fbpx

Vapoter

Les lois de réglementation aident à prévenir le vapotage des mineurs

KUALA LUMPUR, 27 January 2023 – The Consumer Choice Center (CCC) agrees with Malaysia’s Health Minister Dr Zaliha Mustafa regarding concerns about the sale of vape products to children.

According to the representative of the Malaysian Consumer Choice Center, Tarmizi Anuwar does not support vaping by youth or children under 18 years of age and suggests that the government quickly implement smart laws to regulate the sale and marketing of vape products. 

“Underage children should not be allowed to buy vape products. In order to avoid or reduce the risk of this happening, the government needs to create a separate law or expand current tobacco regulations for the sale and marketing of vape.”

“There are several steps that the government can take including introducing smart regulations and enforcing strict age restrictions on vaping devices and liquids at the point of sale and using modern age verification technology for online sales.”

“The absence of laws will make it easier for children to obtain vapes from black market activities and illegal trade.”

Elaborating on Dr Zaliha’s statement regarding the classification of nicotine under the Poisons Act 1952, he said, “Nicotine replacement products have already been exempted from the Poisons Act 1952 in October last year. This means that nicotine is no longer considered a non-toxic product.”

“Technically, vape can be considered as a nicotine replacement product because the main purpose is to be used as an aid to quit smoking.”

“However, this is one of the areas of public policy that still need to be improved so that there is no confusion.”

In addition, Tarmizi emphasized that this law is also important in differentiating vape products between responsible adult users and children.

“This law is important to ensure that adult consumers have a legitimate choice to choose products that are less risky and harmful and move towards a healthier lifestyle.”

“The government is also not justified in using this argument to limit access to responsible users because it has not yet been proven about reports or articles that link vaping as a gateway to smoking.”

Based on an analytical survey by Lee, Coombs dan Afolalu (2018) said the actual factors of vaping among youth have yet to be proven. In addition, according to the Royal College of Physicians, reports stating that teenagers who use vaping are at risk of potentially giving birth to a generation affected by nicotine are not based on evidence.

Cukai Vape et Industri Rokok Elektrik di Indonesia

Konsumsi vape atau rokok elektrik saat ini merupakan bagian dari keseharian banyak orang di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Kita, khususnya yang tinggal di wilayah urban dan perkotaan, dengan mudah bisa menemukan berbagai pengguna vape, dan juga toko-toko yang menjual berbagai produk rokok elektrik dengan berbagai varian merek dan model.

Fenomena banyaknya pengguna vape ini juga membawa pengaruh terhadap industri rokok elektrik di Indonesia. Saat ini misalnya, sudah ada sekitar 100.000 pekerja yang bekerja di industri vape dan rokok elektrik. Angka ini tentu merupakan jumlah yang tidak kecil, dan sangat layak untuk diperhatikan oleh para pembuat kebijakan, khususnya yang ingin meregulasi sektor industri tersebut (tribunnews.com, 13/6/2022).

Ada berbagai hal yang menjadi alasan para konsumen untuk mengkonsumsi dan menggunakan produk-produk vape. Salah satu alasan yang umum adalah, banyak para pengguna vape yang sebelumnya perokok aktif. Mereka menggunakan vape karena harganya yang lebih murah, dan juga karena kandungan vape yang lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar. Salah satu indikator yang dirasakan oleh beberapa konsumen setelah mereka berpindah dari konsumsi rokok menjadi vape adalah, mereka merasakan nafas yang lebih lega (tribunnews.com, 26/10/2022).

Vape atau rokok elektrik sebagai produk yang jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar merupakan informasi yang didapatkan dari laporan lembaga-lemabga kesehatan internasional. 

Salah satunya adalah lembaga kesehatan publik asal Inggris, Public Health England (PHE), yang pada tahun 2015 lalu mengeluarkan laporan bahwa vape atau rokok elektrik merupakan produk yang 95% jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar (gov.uk, 19/uk, 1 8/2015).

Hal ini dikarenakan, vape atau rokok elektrik tidak menghasilkan tar dan juga karbon monoksida, yang merupakan dua elemen paling berbahaya dari rokok konvensional yang dibakar. Oleh karena itu, para perokok yang biasanya mengkonsumsi rokok konvensional yang dibakar bisa menjadikan rokok elektirk atau vape sebagai alat untuk membantu mereka berhenti merokok (nhs.uk, 10/10/2022).

Sangat penting untuk dicatat bahwa, laporan dari PHE tersebut bukan berarti menyatakan bahwa vape atau rokok elektrik merupakan produk yang aman 100%. Seseorang yang sebelumnya tidak merokok memang akan jauh lebih baik bila mereka tidak menggunakan vape. Tetapi, bagi mereka yang sudah terlanjur menjadi perokok aktif dan mengalami kecanduan terhadap produk yang sangat berbahaya tersebut, vape merupakan produk yang sangat cocok untuk digunakan agar mereka bisa berhenti merokok.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa, Indonésie merupakan salah satu negara dengan jumlah populasi perokok aktif terbesar di dunia. Pada tahun 2021 lalu misalnya, terdapat sekitar 69,1 juta penduduk Indonésie yang menjadi perokok aktif. Hal ini belum lagi para perokok pasif yang menghisap asap rokok di ruang-ruang publik (dinkes.jakarta.go.id, 3/6/2022).

Hal ini tentu merupakan hal yang sangat berbahaya et sangat penitng untuk diatasi. Kita yang menjadi perokok aktif tentu mengetahui bahwa berhenti merokok merupakan hal yang tidak mudah. Untuk itu, adanya produk yang jauh lebih tidak berbahaya, seperti vape atau rokok elektrik, merupakan sesuatu yang cukup positif, dan bisa dimanfaatkan untuk membantu mereka yang saat ini menjadi konsumen rokok setiap hari selama bertahun-tahun.

Namun, saat ini, sepertinya menggunakan rokok elektrik atau vape sebagai produk yang bisa membantu perokok untuk berhenti merokok bukan hal yang menjadi perhatian para régulateur et pembuat kebijakan di Indonesia. Salah satunya adalah, beberapa waktu lalu misalnya, pemerintah memutuskan untuk meningkatan cukai rokok sebesar 15% per tahun selma 5 tahun dari tahun 2023 mendatatang sampai tahun 2027 (cnbcindonesia.com, 11/04/2022).

Kebijakan ini sendiri mendapatkan keberatan bukan hanya dari para pelaku usaha industri rokok elektrik, namun juga dari pihak konsumen. Hal ini akan memberikan beban lebih kepada para perokok yang ingin menggunakan produk lain yang bisa membantu mereka berhenti merokok, karena harganya yang akan naik, khususnya para perokok yang termasuk dalam golongan ekonomi menengah ke bawah (tribunnews.com, 26/10/2022).

Selain itu, hal lain yang juga tidak kalah penting untuk diperhatikan bahwa, industri vape di Indonesia didominasi oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Hal ini tentu sangat berbeda dengan industri rokok konvensional di Indonesia, yang saat ini didominasi oleh banyak perusahaan konglomerat besar (vapemagz.co.id, 17/9/2020).

Untuk itu, sangat penting bagi para pembuat kebijakan di Indonesia agar tidak membuat regulasi yang kontraproduktif terkait dengan upaya menanggulangi jumlah perokok yang ada di Indonesia. Inggris misalnya, merupakan salah satu negara yang secara resmi sudah memiliki kerangka kebijakan untuk menggunakan vape sebagai salah satu alat bagi para perokok untuk berhenti merokok (nhs.uk, 10/10/2022).

Semoga, kita bisa belajar dari negara-negara lain yang sudah memiliki kerangka kebijakan yang berfokus pada harm reduction seperti Inggris. Dengan demikian, diharapkan populasi perokok aktif di Indonesia dapat semakin berkurang drastis dari waktu ke waktu.

Publié à l'origine ici

Une critique de « Les politiques anti-vapotage peuvent-elles réduire les externalités de consommation ? »

Écrit par Sinclair Davidson

Récemment L'économiste a publié un rapport sur une étude portant sur le vapotage et la fiscalité. L'économiste ont rapporté que la principale conclusion de l'étude était la suivante :

L'étude a révélé que l'augmentation des taxes sur les cigarettes électroniques réduit également cela. Une augmentation de $1 des taxes sur les cigarettes électroniques entraîne une baisse de 10 à 14% du nombre de décès sur les routes liés à l'alcool pour 100 000 chez les 16 à 20 ans.

Cela semble être un résultat très impressionnant. Pourtant, comme toujours avec la recherche liée à la santé publique, cela ne doit pas être pris au pied de la lettre. Bien que The Economist lui-même ne fournisse aucune critique de l'étude sous-jacente, il met en garde contre les conclusions politiques évidentes qui semblent découler de l'étude.

L'étude, 'Can Anti-Vaping Policies Curb Drinking Externalities?: Evidence From E-Cigarette Taxation and Traffic Fatalities' fait partie de la série de documents de travail du Center For Health Economics And Policy Studies de l'Université d'État de San Diego et peut être trouvée à leur site Internet. Il est également disponible au NBER site Internet et le SSRN site Internet. À l'heure actuelle, l'article n'a pas été publié dans une revue universitaire et ne semble pas avoir fait l'objet d'un examen formel par les pairs. Il a très probablement fait l'objet d'ateliers et d'une révision informelle par les collègues et amis de l'auteur.

L'article lui-même a 5 co-auteurs. Tous les auteurs sont des économistes et s'identifient comme étant des économistes du travail et des économistes de la santé. Alors que le document lui-même utilise le langage de l'économie – l'expression « externalité » dans le titre et les mentions fréquentes de « retombées » dans le texte – le style du document est tout à fait dans la tradition de la santé publique. Par exemple, il n'existe pas de modèle formel (ni même informel) pour guider notre interprétation des résultats empiriques. Il n'y a pas d'hypothèses établies liant les résultats empiriques à un modèle, les définitions sont vagues et semblent varier subtilement au fil du document, les statistiques récapitulatives ne sont pas entièrement rapportées, les résultats des estimations empiriques ne sont pas entièrement rapportés - par exemple, aucune qualité d'ajustement des statistiques sont rapportées du tout – et, finalement, des conclusions politiques fortes sont tirées qui ne sont pas cohérentes avec les preuves qui ont été produites. 

Comme pour de nombreux articles que nous voyons dans le domaine de la santé publique, il existe une combinaison d'évidences, de non-séquences et d'actes de foi qui se combinent avec une technique économétrique trop complexe qui permet aux auteurs de tirer des conclusions qui ne sont pas entièrement étayées par la théorie ou Les données.

Quel est le but de ce papier ?

Dans l'abstrait, on nous dit :

Cet article est le premier à explorer les effets d'entraînement des taxes sur les cigarettes électroniques sur la consommation d'alcool chez les adolescents et les décès liés à l'alcool sur les routes.

Puis dans l'introduction (pg.4), on nous dit :

Cette étude est la première à étudier les effets des taxes ENDS [systèmes de dispositifs électroniques à la nicotine] sur la consommation d'alcool chez les adolescents et les jeunes adultes et sur les décès liés à l'alcool.

Dans la conclusion (p. 28), on nous dit :

Cette étude offre la première preuve causale de l'impact des taxes ENDS sur l'abus d'alcool chez les adolescents et les décès de la route liés à l'alcool.

Ainsi, les auteurs prétendent étudier la relation entre la taxation des produits de vapotage et la consommation d'alcool chez les adolescents (ou les jeunes ou les jeunes adultes) et les décès sur la route. 

Que prétend trouver le journal ?

Dès l'introduction, on nous dit :

  • "Nous confirmons que la taxation ENDS réduit l'utilisation des ENDS chez les adolescents, une augmentation d'un dollar des taxes ENDS réduit le vapotage chez les adolescents de 5,4 points de pourcentage (soit environ 24 %), un effet substantiel."
  • "Nous constatons qu'une augmentation d'un dollar des taxes ENDS entraîne une réduction de 1 à 2 points de pourcentage de la probabilité de consommation excessive d'alcool chez les adolescents et les jeunes adultes."
  • "Nos résultats indiquent qu'une augmentation d'un dollar des taxes ENDS entraîne une baisse de 0,4 à 0,6 du nombre de décès sur la route liés à l'alcool pour 100 000 jeunes de 16 à 20 ans dans une année d'état traitée."

C'est ce dernier résultat que L'économiste rapports sur. Ce résultat est aussi « l'externalité » que l'on retrouve dans le titre de l'article. 

Pour être complet, qu'est-ce que le papier ne pas trouver?

  • "Nous trouvons peu de preuves que la consommation d'alcool chez les personnes âgées de 21 ans et plus est affectée par les taxes ENDS."
  • "Nous ne trouvons aucune preuve que les taxes ENDS soient liées aux décès d'adolescents sur la route qui n'impliquent pas l'alcool…."

Ce dernier point est très important – l'histoire racontée dans le document se rapporte au coût social de l'alcool. Il est de l'alcool dans cette histoire qui contribue aux accidents mortels - pas au vapotage, ni même au tabagisme, d'ailleurs. Or, il est vrai que certaines personnes peuvent consommer à la fois de l'alcool et de la nicotine. Pourtant, beaucoup ne consomment ni l'un ni l'autre, ou seulement l'un des deux. L'histoire racontée dans cet article est que les efforts mandatés par le gouvernement pour réduire (voire supprimer) l'incidence du vapotage via la taxation ont également pour effet de réduire la consommation d'alcool et, par conséquent, les décès sur la route pour les personnes âgées de 16 à 20 ans - mais pas pour les personnes de plus de 20 ans. 

Ce résultat est si spécifique qu'il semble fallacieux. 

Ce résultat n'est pas non plus reproduit dans la littérature existante. Le vapotage est une innovation assez récente à la consommation de nicotine. Historiquement, les individus ont accédé à la nicotine via des cigarettes, des cigares, des pipes et autres combustibles. Les gouvernements ont eu tendance à taxer les produits à base de nicotine combustible et à tenter de réduire (ou de supprimer) la consommation de ces produits. Les auteurs de l'article ne rapportent aucun résultat démontrant une externalité (ou un débordement) de la taxation du tabac entraînant une réduction de la consommation d'alcool et par conséquent moins de décès sur les routes. 

En revanche, cependant, ils renvoient à une étude d'Adams et Cotti (2008) : 

… on observe une augmentation des accidents mortels impliquant l'alcool suite à l'interdiction de fumer dans les bars qui n'est pas observée dans les lieux sans interdiction. Bien qu'un risque accru d'accident puisse sembler surprenant au premier abord, deux courants de littérature sur le comportement des consommateurs suggèrent des explications potentielles : les fumeurs parcourant de plus longues distances vers une juridiction limitrophe qui permet de fumer dans les bars et les fumeurs parcourant de plus longues distances dans leur juridiction vers des bars qui autorisent toujours à fumer, peut-être en raison de non-conformité ou de sièges à l'extérieur.

Il faut souligner que l'idée que l'augmentation de la taxation du vapotage entraînera moins de décès sur la route en raison de la réduction de l'alcool au volant est un résultat nouveau et unique dans la littérature politique.

Enfin, il faut souligner que les auteurs affirment qu'ils effectuent une analyse d'équilibre général. Trois fois, ils font la réclamation:

À la page 4 :

Comprendre les effets d'équilibre général des politiques de santé publique ciblant l'utilisation des ENDS est nécessaire pour documenter l'ensemble des coûts et des avantages pour la société.

À la page 28 :

… afin de mieux comprendre les effets d'équilibre général des politiques de santé publique ciblant les ENDS.

À la page 31 :

Étant donné que la fiscalité ENDS, et plus généralement la politique ENDS optimale, est controversée et continue, il est essentiel de tenir compte des effets d'équilibre général.

Pour être très clair, les auteurs ne fournissent tout simplement pas une analyse d'équilibre général de la fiscalité ENDS. Ils effectuent une analyse de l'équilibre partiel en examinant l'impact de la fiscalité sur le vapotage, puis tentent de lier cette analyse à la consommation d'alcool et aux décès sur la route. Une analyse d'équilibre général devrait au moins intégrer les effets de substitution entre les produits de vapotage et les produits à base de nicotine combustible et étudier les différents coûts et avantages (privés et sociaux) associés aux choix politiques. Pour être juste, les auteurs indiquent que l'augmentation des taxes sur le vapotage entraîne une augmentation de la consommation de produits à base de nicotine combustible, mais cette idée n'est pas intégrée dans leur analyse empirique. 

Existe-t-il une base théorique aux conclusions de l'article ?

Les auteurs, à la page 4, offrent cette explication possible :

Si l'adoption des taxes ENDS entraîne une réduction considérable du nombre d'utilisateurs d'ENDS, un tel choc politique pourrait générer des changements importants dans la consommation d'alcool, qui peuvent inclure des externalités liées à la consommation d'alcool avec des coûts sociaux substantiels.

Cette affirmation est un peu générale, et si vague, qu'il est difficile de la contester. Pourtant, on ne nous dit jamais ce que cette déclaration pourrait signifier. Par exemple:

  • Cela pourrait signifier que des niveaux élevés de taxation du vapotage entraînent moins de vapotage et moins de consommation d'alcool.
  • Cela pourrait signifier que des niveaux élevés de taxation du vapotage entraînent la même quantité de vapotage, mais moins de consommation d'alcool. 
  • Cela pourrait signifier que des niveaux élevés de taxation du vapotage se traduisent par moins de vapotage et plus de consommation d'alcool.

Les deux dernières significations possibles pourraient s'expliquer par une contrainte budgétaire - le vapotage et l'alcool sont consommés sous contrainte budgétaire et si une forme de consommation devient plus chère, les individus remplacent l'activité la plus chère par l'activité la moins chère. Ou il se peut que certaines personnes préfèrent, par exemple, vapoter à l'alcool et lorsque le vapotage devient relativement plus cher, elles réduisent leur consommation d'alcool pour maintenir le niveau de vapotage souhaité.

L'étude n'explore tout simplement pas ces possibilités. Nous sommes informés que les résultats impliquent la toute première possibilité ci-dessus. Le vapotage et la consommation d'alcool chez les 16-20 ans sont complémentaires et les résultats montrent qu'une augmentation de la fiscalité entraîne à la fois moins de vapotage et moins de consommation d'alcool. 

Stratégie empirique

Le document combine les données de 5 bases de données. Quatre des cinq bases de données contiennent des données individuelles sur la consommation d'alcool et de nicotine pour divers groupes et âges de répondants. La cinquième base de données contient des données sur les accidents mortels de la circulation aux États-Unis par État et par année. En tant qu'économistes, les auteurs estiment divers modèles de régression sophistiqués et rapportent des tests de robustesse. Bien que le document soit muet sur le package utilisé pour estimer les régressions, il est très probable qu'il s'agisse de Stata et d'un package similaire et il ne fait aucun doute que les régressions ont été correctement estimées.

Il y a cependant des problèmes avec les données qui ont été utilisées dans les régressions et dans la spécification des équations. Comme c'est souvent le cas, les inférences doivent donc être faites au niveau de confiance 5% ou même au niveau de confiance 10%. Dans un cas, les auteurs en sont réduits à nous dire que le signe est dans la bonne direction.

Un défi avec de nombreux projets de recherche en santé publique est que les données sont collectées à partir de sources secondaires et ne correspondent pas parfaitement à l'objectif auquel les chercheurs souhaitent les appliquer. De plus, des variables de contrôle doivent être appliquées – parfois à des niveaux d'agrégation plus élevés que les données réelles. Par exemple, dans cette étude, des données individuelles sur la consommation d'alcool et la consommation de vapotage sont collectées. Bien que le document suggère que cela se fasse sur la période 2003 - 2019, en fait, les données sur le vapotage ne sont collectées qu'après 2013. 

Les questions relatives à la consommation d'alcool sont très vastes. Toute personne ayant bu au moins un verre au cours des 30 derniers jours est définie comme étant un consommateur d'alcool. Étant donné qu'on nous dit que (certaines) enquêtes sont distribuées entre janvier et juin, cela signifie que toute personne ayant bu un verre à Noël et au Nouvel An n'est pas seulement un buveur, mais un « multirécidiviste ». Autant que je sache, les régressions ne contrôlent pas le moment où les données ont été collectées. 

Ils comprennent également des bases de données qui recueillent des informations sur la consommation d'alcool et de vapotage par les adultes. On ne sait pas pourquoi ils font cela, étant donné que l'étude porte sur la consommation d'alcool chez les adolescents, la taxation du vapotage et les décès. 

Dans l'analyse de régression, ils incluent des variables de contrôle telles que des variables politiques basées sur l'État (à un niveau élevé d'agrégation) et des caractéristiques individuelles telles que l'âge, l'origine ethnique, le niveau scolaire (sûrement fortement corrélé à l'âge), le sexe et, dans certaines spécifications, le niveau d'instruction. Ils n'incluent pas les indicateurs d'une propension aux comportements à risque, à l'emploi à temps partiel ou à une autre source de revenu, qu'ils soient ou non titulaires d'un permis de conduire ou aient accès à un véhicule à moteur. En particulier, ils ne contrôlent pas si l'individu vit dans une ville ou une zone rurale (ayant vraisemblablement moins accès à diverses formes de transports publics). L'âge de la conduite varie aux États-Unis selon l'État et aucune tentative n'a été faite pour inclure cette variable dans l'analyse. Il est vrai que les variables de contrôle basées sur l'état sont incluses dans l'analyse, mais ces variables font beaucoup de travail.

Ce n'est que l'ensemble de données final qui répond directement à la question de recherche que les auteurs prétendent étudier. 

Résultats non pertinents

Toutes ces données sont utilisées pour démontrer que des niveaux plus élevés de taxation du vapotage entraînent des niveaux de vapotage plus faibles. Ces résultats sont présentés dans le tableau 1. Cela n'est pas surprenant. Les courbes de demande descendent et c'est ainsi que le monde est censé fonctionner.

Dans le tableau 2, nous voyons l'impact de la taxation du vapotage sur la consommation d'alcool. Dans le premier panneau, nous voyons qu'il y a pas de relation statistiquement significative entre "toute consommation d'alcool" et la taxation du vapotage. Dans les deuxième et troisième panneaux, nous voyons qu'il existe une relation négative statistiquement significative entre le nombre de verres consommés et, au moins, un incident de consommation excessive d'alcool et la taxation du vapotage. Ce résultat pourrait être cohérent avec un certain nombre d'explications possibles, cependant, nous ne pouvons tirer aucune conclusion sérieuse de ces résultats car les auteurs n'ont pas contrôlé le vapotage réel dans ces résultats. Les résultats de la régression dans le tableau 2 comportent une très grave omission - le manque de contrôle pour le vapotage des répondants. 

Les résultats du dernier panneau du tableau 2 se rapportent à de multiples épisodes de consommation excessive d'alcool. La spécification préférée de l'auteur n'est statistiquement significative qu'au niveau 10% et n'est pas robuste aux variations des variables de contrôle utilisées dans la régression. 

Les tableaux 3 et 4 contiennent des tests de robustesse utilisant une analyse de régression différente. Le tableau 3 en particulier montre des relations négatives claires entre la consommation d'alcool et la taxation du vapotage. Cependant, il souffre également du biais de variable omise que nous avons vu dans le tableau 2.

Dans le tableau 5, les auteurs étudient le chevauchement entre les personnes qui vapotent et consomment de l'alcool. Alors que ce groupe d'individus - et leur propension à être impliqué dans des accidents mortels de la circulation - est le groupe même sur lequel les auteurs prétendent enquêter, très peu de choses sont partagées à leur sujet. Par exemple, on ne découvre qu'à la page 30 que 40% des vapoteurs ados font aussi du binge drink. D'après les statistiques récapitulatives, nous découvrons que 19,7% d'adolescents (dans l'échantillon basé sur l'état) vapotent. Cela suggère que 7,9% d'adolescents vont à la fois à la vape et à la consommation excessive d'alcool. Bien que cela puisse sembler être un nombre élevé, 19,9% d'adolescents ont été classés comme buveurs excessifs, il semblerait donc que 12% sur les adolescents consomment de l'alcool, mais ne vapotent pas. 

Le tableau 5 est une occasion manquée. En incluant le vapotage dans la variable dépendante (un indicateur binaire) et non comme une variable indépendante, cela réduit la capacité des lecteurs à se forger une opinion ferme sur la dynamique réelle des données.

Les tableaux 7 et 8 ajoutent d'autres groupes d'âge (adultes) au mélange. Les résultats sont répartis selon l'âge – les effets sont différents pour les consommateurs plus jeunes que pour les consommateurs plus âgés. Compte tenu de la question de recherche énoncée, les résultats ici ne sont pas intéressants.

Ce qui est intéressant, ce sont les résultats du tableau 6. Ici, les auteurs segmentent leurs données par sexe, âge et origine ethnique. Une taxe sur le vapotage réduit le nombre de boissons consommées par les hommes blancs de moins de 17 ans. Au niveau d'importance 1%, les taxes sur le vapotage réduisent la consommation excessive d'alcool chez les 17 à 18 ans, les Hispaniques et les autres. De même, au niveau de signification 1%, une taxe sur le vapotage réduit les multiples cas de consommation excessive d'alcool chez les personnes de couleur (noires, hispaniques et autres). Bien que les universitaires en santé publique puissent accueillir de tels résultats, le fait est que le manque de cohérence dans les résultats sape toute confiance que nous pouvons accorder à ces résultats. Il est très probable que la variation aléatoire des données entraîne les variations aléatoires des résultats. 

Accéder au résultat principal

Le tableau 9 contient les résultats qui répondent à la question de recherche à laquelle les auteurs prétendent répondre. Les résultats ne sont pas aussi prometteurs qu'annoncés. Dans ce tableau, les auteurs déploient des données de la Système de rapport d'analyse des décès (FRAS). Cet ensemble de données contient des données État par État sur les accidents mortels. Les auteurs extraient les informations suivantes de l'ensemble de données : "Total Traffic Fatalities, Traffic Fatalities with Driver BAC > 0, Traffic Fatalities with Driver BAC > 0.1, Traffic Fatalities with Driver BAC = 0 …".

Les auteurs affirment avoir utilisé le logarithme naturel du « taux de mortalité routière par âge (nombre de décès sur la route pour 100 000 habitants) dans l'État s et l'année t » comme variable dépendante dans une régression qui inclut la taxation du vapotage et divers États. variables de contrôle basées sur . Les auteurs n'expliquent pas pourquoi ils ont pris le logarithme naturel du taux de mortalité. Ils affirment également que certains cas de taux de mortalité nul se sont produits et ils ont corrigé cela en remplaçant le logarithme naturel de 1 (c'est-à-dire zéro) dans la régression. Cependant, à mon avis, cela suggère une erreur de données dans l'analyse - il n'est pas clair pourquoi un État américain n'aurait aucun décès sur la route dans l'un des groupes d'âge que les auteurs prétendent inclure dans leur analyse (16 - 20, 21 - 39, 40 ans et plus). Dans le cas même, l'analyse sous-jacente est suspecte.

Il y a un autre problème avec la variable dépendante.

Considérez comment les auteurs décrivent leur découverte :

Du résumé et encore dans l'introduction :

… une baisse de 0,4 à 0,6 du nombre de décès sur la route liés à l'alcool pour 100 000 jeunes de 16 à 20 ans dans une année d'état traitée.

A partir de la page 15 :

Nous nous concentrons sur la période de 2003 à 2019 et générons un panel état par année des décès sur la route pour les personnes âgées de 18 à 20 ans, de 21 à 39 ans et de 40 ans et plus. Compte tenu de notre intérêt pour les décès liés à l'alcool sur les routes, nous utilisons les informations recueillies sur le taux d'alcoolémie (TA) du conducteur ainsi que le moment de l'accident étant donné que les décès liés à l'alcool surviennent fréquemment la nuit et le week-end.

À la page 26, ils décrivent les résultats du tableau 9 comme suit :

  • "Le tableau 9 présente des estimations des effets des taxes ENDS sur les décès de la route chez les 16 à 20 ans, générées à partir de l'équation (4)."
  • Premièrement, nous constatons que les taxes ENDS ne sont essentiellement pas liées au nombre total de décès sur les routes chez les 16 à 20 ans…
  • "... nos résultats montrent des preuves cohérentes d'une baisse induite par la taxe ENDS des décès sur la route liés à l'alcool."

À la page 27 :

  • "... les résultats impliquent une baisse d'environ 5 à 9 % des décès dus à l'alcool chez les 16 à 20 ans."

Il est très clair qu'ils décrivent des décès parmi une cohorte d'âge (dans ce cas, 16 - 20). Ils ne décrivent pas l'âge du conducteur, mais plutôt l'âge des personnes tuées dans l'incident. 

En revanche également à la page 15 :

Pour les décès sur la route où le TA du conducteur est déclaré, le taux de décès sur la route impliquant des conducteurs de 18 à 20 ans avec un TA > 0 était de 4,5 pour 100 000 habitants. Pour les personnes âgées de 21 à 39 ans et de 40 ans et plus, les chiffres sont respectivement de 5,9 et 2,5.

C'est en fait la variable que les auteurs devraient utiliser. Conducteurs âgés de 16 à 20 ans qui ont un taux d'alcoolémie > 0. Pourtant, même ici, ils rapportent les données des conducteurs âgés de 18 à 20 ans. Pour être juste, il s'agit peut-être d'une faute de frappe. Toute la discussion et la description - à l'exception de ce seul cas - suggèrent que les auteurs ont utilisé le taux de mortalité par groupe d'âge comme variable dépendante, et non le conducteur impliqué dans un décès entre 16 et 20 ans. 

Il est très probable que les auteurs aient mal spécifié leur variable dépendante d'intérêt. La chaîne de causalité qu'ils veulent démontrer est que la taxation du vapotage entraîne une baisse de la consommation d'alcool chez les 16 à 20 ans, qui sont alors moins susceptibles de causer des décès sur la route en raison de l'alcool au volant. Dans l'état actuel des choses, ils rapportent des résultats qui démontrent que les taxes sur le vapotage entraînent une baisse des niveaux de consommation d'alcool, ce qui fait que moins de 16 à 20 ans meurent dans des accidents de la route où le conducteur du véhicule est sous l'influence de l'alcool mais peut ne pas être âgé de 16 ans. – 20. Ce qui rend ce résultat encore plus problématique, c'est que les auteurs démontrent que l'effet qu'ils rapportent ne s'applique qu'aux individus âgés de 16 à 20 ans.  

Compte tenu de cette analyse, il est très probable que les conclusions de cet article reposent sur une régression fallacieuse.

Rokok Elektrik et Miskonsepsinya

Rokok elektrik atau vape saat ini merupakan salah satu produk yang menjadi bagian keseharian yang tidak bisa dilepaskan dari jutaan orang di seluruh dunia, termasuk juga tentunya di Indonesia. Di berbagai tempat, khususnya di wilayah perkotaan, kita bisa dengan mudah menemukan berbagai pengguna vape, dan juga berbagai pertokoan yang menjual produk-produk rokok elektrik yang sangat beragam.

Semakin banyaknya konsumen yang memilih untuk mengkonsumsi vape atau rokok elektrik ini tentu disebabkan oleh berbagai hal. Setiap orang tentu memiliki alasan yang berbeda-beda mengenai mengapa mereka menggunakan vape, mulai dari harganya yang secara umum lebih murah dibandingkan dengan rokok konvensional, pilihan rasa yang lebih beragam, dan juga untuk membantu mereka mengurangi konsumsi rokok konvensional yang bera dibakarim, yang penyakit kronis.

Di sisi lain, ada juga sebagian kalangan yang memiliki sikap kritis dalam menanggapi semakin meningkatnya pengguna vape atau rokok elektrik yang ada di Indonesia. Mereka berpandangan bahwa vape merupakan produk yang sangat berbahaya, sama seperti rokok konvensional yang dibakar.

Padahal, sudah ada laporan yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga kesehatan internasional yang menyatakan bahwa, vape atau rokok elektrik merupakan produk yang jauh lebih aman bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar. Salah satu dari lembaga kesehatan yang telah mengeluarkan laporan tersebut adalah lembaga kesehatan publik asal Britania Raya, Public Health England (PHE). PHE dalam laporannya menyatakan bahwa vape atau rokok elektrik merupakan produk yang 95% jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional (theguardian.com, 28/12/2018).

Oleh karena itu, untuk melihat fenomena tersebut secara lebih dalam, beberapa waktu lalu, lembaga advokasi konsumen internasional, Consumer Choice Center (CCC), melakukan riset mengenai persepsi masyarakat terkait dengan kebijakan harm reduction produk-produk tembakau, khususnya rokok konvensional yang dibakar. Penelitian itu sendiri dilakukan di dua negara Eropa, yakni Jerman dan Prancis.

Meskipun sudah ada laporan yang dikeluarkan oleh lembaga kesehatan publik dari berbagai negara bahwa vape atau rokok elektrik jauh lebih tidak berbahaya dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar, tetapi masih banyak miskonsepsi yang diyakini oleh banyak orang. Hal ini bisa dilihat dari hasil laporan yang dilakukan oleh CCC.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh CCC misalnya, di Jerman, hanya ada 3 dari 15 dokter yang pernah mendengar dan mengetahui istilah harm reduction untuk mengurangi dampak buruk dari rokok. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa, sebagian besar dokter di Jerman tidak menganggap bahwa produk-produk vape atau rokok elektrik sebagai alat yang bisa digunakan untuk program harm reduction (consumerchoicecenter.org, 2022).

Sebagai catatan, réduction des méfaits sendiri merupakan serangkaian kebijakan kesehatan publik yang dirancang dengan tujuan untuk mengurangi dampak negatif dari perilaku sosial tertentu. Hal ini mencakup berbagai perilaku, seperti konsumsi rokok, kegiatan seksual yang beresiko, dan lain sebagainya.

Kembali ke penelitian yang dilakukan oleh CCC, hal ini cukup berbeda dari hasil penelitian yang ada di Prancis. Di negara tempat Menara Eiffel tersebut, sebagian besar dokter pernah mendengar dan mengetahui istilah harm reduction, dan menganggap bahwa vape atau rokok elektrik bisa digunakan sebagai alat harm reduction.

Hasil penelitian lainna, ditembukan bahwa 33% perokok di Prancis dan 43% perokok di Jerman menganggap bahwa rokok elektrik memiliki bahaya yang sama atau bahkan lebih berbahaya dari rokok konvensional yang dibakar. Selain itu 69% perokok di Prancis dan 74% perokok di Jerman menganggap nikotin dapat menyebabkan kanker.

Hal ini adalah pandangan yang sangat keliru, karena nikotin dalam rokok merupakan kandungan yang menyebabkan ketagihan, namun nikotin tidak menyebabkan kanker. Ada berbagai terapi berbasis nikotin yang aman yang disarankan oleh dokter untuk para perokok yang ingin berhenti merokok (cancerresearchuk.org, 24/3/2021),

Adanya miskonsepsi tersebut juga menimbulkan dampak yang négatif dan membuat para perokok di kedua negara tersebut menjadi lebih sulit untuk menghilangkan kebiasaannya yang sangat berbahaya tersebut. Berdasarkan riset yang dilakukan CCC misalnya, 29% perokok di Prancis dan 45% perokok di Jerman tidak pernah mendapatkan masukan dari dokter tentang bagaimana langkah efektif yang bisa mereka lakukan untuk berhenti merokok.

Dari penelitian CCC di atas, meskipun dilakukan di dua negara Eropa, ada hal yang bisa ditarik dan memiliki relevantnsi dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Di Indonesia sendiri, miskonsepsi mengenai rokok elektrik merupakan sesuatu yang sangat umum. Beberapa waktu lalu misalnya, tidak sedikit pekerja medis misalnya yang mengadvokasi agar pemerintah melarang seluruh produk vape yang ada di Indonesia (cnnindonesia.com, 24/09/2019).

Sebagai penutup, adanya miskonsepsi mengenai produk-produk vape dan juga kegunannya sebagai alat harm reduction bagi para perokok tentu akan sangat merugikan publik, khususnya mereka yang sudah kecanduan dengan rokok dan memiliki keinginan untuk berhenti. Hal ini semakin berbahaya terutama di negara dengan tingkat perokok yang sangat tinggi seperti di Indonesia. Untuk itu, adanya kampanye mengenai pentingnya produk-produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik untuk alat réduction des méfaits merupakan sesuatu yang sangat penting, agar semakin banyak orang-orang yang bisa terbantu untuk mereka berhenti merokok.

Publié à l'origine ici

Le CCC aide le ministère de la Santé à procéder à une réévaluation complète du projet de loi sur le tabac

Le Consumer Choice Center (CCC), qui représente les consommateurs de plus de 100 pays à travers le monde, a félicité le nouveau ministre de la Santé, le Dr Zaliha Mustafa, pour avoir pris la bonne mesure pour réévaluer le projet de loi sur le tabac.

Récemment, le Dr Zaliha a déclaré que le projet de loi de 2022 sur le contrôle du tabac et des produits à fumer sera examiné et réévalué avant qu'une décision ne soit prise. Le député PKR-Pakatan Harapan (PH) de Sekijang a raison de mentionner que la mise en œuvre de toute politique clé doit être poursuivie progressivement ou étape par étape et non de manière drastique.

Souscrivant à la décision du Dr Zaliha, Tarmizi Anuwar, associé du CCC Malaisie, a déclaré que certaines des mesures proposées, notamment la politique Generational End Game (GEG), sont trop extrêmes et ont créé beaucoup de complexité.

Il a également souligné la nécessité de différencier les produits du tabac du vapotage étant donné le potentiel de ce dernier en tant que produit moins nocif pour aider à réduire le nombre de fumeurs de cigarettes dans le pays.

Lire le texte complet ici

Les vraies conséquences de la proposition d'interdiction des saveurs de vapotage à Columbus

Colomb est considérant mettre un terme aux ventes de cigarettes mentholées et de vapes aromatisées. Bien qu'aucune législation officielle n'ait été officiellement introduite, les défenseurs de la lutte antitabac qui rédigent la proposition affirment qu'une interdiction contribuerait à réduire les taux de tabagisme chez les Noirs, les autres groupes de couleur, les femmes et les populations LGBTQ.

Malheureusement, plus de 20 000 habitants de l'Ohio perdent la vie chaque année à cause de maladies liées au tabagisme. Considérant que des études ont montré que le vapotage est 95% moins nocif que de fumer et que les adultes qui utilisaient des produits de vapotage aromatisés étaient 2,3 fois plus susceptibles pour arrêter de fumer des cigarettes, en veillant à ce que les consommateurs adultes de Columbus aient accès aux produits de vapotage qu'ils préfèrent, cela entraînera finalement moins de décès liés au tabagisme dans l'Ohio. 

C'est estimé que plus de 5% de la population adulte de l'Ohio utilisent des produits de vapotage, ce qui représente plus de 634 000 Ohioiens qui sont passés à une alternative plus saine au tabac combustible. L'interdiction des produits de vapotage aromatisés encouragera ces anciens fumeurs à recommencer à fumer des cigarettes et entraînera à terme une augmentation des coûts de santé liés au tabagisme, qui sont déjà coûtant Contribuables de l'Ohio $1,85 milliard par an.

Les partisans de l'interdiction affirment qu'elle n'interdirait pas les produits de vapotage aromatisés ou les cigarettes mentholées à Columbus, juste la vente desdits produits et que les consommateurs ne seraient pas punis pour avoir acheté des produits ailleurs et les avoir apportés dans la ville. Non seulement ce plan nuirait grandement aux petites entreprises qui vendent des produits de vapotage, mais il créerait également un marché illicite dangereux au sein de Columbus où de mauvais acteurs pourraient facilement profiter des consommateurs en leur vendant des produits défectueux non réglementés qui pourraient causer de graves problèmes de santé. 

De plus, bien que l'interdiction des arômes vise à aider les groupes minoritaires de couleur, la réalité de la création d'un marché illicite est qu'elle exacerbera davantage les interactions entre les forces de l'ordre et les consommateurs de ces produits. L'un des plus tristement célèbres exemples de ceci est la mort tragique d'Eric Garner, qui a été tué par la police à New York après avoir été approché parce qu'il était soupçonné de vendre des cigarettes individuelles non taxées. 

La mise en œuvre d'une interdiction des produits de vapotage aromatisés et des cigarettes mentholées à Columbus aura de graves conséquences imprévues. Au lieu d'une interdiction, davantage d'efforts de réduction des méfaits du tabac doivent d'abord être explorés, tels que l'augmentation de la sensibilisation à des communautés spécifiques ainsi que l'encouragement des vapes et des produits du tabac sans fumée comme outil de sevrage. 

Elisabeth Hicks est l'analyste des affaires américaines et David Clément est le directeur des affaires nord-américaines du Consumer Choice Center. 

Apa yang Bisa Kita Pelajari de Kebijakan Vape di Filipina?

Vape atau rokok elektrik saat ini merupakan salah satu produk konsumen yang digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Saat ini, dengan sangat mudah kita bisa menemukan berbagai orang yang menggunakan rokok elektrik di berbagai tempat, terlebih lagi bila kita tinggal di wilayah urban dan kota-kota besar.

DI negara kita sendiri, konsumsi vape atau rokok kelektrik oleh para konsumen merupakan fenomena yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018 misalnya, diperkirakan ada sekitar 2,1 juta penduduk Indonésie yang menjadi pengguna vape. Angka tersebut meningkat di tahun 2020 menjadi 2,2 juta orang yang menjadi konsumen rokok elektrik (vapemagz.co.id, 24/1/2021).

Semakin meningkatnya pengguna vape di Indonesia tentunya memberikan dampak yang signifikan terhadap industri di sektor tersebut. Industri rokok eleektrik, atau produk-produk tembakau alternatif secara keseluruhan, yang meningkat, tentu akan memberikan lapangan kerja yang besar bagi banyak tenaga kerja di Indonesia. Saat ini, industri rokok elektrik di Indonesia setidaknya sudah berhasil menyerap 100.000 tenaga kerja di Indonesia (liputan6.com, 13/6/2022).

Akan tetapi, tidak semua pihak mengapresiasi adanya fenomena tersebut. Tidak sedikit yang berpandangan bahwa fenomena semakin meningkatnya industri vape di Indonesia merupakan hal yang sangat négatif, dan berbahaya bagi kesehatan publik. Hal ini dikarenakan, mereka menyandingkan rokok elektrik dengan rokok konvensional yang dibakar, dan memiliki dampak yang sama atau bahkan lebih berbahaya dari rokok konvensional yang dibakar.

Hal ini tentu merupakan pandangan yang kurang tepat. Berbagai lembaga kesehatan dunia telah mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa vape atau rokok elektrik merupakan produk yang jauh lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar. Lembaga kesehatan asal Britania Raya, Public Health England (PHE) misalnya, beberapa waktu lalu mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa rokok elektrik 95% lebih tidak berbahaya bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar (theguardian.com, 28/12/2018).

Sangat penting ditekankan bahwa, menyatakan bahwa vape atau rokok elektrik 95% lebih aman bila dibandingkan dengan rokok konvensional bukan berarti bahwa vape merupakan produk yang 100% aman tanpa resiko. Hal ini berarti, tetap ada resiko kesehatan bagi konsumsi vape atau rokok elektrik, namun resiko tersebut jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan rokok konvensional yang dibakar.

Oleh karena itu, beberapa negara di dunia telah secara resmi mengeluarkan kebijakan yang ditujukan untuk memberi insentif bagi para perokok untuk berpindah ke rokok elektrik, atau yang dikenal dengan kebijakan réduction des dommages. Inggris misalnya, melalui lembaga kesehatan nasional National Health Service (NHS), mendorong warga Inggris yang perokok aktif untuk berpindah ke produk rokok elektrik yang jauh lebih tidak berbahaya (nhs.uk, 29/3/2019).

Inggris tentunya bukan satu-satunya negara yang mengambil langkah tersebut. Tidak perlu jauh-jauh ke negeri tempat kelahiran Ratu Elizabeth II tersebut, negara kita sesama anggota ASEAN, Philippines, baru-baru ini juga mengeluarkan peraturan yang kurang lebih serupa. Pada bulan Januari tahun ini, lembaga legislasi FIlipina berhasil meloloskan undang-undang yang dikenal dengan nama The Vaporized Nicotine Products Regulation Act.

Salah satu aspek yang paling penting dari undang-undang tersebut adalah regulasi ini memberi jalan untuk menyusun strategi kebijakan harm reduction untuk menawarkan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional kepada para perokok. Philippine sendiri saat ini memiliki sekitar 16 juta perokok aktif yang tinggal di negara tersebut (vaping360.com, 27/7/2022).

Selain itu, undang-undang ini juga melakukan beberapa perubahan yang menerapkan regulasi yang tidak jauh berbeda antara rokok konvensional yang dibakar dan rokok elektrik. Misalnya, penyetaraan batas usia konsumsi rokok konvensional dengan rokok elektrik. Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang memiliki opsi legal untuk mengkonsumsi produk yang jauh lebih tidak berbahaya. Akan ada pula sanksi yang diberlakukan kepada penjual yang menjual produk-produk hasil olahan tembakau kepada anak-anak di bawah usia.

Peraturan yang diberlakukan di Filipina ini merupakan hal yang cukup berbeda dengan beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Thailand dan Singapura misalnya. Di Thailand dan Singapura, vape atau roko elektrik merupakan produk ilegal, di mana mereka yang melanggar dapat dikenakan sanksi pidana baik berupa denda maupun penjara, meskipun rokok elektrik merupakan salah satu produk yang telah digunakan oleh jutaan perokok untuk membantu mereka berhenti merokok.

Sebagai penutup, langkah kebijakan yang dilakukan oleh Filipina yang meloloskan regulasi agar para perokok bisa berpindah ke rokok elektrik yang jauh lebih tidak berbahaya merupakan hal yang bisa dipelajari oleh para pembuat kebijakan di Indonesia. Bila semakin banyak perokok yang bisa berpindah ke produk yang jauh lebih tidak berbahaya, maka dengan demikian diharapkan berbagai penyakit kronis yang melanda masyarakat juga dapat ditekan, dan akan membawa dampak yang positif terhadap kesehatan publik.

Publié à l'origine ici

La désinformation généralisée sur le vapotage nuit à la santé publique

Arrêter de fumer est l'une des choses les plus difficiles à faire, comme le savent de nombreux fumeurs, anciens et actuels, par expérience personnelle douloureuse. La santé publique et les politiciens doivent faire mieux pour aider les fumeurs à arrêter. 700 000 décès par an dans l'UE devraient suffire à nous inciter à repenser notre approche actuelle.

Pour aider efficacement les fumeurs à arrêter définitivement, trois conditions doivent être remplies :

Premièrement, les fumeurs doivent pouvoir choisir parmi autant d'options que possible pour trouver la méthode d'arrêt du tabac qui leur convient le mieux. Les gens sont différents et, par conséquent, différentes façons d'arrêter de fumer doivent être disponibles et abordables. Pour très peu de personnes (moins de 4%), arrêter de fumer sans aide fonctionne. Pour quelques-uns, la thérapie de remplacement de la nicotine (comme les gommes ou les patchs à la nicotine) fonctionne, et il s'avère que pour de nombreuses personnes, les nouvelles alternatives à la nicotine les aident à arrêter de fumer une fois pour toutes. Ces produits vont des produits de vapotage et de chaleur sans brûlure aux sachets de snus ou de nicotine. Le point commun de toutes ces nouvelles formes est qu'elles séparent la consommation de nicotine de la combustion du tabac (qui produit la grande majorité de la toxicité du tabagisme), ce qui les rend bien moins nocives que la cigarette. Chacun est différent, chacun fonctionne mieux pour chaque personne différente.

62% de fumeurs en France et 53% en Allemagne estiment que les politiques anti-tabac ignorent la difficulté d'arrêter de fumer. De toute évidence, les fumeurs ne sont pas satisfaits des méthodes de sevrage traditionnelles et se tournent donc vers le vapotage comme moyen de sevrage.

Deuxièmement, nous avons besoin d'un cadre réglementaire moderne et ouvert pour s'adapter à ces nouvelles alternatives. Ces nouveaux produits ne sont pas la même chose que fumer. Par conséquent, ils ne doivent pas être peints avec le même pinceau réglementaire. Ce dont nous avons plutôt besoin, c'est d'une réglementation fondée sur les risques. Vapoter est 95% moins nocif que fumer et ne doit donc pas être traité de la même manière. La réduction des risques doit devenir une pièce maîtresse des politiques anti-tabac, comme dans le domaine des médicaments pharmaceutiques. La réduction des méfaits suit des stratégies et des solutions pratiques pour réduire les conséquences nocives associées à l'utilisation de certaines substances au lieu d'une approche irréaliste de « juste arrêter ». Encourager les fumeurs qui ne peuvent pas ou ne veulent pas arrêter de fumer à passer au vapotage est le meilleur exemple de réduction des méfaits.

Troisièmement, les fumeurs doivent disposer d'informations précises sur les risques potentiels des différents produits pour prendre des décisions. Il en va de même pour les professionnels de la santé qui travaillent avec ces fumeurs. Ils doivent connaître les faits pour faire une différence durable pour les fumeurs.

Lire le texte complet ici

Libérez le potentiel du vapotage : le manque de connaissances sur le vapotage freine l'arrêt du tabac

Le Consumer Choice Center, en collaboration avec World Vapers' Alliance, a récemment présenté un nouveau enquête menée auprès de 30 médecins généralistes et plus de 800 fumeurs en Allemagne et en France – avec une première bonne nouvelle : plus de la moitié des sondés veulent arrêter de fumer !

La prise de conscience des effets du tabac sur la santé a augmenté de façon exponentielle au cours des dernières décennies, incitant les décideurs politiques à établir des règles pour en limiter l'usage. Cependant, comme tout vice qui comporte des risques, les mesures prohibitives et strictes n'ont pas donné les résultats escomptés.

La thérapie de remplacement de la nicotine (TRN) standard est reconnue, observée et prise en charge par les systèmes de sécurité sociale, bien qu'elle montre des effets très limités dans les efforts pour aider ceux qui choisissent d'arrêter de fumer. Le vapotage a offert aux consommateurs la possibilité de satisfaire le besoin de nicotine, tout en posant une fraction des dommages. Le vapotage est 95% moins nocif que d'utiliser des cigarettes conventionnelles, et est simultanément le outil de sevrage tabagique le plus efficace.

Sachant tout cela, nous pouvons dire que le vapotage est à l'usage de la nicotine ce que les ceintures de sécurité sont à la conduite automobile ou ce que les préservatifs sont aux relations sexuelles : s'il peut être plus sûr de ne pas utiliser de nicotine du tout, de ne pas conduire de voiture ou de ne pas avoir de relations sexuelles, il est crucial pour appliquer la réduction des risques. Depuis l'invention de la première cigarette électronique en 2003, le vapotage a parcouru un long chemin en offrant un choix aux fumeurs qui souhaitent arrêter de fumer, et ce, avec beaucoup moins de risques que les cigarettes.

Malheureusement, il est parfois difficile de trouver des rapports précis sur le vapotage. De nombreux lecteurs se souviendront peut-être de la flambée des cas d'EVALI (E-cigarette, ou Vaping Product, Use Associated Lung Injury) aux États-Unis en 2019, qui a été imputée au vapotage. À ce jour, ces cas ont dissuadé les fumeurs de changer, même si cela a été montréque les utilisateurs concernés avaient consommé des e-liquides contenant du THC provenant du marché illicite. À l'insu des acheteurs de l'époque, de l'acétate de vitamine E avait été ajouté à ces liquides, avec des conséquences fatales pour ceux qui les consommaient. Tout ce que l'histoire a vraiment fait, c'est souligner l'importance d'un marché réglementé et légal pour les produits de vapotage, ce qui empêche de laisser le marché aux contrebandiers.

Lorsqu'elles plaident pour la réduction des méfaits, les organisations comme la nôtre ne se contentent pas de tomber sur des histoires alarmantes dans les médias, mais aussi sur des idées fausses largement répandues. L'enquête CCC/WVA a montré que 33% de fumeurs en France et 43% en Allemagne pensent que le vapotage est aussi nocif ou plus nocif que la cigarette. Les croyances erronées sur la nicotine vont encore plus loin : 69% de fumeurs en France et 74% de fumeurs en Allemagne pensent que la nicotine provoque le cancer, ce qui est très éloigné des preuves scientifiques. Les experts de la nicotine le savent depuis longtemps, mais l'information n'a pas imprégné le public, les politiciens ou les médecins généralistes.

Les médecins sont des acteurs essentiels du changement en ce qui concerne les habitudes malsaines de leurs patients. Cependant, notre enquête a montré que trop de médecins partagent des opinions mal informées sur la nicotine, ou ne sont même pas conscients du concept de réduction des méfaits. Par conséquent, la plupart des médecins ne recommandent pas le vapotage comme outil de sevrage tabagique. Leur point de vue sur la nicotine (ils croient souvent qu'elle cause des lésions pulmonaires) est également fondamentalement incohérent : si la nicotine devait causer des lésions pulmonaires, pourquoi les médecins recommanderaient-ils des TRN, qui contiennent tous de la nicotine ?

La réduction des méfaits du tabac a encore un long chemin à parcourir avant d'atteindre les objectifs ambitieux d'un sevrage tabagique à grande échelle. L'information est donc cruciale : la diabolisation de l'outil de réduction des risques le plus efficace doit cesser, tout comme les règles et réglementations punitives. Le vapotage devrait être au cœur de tout changement politique à venir visant à réduire la consommation de tabac, au lieu d'être la cible d'une surtaxation.

Publié à l'origine ici

L'étude révèle que 62% de fumeurs en France et 53% en Allemagne pensent que les politiques anti-tabac ignorent à quel point il est difficile d'arrêter de fumer

L'étude commandée par le Consumer Choice Center et rédigée en coopération avec la World Vapers' Alliance révèle plusieurs idées fausses sur la nicotine et la réduction des méfaits parmi les professionnels de la santé et les consommateurs.

L'enquête sur Perceptions sur la réduction des méfaits du tabac et la nicotine en France et en Allemagne a été menée pour mieux comprendre l'impact des perceptions erronées sur le vapotage parmi les médecins généralistes, les fumeurs et les décideurs politiques, sur la future politique de réduction des risques en Europe. L'enquête comprend 30 entretiens avec des médecins généralistes et une enquête quantitative auprès de 862 fumeurs français et allemands.

Principales conclusions:

  • Seuls trois médecins sur 15 en Allemagne déclarent connaître le terme de réduction des risques.
  • 33% des fumeurs en France et 43% en Allemagne pensent à tort que le vapotage est aussi nocif ou plus nocif que la cigarette.
  • 69% de fumeurs en France et 74% de fumeurs en Allemagne pensent à tort que la nicotine est cancérigène.
  • 62% de fumeurs en France et 53% en Allemagne estiment que les politiques anti-tabac ignorent la difficulté d'arrêter de fumer.

Lire le texte complet ici

proche