paling membahayakan dari rokok konvensional yang dibakar, dan karena itu humidak bahaya dari vape jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan rokok (nh s.uk, 20/10/2022).

Kampanye yang dilakukan oleh NHS di Inggris sendiri sudah terbukti berhasil mengurangi jumlah perokok yang ada di negara kerajaan concisamente. Berdasarkan data dari Office for National Statistics misalnya, menunjukkan bahwa, jumlah perokok sudah berkurang di Inggris dari sekitar 14% di tahun 2020, menjadi 13,3% di tahun 2021 setelahnya (bbc.com, 12/6/2022).

Kembali ke Indonesia, fenómenos semakin meningkatnya pengguna vape di Indonesia sendiri merupakan hal yang cukup menarik untuk kita lihat dan teliti. Tentunya, dari semakin banyaknya pengguna vape di Indonesia, ada berbagai alasan beragam yang dimiliki oleh para pengguna vape conciso pero tentang mengapa mereka memutuskan untuk menggunakan rokok elektrik.

Berdasarkan survei tahun tahun 2019 misalnya, 58% perempuan dan 71% lai-laki menyatakan bahwa mereka memilih untuk mengonsumsi vape karena produk concisamente pero lebih ringan bila dibandingkan dengan rokok konvesional yang dibakar (goodstats.id, 16/1/2023). Tentunya, bila rokok konvensional dilarang, hal tersebut akan membawadamak yang signifkan terhadap banyak orang.

Di luar negeri, sudah ada penelitian yang berupaya untuk menjawab pertanyaan kira-kira apa yang akan terjadi bila vape dilarang. Di Inggris misalnya, sekitar sepertiga dari pengguna vape di negara tersebut akan beralih dan kembali menggunakan rokok konvensional yang dibakar bila rokok elektrik dilarang di negara tersebut (independent.co.uk, 4/7/2023).

Bila ini terjadi, tentu hal conciso pero merupakan bentuk kemunduran dari upaya reducción de daños dari rokok. Dengan demikian, tidak sedikit konsumen yang tidak memiliki pilihan selain menggunakan produk yang jauh lebih berbahaya seperti rokok konvensional yang dibakar.

Di Indonesia sendiri, riset seperti ini tentu sangat dibutuhkan, agar para pengambil kebijakan dapat mengeluarkan dan mengesahkan kebijakan yang tepat dan tidak kontra produktif. Sebagai salah satu negara dengan tingkat prevalensi perokok tertinggi di dunia, adanya upaya reduccion de dani daridamak rokok tentu merupakan langkah yang sangat penting untuk dilakukan.

Dengan demikian, bila sudah ada penelitian mengenai humedadk conciso, para pengambil kebijakan bisa menimbang apakah misalnya, langkah kebijakan yang keras terhadap vape, seperti regulasi ketat hingga pelarangan total, merupakan sesuatu yang tepat. Jangan sampai, langkah yang diambil justru menimbulkandamak yang lebih buruk.

Sebagai penutup, vape atau rokok elektrik saat ini merupakan hal yang menjadi bagian keseharian bagi jutaan masyarakat di Indonesia. Ada berbagai alasan dan sebab yang dimiliki oleh para konsumen untuk menggunakan produk concisamente. Para ello, adanya riset mengenai peligroku para pengguna conciso pero merupakan hal yang sangat penting, khususnya bagi mereka para pembuat kebijakan agar bisa mengeluarkan kebijakan yang tepat.

Publicado originalmente aquí

Europawahlen 2024 und Fake News: Consumer Choice Center inició 'Consumer Champs' Kandidatenbefragung um Transparenz zu wahren

El Consumer Choice Center ofrece el inicio de la campaña "Consumer Champs". Die Kampagne befragt über 12.000 Europawahlkandidaten zu ihren Positionen. Estas normas de ajuste para la orientación del fabricante del Wähler se ajustan a los 27 estados mitglieds de la UE. 

Mit über 12.000 Kandidaten im Rennen hat sich Consumer Champs zum Ziel gesetzt, die erste Anlaufstelle für Wähler zu sein, die sich darüber informieren möchten, wo Kandidaten zu Fragen von entscheidender Bedeutung für Verbraucherrechte stehen. Es geht dabei um Themen wie Handel, Digitalpolitik, Nachhaltigkeit und Gesundheit. 

Das Herzstück der Kampagne es un sitio web interactivo, auf der Wähler Kandidaten in ihrem Land erkunden können, ihre Positionen zu wichtigen Verbraucherthemen verstehen e informierte Entscheidungen am Wahltag treffen können. Nur kurz nach Start der Kampagne haben bereits über 60 Kandidaten ihre Antworten eingereicht. 

“Unsere Missionist es, die Werte und Standpunkte von Parteien und einzelnen Politikern auf europäischer Ebene ins Rampenlicht zu rücken. Wir wollen Wählern einen transparenten Einblick geben, welche Kandidaten für was stehen. Ferner wollen wir Desinformation and Fake News gegenbeugen, indem wir allen Kandidaten die Chance geben an einer zentralen Stelle ihre Positionen aufzuzeigen.” comentario de Fred Roeder, Geschäftsführer de Consumer Choice Centers. 

Para más información sobre la campaña “Consumer Champs” besuchen Sie bitte ConsumerChamps.eu.

Publicado originalmente aquí

Campeones del consumidor: un rayo de esperanza para una toma de decisiones informada en las elecciones al Parlamento Europeo de 2024

La campaña 'Consumer Champs' del Consumer Choice Center ofrece un rayo de esperanza para una toma de decisiones informada en las elecciones al Parlamento Europeo de 2024 al arrojar luz sobre las posturas de los candidatos sobre los derechos críticos de los consumidores y cuestiones de elección, lo que en última instancia capacita a los votantes para tomar decisiones que reflejen sus valores. .

En una era en la que el panorama político puede parecer un laberinto, el Consumer Choice Center (CCC) ha lanzado una campaña para ayudar a los votantes a navegar por el laberinto. La iniciativa 'Consumer Champs', diseñada para las elecciones al Parlamento Europeo de 2024, tiene como objetivo arrojar luz sobre las posturas de los candidatos sobre los derechos de los consumidores y las cuestiones de elección. Con más de 12.000 candidatos postulándose, tomar una decisión informada puede ser una tarea desalentadora. La CCC está aquí para ayudar.

El nacimiento de los 'campeones del consumidor'

La campaña 'Consumer Champs' fue concebida para abordar la creciente necesidad de transparencia en el ámbito político europeo. Al centrarse en áreas críticas como el comercio, la libertad digital y la sostenibilidad, la CCC proporciona a los votantes las herramientas para tomar decisiones informadas. El corazón de la campaña reside en su sitio web interactivo, que permite a los votantes explorar candidatos en su país y comprender mejor sus puntos de vista sobre los derechos y las opciones de los consumidores.

Leer el texto completo aquí

Ottawa debería seguir el ejemplo de Ontario y congelar los impuestos a la cerveza

El viernes, la provincia de Ontario anunció que congelará el aumento programado del 4,6 por ciento en los impuestos a la cerveza y que pospondrá cualquier aumento de impuestos hasta 2026.

Esta es una gran noticia para los bebedores de cerveza en Ontario, pero debido a políticas similares a nivel federal, está previsto que el impuesto nacional sobre el consumo de alcohol aumente un 4,6 por ciento el 1 de abril.

Ese impuesto, el impuesto de escalera mecánica, está indexado a la inflación y cada año ofrece a todos los canadienses un regalo no deseado del Día de los Inocentes.

Añádase este aumento de impuestos al hecho de que los impuestos por sí solos representan alrededor del 50 por ciento del precio de la cerveza, el 65 por ciento del precio del vino y el 75 por ciento del precio de las bebidas espirituosas. Este es un castigo cruel por el delito de querer disfrutar de una bebida alcohólica y socializar o relajarse.

En lugar de volver a aumentar los impuestos este 1 de abril, Ottawa debería seguir el ejemplo del primer ministro de Ontario, Doug Ford, y suspender el impuesto de escalera mecánica. El impuesto escalonado elimina la discusión sobre políticas del proceso democrático y elimina por completo a los consumidores del debate.

Y al indexar los impuestos a la inflación, castiga incómodamente a los consumidores por las presiones inflacionarias y, de hecho, añade presión al alza sobre la inflación.

Irónicamente, el hecho de que los impuestos aumenten automáticamente los precios ejerce una presión alcista continua sobre la inflación general, y cuanto más persistan estos tiempos inflacionarios, más tiempo tardará el Banco de Canadá en comenzar a recortar las tasas de interés.

Se trata de un círculo vicioso en el que los impuestos indexados a la inflación alimentan el problema de la inflación, elevando las tasas, encareciendo las hipotecas y dejando a todos más pobres a largo plazo, excepto al gobierno federal.

Y cuando comparamos cómo se grava el alcohol en Estados Unidos y Canadá, parece como si estuviéramos echando sal en las heridas de los consumidores canadienses.

Para el estadounidense promedio, comprar una caja de cerveza tiene $4.12 en impuestos asociados. Para el canadiense promedio, el impuesto pagado por esa misma caja de cerveza es más de cinco veces mayor, $20,31.

La tasa impositiva federal sobre la cerveza en Canadá es 2,8 veces mayor que en los Estados Unidos, mientras que la tasa impositiva provincial promedio es más de seis veces mayor que la tasa impositiva estatal promedio de los EE. UU.

Por supuesto, tiene que haber impuestos sobre el alcohol, pero ¿es necesario que los impuestos sean tan altos? ¿Y es necesario que se les obligue a aumentar cada año con un impuesto escalonado?

En el anuncio de la pausa de Ontario, Ford dijo; "Nuestro gobierno busca constantemente formas de hacer la vida más asequible para las familias de Ontario devolviendo más dinero a sus bolsillos".

¿No sería bueno que Ottawa hiciera lo mismo?

Y lo que hace aún más posible la perspectiva de una pausa es el hecho de que Ottawa se ha mostrado abierta a dar a los consumidores un respiro en el pasado. En 2022, la oficina de la ministra Chrystia Freeland hizo lo correcto y eliminó el impuesto especial sobre la cerveza sin alcohol, y el año pasado el gobierno limitó el impuesto a las escaleras mecánicas al dos por ciento.

Si no hay ganas de seguir completamente el ejemplo de Ford, Ottawa podría simplemente repetir lo que hicieron el año pasado y limitar nuevamente el impuesto a las escaleras mecánicas al dos por ciento. Con una inflación general actualmente situada en el 3,4 por ciento, un límite del 2 por ciento ejercería presión a la baja sobre el índice de precios al consumidor, que es la principal métrica del Banco de Canadá para decidir dónde debería estar su tasa de interés clave.

Resulta que el 2 por ciento también es la tasa de inflación objetivo del Banco de Canadá, lo que plantea la pregunta: si es lo suficientemente buena para el Banco de Canadá, ¿no es lo suficientemente buena para cualquier impuesto indexado a la inflación?

La inflación ha causado estragos en la economía canadiense en los últimos años, y Ottawa tiene la oportunidad de pausar o limitar el impuesto de las escaleras mecánicas y darles a los canadienses algo por lo que brindar.

Publicado originalmente aquí

Por qué el gobierno no debería regular el acceso de los jóvenes a las redes sociales

Los padres y los políticos han expresado su preocupación por la seguridad de los jóvenes en línea desde que comenzó la vida en línea. Ahora se presentan propuestas para la verificación obligatoria de la edad. ante los legisladores estatales y están ganando terreno. Por ejemplo, la Cámara de Representantes de Florida, liderada por los republicanos, recientemente legislación aprobada eso requiere que “muchas plataformas prohíban a cualquier persona menor de 16 años crear una cuenta” y requiere que las empresas de redes sociales “cancelen las cuentas de los usuarios menores de 16 años en el estado”. La ley de Florida recuerda a la Aviso parental advertencias aprobadas en los años 1980 y prohibiciones de videojuegos de los años 1990.

Estas restricciones basadas en la edad ignoran el hecho de que los niños se desarrollan a diferentes velocidades y que el propósito de las actividades en línea puede variar mucho.

Toma por ejemplo, Malal Yousafzai, quien comenzó bloguear sobre la injusticia en su país cuando sólo tenía 11 años. Yousafzai sobrevivió por poco a una bala en la cabeza después de ser atacado por los talibanes por hablar tanto en línea como fuera de línea sobre la represión de los niños en Pakistán. En reconocimiento a su lucha por el derecho de todos los niños a la educación, Yousafzai se convirtió en la persona más joven de la historia, a la edad de 17 años, en recibir el Premio Nobel de la Paz.

En el otro extremo del mundo, James Stephen “Jimmy” Donaldson, alias Mrbeast, comenzó a hacer YouTube a la edad de 13 años en Charlotte, Carolina del Norte. Hoy en día, MrBeast es uno de los más prolíficos e influyentes del mundo. creadores de contenido con la asombrosa cifra de 235 millones de suscriptores. Ya sea limpiando los océanos del mundo o brindar apoyo para niños necesitados de atención médica, MrBeast pone su dinero donde está su boca, al suma de $100 millones sólo en 2023.

Claramente, Internet es una herramienta que empodera a algunos adolescentes, y el proyecto de ley de Florida parece asfixiante para los MrBeasts y Yousafzais del mundo.

También cabe señalar que algunas de las empresas más innovadoras de las que nos beneficiamos hoy fueron creadas por adolescentes que probaron los límites de Internet desde el principio. y sin trabas. Steve Jobs conoció a Steve Wozniak cuando solo tenía 14 años y después de mucha exploración y retoques, Apple Computer Inc. surgió cuando Jobs tenía solo 21 años.

Mark Zuckerberg empezó a jugar con la programación informática a los 11 años y lanzó Facebook cuando tenía 19 años. Si supiera con qué frecuencia en el futuro el Congreso lo interrogaría por todo lo que logró y que algún día sería juzgado y culpado por la “crisis de explotación sexual infantil en línea”. De hecho, la semana pasada, Zuckerberg, en representación de Meta, junto con Linda Yaccarino de X, Evan Spiegel de Snapchat y Jason Citron de Discord, enfrentaron acusaciones de poner en peligro a niños a través de sus plataformas de redes sociales. Vale la pena señalar, sin embargo, que la edad promedio de los usuarios de Meta y Discord está entre 25 y 34 años, y la edad promedio de los usuarios de Snapchat está entre 18 y 34 años.

Ahora bien, esto no quiere decir que estas plataformas no representen ningún problema. problemas para los niños; En verdad, hay muchas preocupaciones. Pero instituir mayores restricciones gubernamentales a los usuarios de Internet y a los sitios de redes sociales es problemático en muchos niveles, y a continuación se presentan algunas razones breves.

Lo que constituyen las redes sociales está evolucionando rápidamente y la forma en que uno inicia sesión también puede variar ampliamente. Dado que los consumidores quieren transacciones sin fricciones, las empresas están ansiosas por cumplir. Las plataformas y aplicaciones ahora tienen sistemas de inicio de sesión único y capacidades de sincronización, y el registro en nuevos servicios se facilita cuando se transfieren datos desde una cuenta existente. Como tal, el consentimiento de los padres podrá omitirse fácilmente o convertirse en una solicitud cada vez más repetitiva (similar a las ventanas emergentes de permiso de cookies).

Si existe una restricción de edad para el acceso al sitio o si es necesario conceder el permiso de los padres, entonces debe haber un medio para demostrarlo. Por lo tanto, se recopilarán datos confidenciales para confirmar la identidad tanto de los niños como de sus padres, y no hay garantía de que esa información pueda mantenerse segura. Según el Tribunal de Vigilancia de Inteligencia Exterior de EE. UU., durante los últimos años, el FBI ha abusado conscientemente de las libertades civiles estadounidenses. haciendo mal uso de los datos mediante la recogida de comunicaciones personales.

Los críticos del consentimiento obligatorio de los padres han argumentado que obtener permiso a veces es más fácil de decir que de hacer. No debemos dar por sentado que todos los niños tienen un hogar estable o padres que los apoyan. El acceso a las redes sociales puede ser crucial para quienes se encuentran en hogares de acogida o programas de intercambio de estudiantes, y para quienes necesitan apoyo y comunidad fuera del hogar. Además, dependiendo de los antecedentes y la condición de ciudadano, es posible que haya padres que todavía se sientan perdidos navegando por los protocolos digitales o inseguros a la hora de cargar documentos personales.

En lugar de que los políticos adopten una postura de Estado niñera respecto del uso de las redes sociales, se debe alentar a los padres y cuidadores a que jugar un papel más importante en el desarrollo en línea de sus hijos. Al colocar al gobierno como guardián, se resta importancia al propósito de la participación y la autoridad de los padres y este es un asunto preocupante dado que los estudios muestran fuertes "La crianza de los hijos mitiga los problemas de salud mental relacionados con las redes sociales.”.

Se debe dar prioridad a equipar a los padres para ayudar a los niños a navegar de forma segura en el ámbito en línea, antes que a instituir políticas de precaución. Opciones para mejorar seguridad infantil en línea son fácilmente disponibles, y hay una variedad de herramientas y técnicas que se puede aprovechar. Y, si los padres tienen preocupaciones importantes sobre las actividades en línea de sus hijos, la solución más simple (pero potencialmente la más difícil) es simplemente impedir el uso del dispositivo.

Así, como debates la edad y el acceso proliferan, sería bueno considerar todas las áreas problemáticas que pueden surgir con protocolos en línea más estrictos. Y aunque existen algunos inconvenientes realmente devastadores que se han asociado con el uso de las redes sociales, debemos recordar que no todos Los jóvenes usan las redes sociales. de la misma manera y lo que más se necesita hoy en día es la paternidad, no la política.

Publicado originalmente aquí

MANIFS D'AGRICULTEURS EN EUROPE : OUI, LES DIRECTIVES EUROPÉENNES SONT EN FAUTE !

A través de toda Europa, los agricultores experimentan su satisfacción... con justo título.

Dans de nombreux pays européens, les agriculteurs protestent et ils ont raison de le faire.

Qu'il s'agisse des agriculteurs néerlandais qui protestent contra la réduction prévue du nombre d'éleveurs, des agriculteurs allemands qui s'opposent à la hausse prévue des tax sur leurs diesel ou des agriculteurs français qui déplorent les margens globales sur leurs produits, les agriculteurs de toute l'Europe se sont soulevés contra l'excès de réglementation.

Je sais que muchos oponentes pretenden pretender que los agricultores son en fait motivés par l'assistanat, pero pienso que es una visión très parcial de la cuestión. Sí, la mayoría de los agricultores que reciben pagos dirigen el cuadro de la política agrícola comuna (PAC), y oui, el PAC representa un gran partido del presupuesto de la UE.

Pero lo que se ignora en este debate es que los agricultores también son considerablemente generados por las regulaciones existentes que obligan a no cultivar ciertas partes de las tierras. Qu'il s'agisse de la politique de gel des terres menée par Bruxelles pour mantenir les prix du marché à un niveau elevé, ou des règles de l'UE visant à maintenir les terres agricoles en jachère pour contribuer à la régénération des sols, les burcrates semblent souvent croire qu'ils connaissent mieux la profession agricole que les agriculteurs eux-mêmes.

Además, la «négociation» del gobierno francés con las cadenas de distribución para evitar la inflación de los denrées alimentarios hace esencialmente pesar le fardeau sur les agriculteurs. Si los agricultores están contentos, el gobierno francés tendrá que resolver el problema de las subvenciones. Il s'agit d'une boucle sans fin, qui n'est pas propice à l'élaboration d'une bonne politique.

Los agricultores nunca deben ser dependientes de estos asistentes, pero el sistema reglamentario les exige a los dependientes de estos asistentes. Je dirais également que el PAC hace disparaître, pero para qué puede disparar, una gran parte del sistema reglamentario debe partir de ella.

Prenons el ejemplo de la estrategia « De la granja a la mesa« , una política que, heureusement, est relativament morte sur le plan législatif. Esta estrategia consiste en hacer que el sistema alimentario sea más duradero desde un punto de vista ambiental, pero se trata de hacerlo a la inversa, aumentando las emisiones de dióxido de carbono con los alimentos biológicos (que necesitan más energía para obtener el même résultat) et en augmentant les prix de l'énergie pour les consommateurs. Actualmente, la Comisión Europea también ha retirado la directiva principal del programa, que se refiere a la utilización duradera de pesticidas y permite reducir el uso de pesticidas de aquí a 2030.

La reacción política aux manifestaciones de los agricultores a été très révélatrice: ils tentent de desviar la atención.

« Ne nous laissons pas devenir plus semblables aux Etats-Unis. » Tel est le message du ministre allemand de l'Agriculture, Cem Özdemir, concerniente a las manifestaciones de agricultores que siguen a los países después de las semanas. Les agriculteurs se sont exprimés et organisés contre les hausses de tax prévues sur les véhicules agricoles et le carburant diesel, dans un contexto de crisis du coût de la vie qui pèse déjà sur le quotidien des Allemands.

« Il s'agit d'un clivage Dangereux qui peut mener à des conditiones similaires à celles des Etats-Unis, declaró M. Özdemir a la prensa alemana. Les gens ne se parlent plus, ne se croient plus et s'accusent mutuellement de tous les maux du monde. L'objectif doit être de 'garder le pays uni au centre'. »

Il est commode pour un miembro del gabinete allemand de détourner l'attention des problèmes liés aux politiques de son propre gouvernement en pointant du doigt la polarization politique américaine. En realidad, las dos preguntas no son comunes y los agricultores alemanes son la razón de ser de su satisfacción.

Bajo la presión política de las manifestaciones, Berlín ha terminado por ceder, por renunciar al aumento de impuestos sobre los tractores y por la promesa de suprimir progresivamente las ventajas fiscales del diésel durante un período más largo. Sin embargo, los agricultores ont promis de continuer à protester, car les supresiones progresistas finiront par coïncider con les malvaises années de récolte et la faillite s'ensuivra pour de muchos agriculteurs vivant au bord du gouffre financier. Esta situación es una mala decisión para una coalición gubernamental que ya es exigente. Además, 80% des Allemands qui n'ont aucun lien avec le secteur agricole expriment leur soutien aux protestations des agriculteurs.

D'une suree manière, le ministre Özdemir a raison. El medio ambiente político en Alemania está fuertemente polarizado. Mais contrairement au croquemitaine américain auquel il fait alusion, la polarization se fait entre sa coalicion gouvernementale et tous les autres. La misma elección se produce actualmente en Francia, Polonia y Rumania, où les agriculteurs protestent contra los efectos de la regulación europea y la disminución de los márgenes de sus productos.

Durante los siguientes diez años, los gobiernos alemanes y europeos seguirán un programa devastador que entrañará una casa con precios de carburantes, electricidad y gas. Alemania es dependiente del gas ruso, después de haber progresado fuera del servicio de las centrales nucleares parcialmente operativas, antes de decidir que todos los contribuyentes deudores pagadores se repetirán más para tener el privilegio de poder pagar los gastos energéticos de los mayores. continente. Por consiguiente, los sociales democráticos y los ecologistas son devenus impopulaires y corren el riesgo de ser batidos en las urnas.

Los dirigentes europeos pueden bordear este problema de dos maneras. Soit ils reconnaissent que le secteur agricole est surréglementé et lui ouvrent la voie vers la fin de la dependance aux subventions, soit ils comprennent que la seguridad energética y la reducción de las emisiones de gas con efecto de serre nécessitent l'utilización de la energía nuclear y constituye la base de una nación industrial que prospera, por lo que (en bonificación) ils font passer tous ceux qui ne sont pas d'accord avec eux pour des extremistas de extrema derecha.

Quelle voie choisiront-ils ?

Publicado originalmente aquí

La 'Ley de seguridad infantil en línea' es un caballo de Troya para la censura digital

Washington DC – Esta semana, un grupo bipartidista de senadores estadounidenses dio a conocer una nueva versión del Ley de seguridad infantil en línea, un proyecto de ley que tiene como objetivo imponer diversas restricciones y requisitos a las plataformas tecnológicas utilizadas tanto por adultos como por menores.

Yaël Ossowski, subdirectora del Consumer Choice Center, un grupo de defensa del consumidor con sede en Washington, DC respondió: 

“Este proyecto de ley es constitucionalmente dudoso y crearía nuevos poderes que deberían asustar no sólo a todos los padres sino también a todos los usuarios de plataformas digitales como las redes sociales. Al redactar nuevas reglas federales para “proteger” a los niños en línea, el efecto real será degradar significativamente la experiencia de todos los usuarios y al mismo tiempo poner en riesgo su información personal confidencial”.

los Centro de elección del consumidor cree firmemente que si el Congreso aprobara un proyecto de ley de este tipo, los legisladores se alinearían con la idea de que el gobierno debería tener la última palabra sobre el acceso de los jóvenes a Internet, disminuyendo así el papel de los padres en la vida de sus hijos. 

“Hay formas de proteger a los niños en línea, pero eso comienza en casa con la autoridad y supervisión de los padres. Es una opción falsa aceptar el control de toda una generación respecto de una tecnología que se ha vuelto tan integral en la vida diaria y contribuye a su desarrollo como ciudadanos responsables”, añadió Ossowski. 

Los defensores de la privacidad y del consumidor son haciendo sonar la alarma sobre lo que esta ley significaría en la práctica. Las normas que emanan de Washington y que otorgan el “deber de diligencia” a los funcionarios gubernamentales erosionarán la autoridad de los padres y la elección del consumidor en línea. El proyecto de ley busca controlar las “características de diseño” y limitar la inclusión por parte de los desarrolladores de sistemas de recomendación personalizados, notificaciones, filtros que alteran la apariencia y compras dentro del juego para aplicaciones utilizadas por menores. Se trata de una ofensiva no sólo contra las funciones que funcionan funcionalmente para ciertas aplicaciones, sino también contra las funciones que las hacen divertidas para los usuarios.

"KOSA está fundamentalmente equivocada" concluyó Ossowski. “Nosotros, como sociedad, debemos confiar en que los padres tienen el derecho último de decidir si sus hijos acceden o no a determinados sitios web o servicios, y no en los funcionarios gubernamentales indiferentes sentados en Washington. Nadie sabe más que los padres qué es lo mejor para sus hijos”.  

Las consultas de los medios y las solicitudes de entrevistas pueden enviarse al director de medios Stephen Kent: Stephen@consumerchoicecenter.org

***

El CCC representa a los consumidores en más de 100 países de todo el mundo. Supervisamos de cerca las tendencias regulatorias en Ottawa, Washington, Bruselas, Ginebra y otros puntos críticos de regulación e informamos y activamos a los consumidores para que luchen por #ConsumerChoice. Obtenga más información en ConsumerChoicecenter.org.

Tirar dinero a los “TikTokers” no detendrá los barcos, pero corre el riesgo de una mayor influencia china

Londres, 15 de febrero de 2024 – El Consumer Choice Center (CCC) está extremadamente preocupado por los informes de que el Ministerio del Interior tiene la intención de pagar a personas influyentes de TikTok para que insten a los inmigrantes a no cruzar el canal. 

En una declaración, Mike Salem, asociado nacional de la CCC en el Reino Unido, afirmó que se trata de un "grotesco desperdicio del dinero de los contribuyentes". Salem destacó además la naturaleza contradictoria de esta campaña al utilizar TikTok, una aplicación que ahora está prohibida en los dispositivos parlamentarios del Reino Unido por riesgos de ciberseguridad, para disuadir a los inmigrantes de cruzar el canal. Añadió: "No hay forma de cuantificar y medir la eficacia de estos influencers y sus vídeos".

En sus comentarios finales, Salem señaló: “Me sorprende que estén animando a personas influyentes a aumentar el contenido en una plataforma que consideran peligrosa y, lo que es más peligroso, a discutir asuntos políticos británicos. El hecho de que el Ministerio del Interior esté pagando a personas influyentes como un medio para evadir la prohibición del uso gubernamental de TikTok lo dice todo”.

La CCC ha advertido continuamente sobre TikTok y sus peligros para los usuarios vulnerables. La CCC cree en la libertad de elección, pero también en la libertad de vigilancia, especialmente de un régimen que lleva a cabo espionaje masivo a sus ciudadanos en todo el mundo y comete violaciones de derechos humanos con regularidad. Es abominable que el gobierno del Reino Unido esté promoviendo a personas para que publiquen en ese medio de comunicación social, y pedimos al gobierno que retire estos planes y revise su proceso de toma de decisiones para permitir que esta política llegue tan lejos.

La ley de redes sociales para jóvenes de Virginia causaría caos en línea y disminuiría la autoridad de los padres

Richmond, Virginia, EE.UU. – En nombre de la “seguridad” y el “mejor interés” de los niños, el Senado de Virginia esta semana pasó un proyecto de ley draconiano de verificación de edad para plataformas en línea que requeriría que los jóvenes que quieran utilizar las redes sociales proporcionen pruebas exhaustivas de su edad y soliciten el consentimiento de sus padres. Esta legislación no es tan sensata como sus partidarios quieren hacer creer a los votantes. 

La SB 359 describe las restricciones a los llamados “feeds adictivos” que ofrecen contenido a los usuarios, pero establece importantes exenciones que podrían ser utilizadas por plataformas como YouTube, TikTok y Snapchat para evadir la regulación que afecta a sus competidores.

Yaël Ossowski, subdirectora del Consumer Choice Center, un grupo de defensa del consumidor con sede en Washington, DC, responde a la aprobación del Senado de VA: 

“La legislación, con su enfoque en “feeds adictivos” que “conectan a los usuarios”, significa que varios servicios estarían posiblemente exentos, incluidos YouTube, TikTok y Snapchat. Esto demuestra que en lugar de intentar “proteger a los niños” en términos generales, esto no es más que una represalia legislativa contra determinadas empresas de redes sociales, y tiene más que ver con la política que con un debate positivo sobre la seguridad en línea”.

Este proyecto de ley sigue los pasos de la adopción del año pasado de SB1515, que responsabiliza a los sitios web de “contenido dañino” ante los tribunales civiles si permiten el acceso a menores, similar a la llamada “prohibición de la pornografía” aprobada por primera vez el año pasado en Utah. Si la Cámara de Delegados aprueba el proyecto de ley, crearía un laberinto de políticas armadas que impedirían a los adolescentes interactuar con amigos y familiares en línea, supondría una carga para los futuros advenedizos de las redes sociales y crearía riesgos para la privacidad. 

Yaël Ossowski añadió: “Al exigir que los sitios web de redes sociales recopilen fotografías, identificaciones y documentación confidenciales de menores de Virginia, están exigiendo enormes riesgos de privacidad que serán el sueño de un ciberhacker. Este proyecto de ley no sólo dificulta que los jóvenes comiencen a utilizar Internet y todos los beneficios que ofrece, sino que consagra en la ley la idea de que los gobiernos deben elegir qué redes sociales pueden o no usar los jóvenes, en lugar de los padres. Esto es mantener a una generación de personas alejada de Internet”.

El Consumer Choice Center cree firmemente que si Virginia aprobara un proyecto de ley de este tipo, el estado se alinearía con la idea de que el gobierno debería tener la última palabra sobre el acceso de los jóvenes a Internet, disminuyendo el papel de los padres en el desarrollo digital de sus hijos. vidas. 

"Eso es fundamentalmente erróneo" concluyó Ossowski. “Nosotros, como sociedad, debemos confiar en que los padres tienen el derecho último de decidir si sus hijos acceden o no a ciertos sitios web o servicios, no los funcionarios gubernamentales sentados en Richmond. Nadie sabe mejor que los padres qué es lo mejor para sus hijos”. 

**

La CCC representa a consumidores en más de 100 países de todo el mundo que desean políticas públicas inteligentes que sean aptas para el crecimiento, eleven la innovación tecnológica y protejan la libertad de estilo de vida. Seguimos de cerca las tendencias regulatorias en Washington, DC, Ottawa, Bruselas, Ginebra y otros puntos críticos de regulación e informamos y activamos a los consumidores para que luchen por la elección del consumidor. Obtenga más información en ConsumerChoicecenter.org..

Vuelve al comienzo
es_ESES