fbpx

Mois : PMseptembre

Vape dan RPP n°109 Tahun 2012

Industri vape saat ini merupakan salah satu industri yang semakin berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk juga di Indonesia. Kita, khususnya yang tinggal di daerah urban dan perkotaan, pasti bisa dengan mudah menemukan berbagai orang yang menjadi pengguna vape dan rokok elektrik, dan juga berbagai toko yang menjual berbagai produk-produk tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, sebagai salah satu dampak yang tidak terelakkan dari perkambangan industri vape yang pesat ini di Indonesia, timbul berbagai pro dan kontra terhadap fenomena tersebut. 

Di satu sisi, ada pihak yang menentang dan beranggapan bahwa fenomena semakin meningkatnya industri vape sebagai sesuatu yang sangat négatif.

Bagi sebagian pihak, vape atau rokok elektrik merupakan sesuatu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, sama seperti atau bahkan lebih berbahaya, dengan rokok konvensional yang dibakar. 

Untuk itu, fenomena semakin meningkatnya industri vape dan juga meningkatnya para konsumen rokok elektrik merupakan sesuatu yang sangat berbahaya bagi kesehatan publik, dan harus dapat segera diatasi.

Mereka yang memiliki pandangan seperti ini umumnya akan mengadvokasi berbagai kebijakan yang ditujukan untuk melarang, atau setidaknya membatasi melalui regulasi yang sangat ketat, peredaran dari berbagai produk-produk rokok elektrik. 

Hal ini dapat berupa berbagai kebijakan, seperti pembatasan peredaran, mengenakan pajak dan cukai yang tinggi, hingga berbagai kebijakan lainnya.

Di Indonesia sendiri, tidak sedikit pihak-pihak yang memiliki pandangan tersebut dalam melihat fenomena semakin meningkatnya jumlah pengguna vape. 

Mereka melihat fenomena semakin meningkatnya para pengguna vape, yang banyak didominasi oleh kalangan muda yang di perkotaan, Untuk itu, diperlukan berbagai aturan yang ditujukan untuk membatasi masyarakat untuk bisa mendapatkan dan mengkonsumsi produk-produk rokok elektronik.

Beberapa waktu lalu misalnya, peemerintah melakukan revisi terhadap Peraturan Pemerintah n° 109 tahun 2012, yang merupakan perturan yang meregilasi produk-produk tembakau yang dijual kepada masyarakat, salah satunya adalah rokok. 

Dalam revisi tersebut, dicantumkan juga produk-produk yang termasuk dalam Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL), di mana mencakup juga produk-produk rokok elektrik.

Salah satu poin yang tercantum di dalam peraturan tersebut adalah, setiap produsen produk-produk tembakau, termasuk juga HTPL seperti rokok elektrik, harus mencantumkan bahwa produk tersebut « mengandung lebih dari 7000 zat kimia berbahaya serta lebih dari 69 zat penyebab kanker ». 

Adanya poin ini tentu merupakn sesuatu yang tepat untuk menggambarkan produk rokok konvensional yang dibakar, nemun tidak relevant untuk mendeskripsikan kandungan yang terdapat dalam produk-produk rokok elektrik (ekonomi.bisnis.com, 28/07/2022).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa rokok konvensional yang dibakar merupakan produk yang sangat berbahaya untuk dikonsumsi, dan bisa meneyababkan penggunanya untuk terkena berbagai penyakit kronis, seperti kanker dan serangan jantung. Hal ini dikarenakan terdapat ribuan zat kimia berbahaya yang terkandung di dalam rokok konvensional yang dibakar.

Dengan demikian, regulasi untuk mencantumkan dampak bahaya kandungan yang terkandung dalam produk rokok konvensional merupakan sesuatu yang tepat. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menanggulangi dampak bahaya rokok terhadap kesehatan publik melalui pengurangan jumlah perokok yang ada di Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa, kebijakan regulasi ini merupakan kebijakan yang memiliki tujuan awal yang baik. Rokok konvensional yang dibakar merupakan salah satu musuh terbesar kesehatan publik, yang telah menimbulkan berbagai penyakit kronis terhadap jutaan orang di seluruh dunia, termasuk juga Indonésie.

Namun, kebijakan yang didasari oleh tujuan yang baik tidak berarti menjadi kebijakan tepat dan akan menghasilkan dampak yang positif. Kebijakan regulasi yang mengharuskan produk-produk HTPL seperti rokok elektrik untuk mencantumkan kandungan 7.000 zat kimia berbahaya seperti rokok konvensional yang dibakar adalah sesuatu yang keliru.

Vape atau rokok elektrik misalnya, merupakan produk yang jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar. 

Pada tahun 2015 lalu misalnya, lembaga kesehatan publik asal Inggris, Public Health England, menerbitkan laporan mereka yang menyatakan bahwa rokok elektrik 95% lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar (gov.uk, 19/8/2015).

Hal ini dikarenakan, vape atau rokok elektrik memiliki kandungan yang berbeda dengan rokok konvensional yang dibakar. Dua bahan utama yang terkandung di dalam cairan rokok elektrik adalah apa yang disebut dengan propylène glycol (PG) dan glycérine végétale (VG), yang berfungsi sebagai penambah rasa dan pembuat uap. 

Kedua bahan tersebut juga merupakan bahan yang umum digunakan sebagai perasa kue dan makanan lainnya, dan telah dinyatakan aman oleh lembaga regulasi makanan dan obat-obatan Amerika Serikat, Food and Drugs Administration (fda.gov, 24/10/2019).

Di berbagai negara, seperti di Britania Raya, vape atau rokok elektrik justru digunakan sebagai alat yang dapat membantu para perokok untuk menghentikan kebiasaannya yang berbahaya. 

Pemanfaatan vape atau roko elektrik sebagai alat yang dapat membantu seseorang berhenti merokok tentu merupakan hal yang sangat penting, terlebih lagi mengingat Indonésie merupakan salah satu negara dengan jumlah populasi perokok aktif tertinggi di dunia.

Dengan demikian, aturan regulasi yang mewajibkan seluruh produk hasil olahan tembakau, salah satunya vape atau rokok elektrik, untuk mencantumkan kandungan 7.000 zat kimia berbahaya adalah sesuatu yang tidak tepat. 

Dengan demikian, konsumen akan berpikir bahwa rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok, dan bisa mengurangi insentif para perokok untuk mengganti kebiasaan mereka yang sangat berbahaya ke produk yang jauh lebih aman.

Sebagai penutup, rokok merupakan produk yang sangat berbahaya bagi kesehatan publik. Untuk itu, dibutuhkan berbagai kebijakan yang ditujukan untuk memberi disinsentif bagi seseorang untuk mengkonsumsi produk tersebut, salah satunya yang paling penting adalah memberikan produk alternatif lain yang jauh lebih aman.

Publié à l'origine ici

INTERDICTION 2.0

Une initiative européenne propose la fin des produits à base de nicotine, avec une restriction définitive pour ceux nés depuis 2010. Autant de clients potentiels pour les futurs contrebandiers…  

Une nouvelle initiative citoyenne européenne, introduite par une organisation espagnole à but non lucratif, demande l'interdiction de la vente de tabac et de produits à base de nicotine aux personnes nées après 2010. Si la pétition recueille un nombre suffisant de signatures dans l' UE, elle devra être examinée par la Commission européenne.

Cette proposition est frappante à plus d'un titre. Les objectifs fournis par le militant espagnol NoFumadores sont plutôt courts et ne permettent pas d'établir si les règles qu'il propose sont efficaces :

« La pandémie de tabagisme est la première cause de décès évitable. Les mégots sur les plages causent des dommages environnementaux à l'océan et à sa faune, dans les forêts ils provoquent des incendies et contaminent le sol et l'eau. 

Pour éviter aux nouvelles générations de tomber dans le tabac, en plus d'agir avec force contre les dangers environnementaux causés par les mégots et de lutter contre le tabagisme, il est nécessaire de : promouvoir la première génération européenne sans tabac d'ici 2028, en mettant fin à la vente de tabac et de produits à base de nicotine aux citoyens nés depuis 2010. »

En fait, il n'existe peut-être pas mode opératoire d'un point de vue politique aussi brutalement simpliste que la prohibition, tant dans sa motivation que dans son exécution. On pourrait penser qu'après une décennie de tentatives ratées pour limiter la vente et l'utilisation du cannabis, les décideurs politiques et les militants comprendraient enfin que ces interdictions non seulement ne fonctionnent pas, mais sont même contre-productives.

L'ère des criminels

L'ère de la prohibition aux États-Unis est surtout remarquable par sa capacité à créer certains plus grands réseaux criminels de l'histoire de l'humanité. La contrefaçon et la contrebande d'alcool ont enrichi des criminels bien connus comme Al Capone, John Dillinger, Baby Face Nelson ou encore Bonnie et Clyde, qui, malgré leur réhabilitation cinématographique, ont été responsables du meurtre et de l'extorsion de milliers d 'innocents.

L'Espagne elle-même a connu une ère de prohibition sous le gouvernement fasciste de Franco. Le dictateur lui-même, qui était un abstinent qui considérait que le vin n'était utile qu'à des fins sacramentelles, a introduit des contrôles stricts sur l'alcool, les drogues et les fêtes – tous supposés susceptibles de perturber l' harmonie religieuse et familiale de la nouvelle Espagne nationaliste.

Ce n'est que depuis les années 1970 que l'Espagne a retrouvé son goût pour les vices, sans se soucier de savoir s'ils sont adaptés à une vision conservatrice de la façon dont ils devraient vivre leur vie.

Dans l'Europe d'aujourd'hui, alors que les gouvernements tentent de rendre le prix du tabac et des produits à base de nicotine prohibitif, le marché noir est florissant. Pas plus tard que ailette août, une action conjointe de la police fédérale belge, du service de contrôle des gardes-frontières polonais et du bureau de police criminelle lituanien a permis de découvrir deux chaînes entières de fabrication de cigarettes destinées à produire diverses marques connues, pour une valeure de plus 73 M€. Selon Europol, 274 millions de cigarettes, 88 tonnes de tabac coupé, 65 tonnes de tabac pour pipe à eau et 40 tonnes de tabac brut ont été saisies.

De nouveaux clients pour les contrebandiers

En mai, les douanes françaises avaient déjà saisi 40 tonnes de cigarettes de contrefaçon. Tandis que, début août, les autorités belges ont arrêté 45 personnes et saisi 28 millions de cigarettes. En 2021, toutes les autorités européennes réunies ont saisi 430 millions de cigarettes illégales.

Alors que les douanes cherchent des aiguilles dans des bottes de foin, permettent de traquer les contrebandiers, elles luttent contre un marché noir qui fournit des produits du tabac à ceux qui trouvent que fumer est tout simplement trop cher. Quiconque s'est rendu à la gare du Nord, à Paris, a pu constater la myriade de revendeurs qui ne vendent pas de drogues dures, mais qui sont capables de vous fournir des paquets de cigarettes, pour une fraction du prix que vous payez chez un marchand de journaux.

Cependant, une interdiction générationnelle créerait une interdiction stricte basée sur l'âge du consommateur, sans tenir compte de son pouvoir d'achat, et donc beaucoup plus de clients potentiels pour les gangsters inconnus du commerce illégal de cigarettes.

Tout cela soulève la question suivante : parmi ceux qui ont examiné la question, qui regardaient les leçons de la prohibition et tentaient de la répéter ? Les énoncés peuvent interdire un produit, mais ils ne peuvent pas interdire la demande – et là où il y a une demande, l'offre suivra rapidement.

Cela ne veut pas dire que les effets du tabagisme sur la santé ne sont pas réels ; ils le sont. C'est pourquoi il est d'autant plus regrettable que la pétition mette sur le même plan les produits à base de nicotine tels que les cigarettes électroniques ou et les cigarettes classiques.

Il est prouvé que les produits de vapotage sont beaucoup plus sûrs que les cigarettes et servent d'outil de sevrage tabagique. Si les gommes ou les patchs à la nicotine ont aidé certains fumeurs à arrêter, c'est le vapotage qui permet aux fumeurs actuels de se défaire de cette habitude. Ces choix doivent rester à leur disposition.

Publié à l'origine ici

Pourquoi l'ingérence politique dans les grandes technologies continue d'être une grosse erreur

peu de bon sens et un peu de contexte historique font qu'il est relativement facile de voir que les préoccupations de pouvoir monopolistique pour Big Tech sont exagérées, puisque les opérateurs historiques d'Internet ne durent pas éternellement et même les plus grands leaders de l'industrie peuvent être battus à leur propre jeu. Prenons par exemple L'objectif d'AOL, qui malgré le fait d'avoir immense pouvoir de marchéne pouvait pas maintenir sa position dominante indéfiniment - et il en va de même pour d'autres dans le secteur de la technologie.

Les membres de la génération X se souviennent du moment où Facebook a remplacé Friendster et Myspace, tout comme le jeune public a désormais remplacé Facebook par TikTok et Snapchat. Et pendant que TikTok récolte pas mal d'attention médiatique, Twitch et Discord sont sur le point d'être les prochains comme plates-formes préférées

Sur la base de ces exemples, la présentation de propositions au Congrès concernant qui peut ou ne peut pas tweeter semble contre-intuitif, d'autant plus que Twitter se classe plutôt peu d'utilisateursDe toute façon. 

Yaël Ossowski, directeur adjoint du Consumer Choice Center, Note que "Si le Congrès réussit à modifier les lois antitrust pour limiter le pouvoir technologique, cela ne profitera pas à l'utilisateur et au consommateur typiques en ligne. Au contraire, cela remplirait les objectifs politiques d'une coalition qui cherche à réduire bien plus que les fusions et acquisitions : certains discours politiques, des mouvements qu'ils considèrent comme hostiles et des produits auxquels ils préféreraient que les consommateurs n'aient pas accès. » En effet, demander au gouvernement de déterminer qui peut afficher ou ce qui peut être affiché est une question plus préoccupante que celle d'un organisme privé.

Étant donné que la surveillance gouvernementale a tendance à augmenter au fil du temps et que les réglementations sont rarement abrogées une fois en place, la concurrence sert un meilleur moyen que l'ingérence du gouvernement pour réduire le mauvais comportement de Big Tech. Même les meilleurs des meilleurs dans le domaine des affaires passer par le bord de la route en temps voulu, c'est pourquoi appelle à une action antitrust contre Big Tech devrait être écrasé et les réclamations pour modération de contenu devrait également être mis au repos – malgré la suppression détestable de comptes et de messages basés sur des motifs politiques.

Le marché devrait être autorisé à faire ce qu'il fait le mieux - comme l'ont dit Joseph Schumpeter et ceux qui défendent sa position – encourager la concurrence via les intérêts des consommateurs et promouvoir la destruction créative par des processus innovants. 

L'ingérence du gouvernement ne fera que générer de plus grandes formes de technocratie, ce qui oblige tout entrepreneur dans ce domaine à consacrer plus de temps et d'argent à naviguer dans les affaires juridiques plutôt qu'à apprendre à mieux servir les utilisateurs. Et le montant de gros sous Les dépenses actuelles de Big Tech en frais de lobbying pourraient certainement être utilisées pour une utilisation meilleure et plus productive.

Bien que les politiciens présentent l'antitrust comme un moyen d'atténuer l'abus de pouvoir de marché, c'est le contraire qui est vrai. L'antitrust entraîne stipulations de l'état de nounou qui inhibent la concurrence de nouveaux entrants et augmente les opportunités de capture réglementaire – qui, compte tenu du Congrès compréhension limitée de l'espace technologique, est très probable, car les meilleurs des meilleurs de l'industrie seront appelés à conseiller et à consulter sur les règles en cours d'élaboration.  

Les séquelles de l'antitrust ont toujours été anti-producteur, anti-consommateur et anti-progrès. Ayn rand affirmé à juste titre que, "Les lois antitrust - un fouillis de contradictions inapplicables, inconciliables et injustifiables - ont maintenu pendant des décennies les hommes d'affaires américains sous un règne de terreur silencieux et croissant." Et selon une étude pour le Competitive Enterprise Institute, "Une application antitrust agressive peut créer une incertitude économique considérable, ce qui peut avoir un effet dissuasif sur les investissements et l'innovation à long terme dans les produits et dans les pratiques commerciales qui profitent aux consommateurs." 

Il est important de se rappeler qu'un monopole dans sa sens le plus vrai ne se produit pas chaque fois que le potentiel pour qu'une alternative se produise est présent. Et tandis que certains crient à la façon dont certains dans Big Tech appellent les coups sur privilèges de publication, ou comment la création de plateformes concurrentes a été entravée par les restrictions de certains sites d'hébergement, commeAmazon bloque Parler, le paysage des médias sociaux est en train de changer. Les nouveaux entrants et les options ne sont peut-être pas apparus aussi rapidement que nous le souhaiterions, mais des alternatives sont gagne du terrain.

Il convient également de noter que même lorsque les options sont limitées dans une économie de marché, cela ne signifie pas toujours que quelque chose ne va pas, en fait cela peut signifier que quelque chose est correct. Les consommateurs sont créatures d'habitude, et donc si la valeur est fournie et que les gens sont satisfaits, d'autres options peuvent tout simplement ne pas être nécessaires ni souhaitées. Et pendant la majeure partie de l'histoire des médias sociaux, ce fut le cas. Pouvoir interagir en ligne sans frais a été, et continue d'être, un grand avantage pour beaucoup. 

Un choix limité peut également se produire lorsque les consommateurs consistent en une petite ou marché captif –Milton Friedman c'est noté comment il serait inefficace d'avoir plus d'un producteur de sondages téléphoniques dans chaque ville. Heureusement, contrairement à l'exemple de Friedman, le World Wide Web est un Centre de la Ville et il en va de même pour notre potentiel de contacts et de requêtes - une seule plateforme ne suffira donc jamais. En fait, selon le Global Web Index, la génération Z et la génération Y ont, en moyenne, 8.4 comptes de médias sociaux et sont connus pour graviter vers d'autres sites chaque fois que quelque chose de mieux se présente. 

Actuellement, plateformes basées sur l'image s'avèrent plébiscités par le jeune public, tandis que plateformes P2P décentralisées font aussi des vagues. Les taux d'utilisation en ligne et les offres en ligne s'ajusteront intérêts à portée de main, et étant donné que les effets de réseau s'atténuent du fait de la consolidation des comptes, conversion d'abonnés d'une plateforme à l'autre devient plus facile. Peut-être personne le sait mieux que Marc Zuckerberg. Il s'avère qu'après Meta a acquis Instagram et WhatsApp, l'une des principales préoccupations de Facebook est concurrence venant de l'intérieur. Et lorsque ces trois plates-formes sont devenues indisponibles pendant environ six heures, en octobre 2021 en raison de une panne de réseau, les audiences en ligne ont utilisé d'autres sites ou se sont simplement déconnectées, ce qui prouve que les gens peuvent changer d'avis et s'adapter au besoin.

Soyez assuré que Big Tech est plus vulnérable que beaucoup ne le pensent, et la concurrence ests'avérant abondant. L'ingérence du gouvernement dans les affaires des médias sociaux est non seulement une perte de temps et de ressources pour les sphères publiques et privées, mais aussi une grave erreur pour promouvoir le progrès des services et des options aux utilisateurs.

Publié à l'origine ici

L'expansion des micropuces d'Intel pourrait échouer si le Congrès interdisait cet ensemble crucial de produits chimiques

Opinion : Un projet de loi soumis au Congrès appelle à une interdiction sévère des PFAS, un ensemble de produits chimiques essentiels à la production de semi-conducteurs.

Une grave pénurie de puces informatiques a ébranlé l'économie américaine l'année dernière, coûtant aux constructeurs automobiles $210 milliards de revenus à eux seuls, car les voitures attendaient que les puces soient installées.

D'autres secteurs ont également été touchés, étant donné que les semi-conducteurs sont utilisés dans tout, des ordinateurs, des smartphones, de l'électronique grand public aux appareils et équipements médicaux. 

Heureusement pour les consommateurs, en réponse aux pénuries, Intel a terre battue sur deux usines de fabrication de puces en Arizona pour aider à sécuriser les chaînes d'approvisionnement et prévenir de nouvelles perturbations. En fin de compte, Chandler abritera six installations de production de semi-conducteurs, employant environ 15 000 personnes

La taille et la portée de ces investissements ne peuvent être sous-estimées.

La croissance enregistrée dans les installations de fabrication de puces de l'Arizona pourrait toutefois être étouffée si le Congrès procède à des interdictions sévères des perfluoroalkyles (PFAS) en vertu de la Loi d'action sur les PFAS.

Nous avons besoin de PFAS pour fabriquer des semi-conducteurs

Les perfluoroalkyles, un groupe de plus de 4 000 produits chimiques fabriqués par l'homme, sont un partie vitale du processus de production de semi-conducteurs – principalement en raison de leur résistance chimique et de leurs propriétés d'abaissement de la tension superficielle. Cela rend les copeaux durables et résistants aux liquides et à l'érosion. 

Le PFAS Action Act pourrait sérieusement compromettre la fabrication de puces et, en fin de compte, aggraver la pénurie de puces avant qu'elle ne s'améliore. Ces produits chimiques sont vitaux pour la production de semi-conducteurs, principalement l'utilisation de liquide de refroidissement, et si le Congrès continue de vouloir interdire les PFAS, les consommateurs seront dans un monde de problèmes.

Ce qui est en jeu:Un projet de loi distinct sur les semi-conducteurs pourrait être une aubaine économique

Nous savons qu'il s'agit d'un résultat prévisible de la politique PFAS autoritaire, car c'est exactement ce que nous voyons en Europe, où les autorités belges ont suspendu la production d'une usine chimique en réponse au durcissement des réglementations environnementales.

Les rapports de Business Korea ont souligné que les producteurs de semi-conducteurs n'avaient que 30 à 90 jours de stock de liquide de refroidissement gauche avant de rencontrer de sérieux problèmes de production.

Si le Congrès continue sur la voie qu'il a empruntée, il est naïf de penser que des perturbations comme celle-ci ne se dirigent pas vers le marché américain, les consommateurs américains étant les plus touchés par le chaos. 

Gardez-les hors de l'eau. Ne les bannissez pas purement et simplement

Cela ne veut pas dire que les producteurs de PFAS devraient pouvoir fonctionner sans aucun égard pour l'environnement et l'exposition aux PFAS. En fait, le contraire est vrai.

La réglementation des PFAS doit être effectuée du point de vue de l'eau potable, au lieu de déclarer tous les produits chimiques PFAS dangereux. Garantir des normes de production appropriées pour éviter les déversements ou les fuites aide à résoudre le problème de l'eau contaminée, sans recourir à une interdiction pure et simple des PFAS.

Pour la production de puces, cela est vital, étant donné qu'il n'existe pas d'alternative viable à l'utilisation de PFAS dans le processus de production.  

Ceci est particulièrement important dans le contexte des produits de consommation courante qui dépendent de ces produits chimiques dans le processus de fabrication. Si les normes de production des PFAS sont respectées et appliquées, nous pouvons résoudre le problème de l'eau potable tout en permettant l'utilisation des PFAS là où ils présentent peu ou pas de risque pour les consommateurs, comme la production de semi-conducteurs. 

C'est l'acte d'équilibre que le Congrès doit prendre en compte lorsqu'il décide de la prochaine étape concernant les PFAS. Il doit évaluer la science émergente sur les PFAS, en évaluant non seulement les dangers mais, plus important encore, les niveaux d'exposition qui rendent les PFAS risqués pour les Américains et d'où viennent ces expositions. 

La loi sur l'action PFAS pourrait condamner la production de puces

En décembre, le L'Université nationale australienne a publié une étude sur les PFAS. Les résultats fournissent des informations utiles sur les efforts de lutte contre les PFAS. 

L'une des principales conclusions était que l'exposition aux PFAS dans les communautés touchées provenait presque entièrement de l'eau et de la mousse anti-incendie. La contamination par le PFAS était le résultat de mauvaises pratiques de production ou d'un déversement criminel, et lorsque la mousse anti-incendie PFAS s'est infiltrée dans le sol.

Ceux qui boivent de l'eau contaminée ou qui mangent des aliments cultivés localement qui sont contaminés sont les plus exposés aux problèmes de santé associés aux PFAS. Cela suggère que les processus de production médiocres comportent la plupart des risques, tandis que les risques associés aux articles de consommation et aux autres applications des PFAS sont limités, comme l'utilisation des PFAS dans la production de semi-conducteurs. 

Une approche de l'eau potable propre aux PFAS est tout à fait appropriée, mais y parvenir ne peut pas et ne devrait pas entraîner d'interdictions pures et simples de production.

Si le Congrès peut affiner ses vues sur les processus de production appropriés, les consommateurs américains peuvent éviter la contamination de l'eau, sans le chaos d'une pénurie exacerbée de semi-conducteurs et des pertes d'emplois en Arizona.  

Mais si le Congrès adopte le PFAS Action Act, l'investissement d'Intel dans Chandler et ses plans pour stimuler la production nationale de puces pourraient être voués à l'échec. 

Publié à l'origine ici

Mettre fin à l'interdiction de vapoter 

Dans un mouvement qui a envoyé des vagues à travers l'Asie du Sud et du Sud-Est la semaine dernière, le ministre thaïlandais de la Santé publique et vice-Premier ministre Anutin Charnvirakul a répété que l'interdiction d'importation et de production de produits de vapotage se poursuivrait, privant les fumeurs thaïlandais d'alternatives prouvées pour arrêter.

Selon la plupart des principaux organismes de santé, les alternatives réduisant les méfaits aux cigarettes combustibles, y compris les dispositifs de vapotage, le tabac chauffé et les sachets buccaux, fournissent de la nicotine de manière moins nocive, mais le ministre a insisté sur le fait que l'utilisation croissante de ces produits par les jeunes était suffisant pour justifier leur interdiction continue.

Alors que les alternatives à la nicotine restaient interdites, le ministre a été félicité pour ses efforts visant à décriminaliser les produits à base de cannabis, et à juste titre. 

Mais l'interdiction continue des alternatives à la nicotine telles que le vapotage est une voie dangereuse qui supprime des opportunités pour la grande population de fumeurs de Thaïlande - actuellement estimée à près d'un quart de la population, soit quelque 15,4 millions de personnes. 

Lisez entièrement l'article ici

Comment lutter contre l'inflation : 6 conseils pour économiser de l'argent en 2022

Ne pensez pas que vous êtes impuissant face à l'inflation. Essayez ces stratégies financières dans six domaines différents de votre vie dépensière.

Ce n'est pas un secret que inflation a battu beaucoup de comptes bancaires au cours de la dernière année. Certains prix ont baissé ces derniers temps, comme l'essence, mais d'autres prix, comme celui de la nourriture, continuent d'augmenter. 

Si vous cherchez à économiser de l'argent, voici quelques conseils pour économiser de l'argent dans six domaines de votre vie de dépenses.

Voyage

Conseil contre l'inflation : N'oubliez pas que vous payez toujours pour plus de commodité.

La commodité coûte plus cher lorsqu'il s'agit de pratiquement tous les achats que vous effectuez, mais elle est particulièrement coûteuse lorsque vous voyagez. John Shrewsbury, conseiller financier et copropriétaire de GenWealth Financial Advisors à Bryant, Arkansas, part souvent en voyage d'affaires et dit qu'il a observé ce que beaucoup d'entre nous ont probablement : "La commodité a un prix important".

Il cite que séjourner dans un hôtel près de votre destination est souvent un prix beaucoup plus élevé que de séjourner à un prix inférieur un peu plus loin.

"La plupart des compagnies aériennes facturent les bagages, donc un emballage efficace pourrait permettre d'économiser $30 à $50 dollars", déclare Shrewsbury. "Et, sur cette voiture de location, pomper votre propre essence pour faire le plein juste avant votre retour vous fera économiser plusieurs dollars en laissant la société de location la remplir et vous facturer."

Il a d'autres exemples. « Manger à l'hôtel est susceptible d'être plus cher que dans un restaurant à proximité. De plus, la nourriture à l'aéroport est généralement plus chère car ils ont un public captif, donc si possible, mangez avant de partir pour l'avion.

Certes, de nombreux voyageurs sont prêts à payer plus pour la commodité, et si vous l'êtes, c'est bien. Mais c'est quelque chose à retenir si vous cherchez à économiser de l'argent sur les voyages. Si vous êtes prêt à être un peu dérangé, vous pouvez probablement aller plus loin pour moins cher.

Épiceries

Conseil contre l'inflation : Magasinez stratégiquement pour votre nourriture.

Cela peut ne pas sembler être un pourboire. Nous savons tous que nous devons magasiner de manière stratégique, n'est-ce pas ? Pourtant, nous pouvons toujours utiliser un discours d'encouragement. Ce n'est pas facile magasiner stratégiquement pour la nourriture. Nous ne chassons peut-être pas et ne cueillons pas comme le faisaient nos ancêtres, mais vous devez toujours négocier la chasse et parcourir le paysage pour trouver des offres. Cela peut être abrutissant et stressant.

Lire le texte complet ici

POURQUOI LES ETATS-UNIS NE NOUS FOURNISSENT PAS PLUS DE PÉTROLE ?

Les États-Unis doivent augmenter radicalement leur production de pétrole, non seulement pour le bien des Américains, mais aussi pour apporter un soutien stratégique à ses alliés.

Dans un rare moment de lucidité, Emmanuel Macron, lors du sommet du G7 au mois de juin, s'est vu devant Joe Biden pour lui expliquer à quel point l'Europe a besoin de pétrole. « Désolé de vous interrompre », s'est interposé en s'excusant Macron devant les caméras. Les chefs d'États et de gouvernement étaient au point d'entrer dans un bâtiment, donc le moment était bien choisi : même si Macron chuchotait, l'intérêt était bien que nous entendions l'échange.

Macron explique qu'il a récemment échangé avec des responsables des Emirats arabes unis, qui lui ont assuré qu'ils s'étaient avérés au maximum de leurs capacités de production (si nous avons choisissons de les croire). Avec l'ambition de sortir de la dépendance énergétique russe, la réalité pour l'Europe est qu'il y a tout simplement un manque d'approvisionnement. L'hiver prochain, le prix de l'énergie devrait battre des records, même ceux qui ont déjà été battus plus tôt cette année.

De petites promesses

L'appel tacite de Macron à l'égard de Biden est clair : pourquoi les États-Unis ne fournissent-ils pas plus de pétrole au monde, alors qu'ils en ont clairement la capacité ?

Lors de sa récente escapade à Bruxelles, Biden s'est tenu aux côtés de la présidente de la Commission européenne, Ursula von der Leyen, et a annoncé la création d'un groupe de travail conjoint visant à réduire la dépendance de l'UE à l'égard du gaz russe « aussi rapidement que possible », promettant jusqu'à 15 milliards de mètres cubes de gaz naturel liquéfié (GNL) américain d'ici la fin de l'année et jusqu'à 50 milliards de mètres cubes par an à la fin de la décennie.

Curieusement, Biden a simultanément promis de rendre ces engagements compatibles avec un objectif d'émissions nettes nulles, mais malgré cela, l'annonce est une bonne nouvelle. Les importations de GNL en Europe contribuent à combler le fossé qui sépare l'Europe des autres importateurs du monde entier.

En ce qui concerne l'essence, la folie écologique de Biden est plus intense, ce qui entrave les niveaux de production nécessaires pour commencer à penser aux exportations. En fait, l'administration Biden a rendu trop difficile le forage du pétrole : les permis de forage pétrolier ont été réduits de plus de moitié depuis l'arrivée de Joe Biden au pouvoir. Joe Biden a déclaré que les entreprises pétrolières devaient être encouragées à augmenter leur capacité, mais l'industrie a riposté en accusant l'administration de retarder ses activités.

Joe Biden est confronté à une décision qui marquera sa présidence dans les livres d'histoire. Dans le but de rallier l'aile écologiste de son propre parti, il a choisi d'étoffer son administration avec des personnalités qui déclarent la disparition totale de l'industrie des combustibles fossiles.

Tout doit disparaître

Saule Omarova, à un moment donnée candidate de Biden pour le Bureau du contrôleur de la monnaie, a déclaré à propos des entreprises de combustibles fossiles que « un grand nombre des petits acteurs de cette industrie vont probablement faire faillite ». Du moins, nous voulons qu'ils fassent faillite si nous voulons nous attaquer au changement climatique ».

Omarova, qui est née au Kazahkstan à l'époque où le pays faisait partie de l'Union soviétique, avait par ailleurs tweeté en 2019 : « Dites ce que vous voulez de l'ex URSS, il n'y avait pas d'écart de rémunération entre les sexes là-bas. Le marché ne sait pas toujours ce qui est le mieux. »

Elle était donc devenue non viable pour l'administration Biden, vraisemblablement parce qu'elle a révélé la vérité au grand public.

Des nouvelles récentes soulignent que ce n'est qu'en juin que la production pétrolière des États-Unis a atteint les niveaux pré-pandémiques. C'est clairement insuffisant pour ce que représente actuellement la demande mondiale. Cela dit, les États-Unis ont fait quelques efforts pour fournir à l'Europe des réserves de pétrole supplémentaires.

En avril, plusieurs superpétroliers ont acheminé plus de 2 millions de barils vers l'Europe. L'Europe doit donc adresser ses demandes directement à la caméra, et être claire quant aux implications des parties : L'Europe et les États-Unis devraient mettre en veilleuse toutes leurs ambitions en matière de climat, raffiner davantage de pétrole et coopérer pour l 'acheminer rapidement et efficacement.

Pour qu'un embargo énergétique russe fonctionne à long terme (et, compte tenu des circonstances actuelles, il devra fonctionner à long terme), les deux blocs n'ont essentiellement pas d'autre choix. Aucune transition énergétique verte, même si nous croyons la faisable et recommandable, ne peut s'activer assez rapidement pour nous permettre de passer les prochaines années, sans parler de l'hiver à venir.

Les États-Unis doivent augmenter radicalement leur production de pétrole, non seulement pour le bien des Américains, mais aussi pour apporter un soutien stratégique à ses alliés. S'il existe un moment où les réserves pétrolières américaines constituent un avantage vital, que ce soit pour lutter contre la baisse du pouvoir d'achat ou pour montrer sa force géopolitique, c'est maintenant.

Publié à l'origine ici

Dans la lutte entre rongeurs et humains, les écologistes choisissent les rats

Imaginez la scène dans l'Europe du XIVe siècle, alors que le continent souffrait de la peste bubonique, si un groupe d'aristocrates avait pris le parti des rats. Ce qui ressemble à un plan pour un croquis de Monty Python, ou un sketch sur SNL pendant les jours où il a osé prendre des risques, n'est pas loin du monde que nous voyons aujourd'hui.

Pendant des années, les militants écologistes ont soutenu l'interdiction de la mort aux rats, et l'Agence de protection de l'environnement a emboîté le pas en interdisant, par exemple, les rodenticides à granulés. Cependant, lorsque les militants ciblent des exemples de produits qui méritent un examen plus approfondi, leurs angles morts se manifestent. Le réseau d'action sur les pesticides écrit dans un article de blog : « Le fait de la question ? Les rodenticides ne sont pas nécessaires. Les prédateurs comme les hiboux, les faucons et autres rapaces font un excellent travail de contrôle des rongeurs.

Alors que les faucons et autres rapaces peuvent résoudre un problème de rats dans la campagne, ils ne se présentent pas pour attraper des rongeurs à Times Square. L'Europe a douloureusement appris cette leçon depuis que l'Union européenne a restreint l'utilisation de mort-aux-rats. Certains membres de l'UE, comme les Pays-Bas, sont allés plus loin en interdisant pratiquement toute mort aux rats à partir de 2023, ouvrant la voie à une infestation importante. 

Le Centre de connaissances et de conseils sur les ravageurs des animaux prévient dans les principaux médias que de nouvelles infestations de rats se profilent. Son directeur Raconté une radio publique : "Malheureusement, les gens ne s'en rendront compte que lorsque les rats et les souris courront dans la rue."

"Dans la guerre des lanternes, certains prennent le parti de l'insecte", annoncé la New York Times dans un gros titre le mois dernier. L'insecte chinois qui a fait son chemin jusqu'aux États-Unis et infesté les champs depuis 2014 maintenant menacedes centaines de millions de dollars en dommages agricoles, selon le ministère de l'Agriculture.

Cependant, l'article donne également la parole à ceux qui pensent que la priorité doit être de protéger l'insecte et non d'empêcher que les fermes et les forêts ne soient décimées. L'étudiante Catherine Bonner, 22 ans, dit que les insectes "n'ont pas demandé à être envahissants, ils vivent juste leur propre vie" et "je serais déçu si je commençais soudainement à exister quelque part où je n'étais pas censé exister, et que tout le monde commençait à tuer moi pour ça. La New York Times ajoute que Bonner partage ses sentiments à propos des lanternes "uniquement avec des amis proches" (et un journaliste d'un journal national pour son histoire).

Les écologistes et les amateurs de lanternes ne reconnaissent pas l'importance du secteur agricole. On pourrait penser que les deux dernières années ont montré à quel point les perturbations de la chaîne d'approvisionnement et l'inflation des prix alimentaires affectent tous les consommateurs de la même manière, obligeant les familles à lutter pour joindre les deux bouts. Jouer avec le tissu mince qui maintient notre système alimentaire ensemble est irresponsable et ignorant ; c'est une perspective de luxe que seuls certains dans le monde occidental peuvent se permettre d'avoir.

A l'échelle des similitudes de la décadence romaine, difficile de dire où se situe le parti des rats et des insectes. Ce phénomène souligne un problème fondamental du mouvement écologiste : il ne priorise pas l'intérêt et le bien-être des humains. L'essence de leurs idéaux consiste à élever la vie des insectes ou des plantes au-dessus de celle des humains. Si les deux intérêts ne peuvent pas être immédiatement conciliés, les écologistes choisiront celui qui entrave les intérêts des consommateurs.

Il serait difficile pour nos ancêtres de croire que quelqu'un aurait à dire cela, mais entre les rongeurs et les humains, ne choisissez pas les rongeurs.

Publié à l'origine ici

LE CONTREFACTUEL : Que fait QUI à propos de ENDS ?

Republié de Clivebates.com avec le consentement de l'auteur

Cette section révèle vraiment que l'OMS ne fait que publier de la propagande prohibitionniste. Il convient toutefois de noter que sa dépendance regrettable vis-à-vis des contributions volontaires l'expose à d'importants conflits d'intérêts. 

L'OMS ne prête pas attention aux preuves. Si c'était le cas, il y aurait beaucoup plus de discussions sur les compromis et les avantages possibles et une approche proportionnée et plus réaliste des risques. En effet, souligne le rapport, la Rapport de l'OMS sur l'épidémie mondiale de tabagisme, a été "rendu possible" par la fondation privée du milliardaire, Michael Bloomberg, qui, par coïncidence, figure en bonne place dans le rapport malgré l'affirmation selon laquelle elle est indépendante. Les remerciements du rapport incluent plusieurs militants anti-vapotage, certains financés par Bloomberg, amenés à faire le travail.

L'influence des outsiders anti-vapotage sur les finances de l'OMS. La fondation de Bloomberg, Bloomberg Philanthropies, fait campagne pour les interdictions de vapotage dans la mesure du possible partout où elle travaille via le travail de ses bénéficiaires. Prenons l'exemple du principal bénéficiaire du financement de Bloomberg, l'Union : et sa politique d'interdiction, Pourquoi les interdictions sont les meilleures. L'approche de Bloomberg en matière de preuves et de données sur le tabac est discutée ici : Michael Bloomberg aime les données. Sauf quand il ne le fait pas

L'OMS est en conflit avec le financement qu'elle reçoit de la pro-interdiction Bloomberg Philanthropies ($23m). Ensuite, il y a aussi le donateur beaucoup plus important de l'OMS, la Fondation Bill et Melinda Gates ($592m), qui soutient un éventail d'organisations hostiles à la réduction des méfaits du tabac. En outre, il existe également des sociétés pharmaceutiques comme GSK ($12.3m) qui fournissent des dons de plusieurs millions de dollars à l'OMS mais prennent un attitude hostile envers les cigarettes électroniques. 

Notez que cet argent n'a pas à être dépensé dans des campagnes anti-vapotage pour que la position politique du donateur et le don créent un conflit. Le fait est que les organisations anti-vapotage jouent un rôle important dans les finances de l'OMS.

Écrit par Clive Bates

La Thaïlande s'engage sur la voie dangereuse du refus des alternatives réduisant les dommages

Anutin Charnvirakul, ministre thaïlandais de la Santé publique et vice-Premier ministre dit la semaine dernière que l'interdiction d'importation et de production de produits de vapotage se poursuivra, privant les fumeurs thaïlandais d'alternatives prouvées pour arrêter de fumer.

"L'incapacité de la Thaïlande à reconnaître les puissants avantages de la réduction des méfaits - en particulier dans les produits de vapotage et autres alternatives à la nicotine - montre qu'ils laissent tomber les 15,4 millions de fumeurs thaïlandais", a déclaré Tarmizi bin Anuwar, associé au Consumer Choice Center.

« Il y a une raison pour laquelle des pays comme le Japon, et plus récemment les Philippines, ont adopté ces nouvelles technologies, responsabilisant leur propre population et leur offrant des alternatives légales pour sauver des vies. Le gouvernement doit adopter une approche politique fondée sur des preuves dans l'élaboration de politiques pour s'assurer que le gouvernement ne commet pas de mauvaises actions », a-t-il ajouté.

"Tous les ministères de la santé dans le monde recherchent solutions réduire l'usage du tabac combustible par leurs populations. Alors qu'ils continuent à chercher, les alternatives à la nicotine telles que le vapotage se sont révélées être une porte d'entrée loin du tabagisme et sont désormais un outil clé pour la réduction des méfaits à l'échelle mondiale », a déclaré Yaël Ossowski, directrice adjointe du Consumer Choice Center.

"Si le gouvernement thaïlandais continue d'interdire les alternatives à la nicotine, il prive ses citoyens d'autres moyens de se débarrasser de la cigarette. Cela affecte tous les segments de la société - jeunes et moins jeunes - et aura de réelles conséquences sur la santé.

"Pour démontrer à la communauté internationale que la Thaïlande prend au sérieux ce problème, elle devrait donner à ses consommateurs et entrepreneurs les moyens de fournir les solutions qui ont déjà entraîné des taux de tabagisme record dans d'autres pays, en adoptant et en légalisant les produits de vapotage et les alternatives à la nicotine", dit Ossowski.

"Sinon, les fumeurs seront obligés de se tourner vers les marchés illicites pour trouver ces produits qui sont largement disponibles à l'extérieur du pays, ce qui sera nocif pour la société dans son ensemble."

proche
fr_FRFR