Vaping

Piano Ue contro il cancro, il Parlamento dà spazio alla sigaretta elettronica

Pietro Fiocchi (FdI), membro della Commissione parlamentare che sta stilando un rapporto per il piano, assicura che vi sarà un paragrafo sul vaping.

Di Barbara Mennitti| SIGMAGAZINE

Il rapporto che lo Special Committee on cancer del Parlamento europeo consegnerà alla Commissione come contributo per il Piano contro il cancro includerà un paragrafo sulla sigaretta elettronica. A rivelarlo è stato l’europarlamentare italiano Pietro Fiocchi (Fratelli d’Italia), durante un incontro organizzato questa mattina dalla sede a Bruxelles della Camera di commercio britannica, incentrato proprio sul Beating Cancer Plan dell’Unione europea. Sottotitolo dell’evento, prevenire è meglio che curare e proprio sugli strumenti e le best practice in materia di prevenzione verteva l’intervento di Fiocchi. Il parlamentare italiano, che è relatore ombra della Commissione speciale sul cancro dell’Europarlamento ha aggiunto che “è importante che il paragrafo sul vaping contenga le cose giuste”, cioè presumibilmente che tratti la sigaretta elettronica come strumento di riduzione del danno da fumo.

Read the full article here.

Apakah Vape yang Mengandung Perasa Mempengaruhi Seseorang Untuk Merokok?

Apakah Vape yang Mengandung Perasa Mempengaruhi Seseorang Untuk Merokok?

Vape atau rokok elektonik saat ini merupakan produk yang sudah digunakan oleh jutaan konsumen, terutama di kota-kota besar. Di berbagai kota, dengan mudah kita bisa menemukan pertokoan yang menjual produk-produk rokok elektonik dengan berbagai merek.

Penggunaan vape juga terus meningkat, dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri misalnya, pada bulan Juli tahun 2020 lalu, diperkirakan ada sekitar 2,2 juta pengguna rokok elektonik dan 5.000 penjual vape di seluruh Indonesia (Kontan.co.id, 21/07/2020).

Namun, fenomena ini juga bukan berarti tidak menimbulkan pro dan kontra. Tidak sedikit pihak-pihak yang menyatakan sangat keberatan dan mengkritik fenomena meningkatnya penggunaan vape. Salah satu alasan yang kerpa digunakan adalah, rokok elektrik merupakan produk yang dapat menjadi pintu masuk bagi rokok tembakau konvensional yang dibakar.

Oleh karena itu, banyak pihak yang cemas dan khawatir terhadap fenomena meningkatnya pengunaan vape, khususnya di kalangan anak-anak muda. Dikhawatirkan, akan semakin banyak populasi perokok di kalangan anak muda yang disebabkan oleh penggunaan rokok elektrik, yang tentunya akan semakin banyak menimbulkan penyakit kronis seperti kanker dan serangan jantung.Lantas, apakah pandangan tersebut sesuatu yang tepat? Apakah vape merupakan gateway drugs bagi penggunaan rokok konvensional?

Berdasarkan laporan dari lembaga kesehatan pemerintah Britania Raya, Public Health England, rokok elektrik atau vape terbukti 95% jauh lebih aman daripada rokok konvensional yang dibakar (Public Health England, 2015). Hal ini dikarenakan, ada lebih dari 7.000 zat kimia yang terdapat di rokok konvensional, di mana 69 dari zat kimia tersebut merupakan zat yang berbahaya dan dapat menimbulkan kanker.

Hal ini jauh berbeda dengan komponen yang berada di dalam vape atau rokok elektrik. Bahan dasar yang digunakan dalam cairan rokok elektrik adalah propylene glycol (PG) dan vegetable glycerin (VG), yang merupakan zat umum yang digunakan untuk memberikan perasa dalam berbagai makanan, salah satunya adalah kue (American Lung Association, 20/08/2019).

Sama halnya dengan rokok konvensional, cairan yang dipakai di dalam rokok elektrik juga mengandung zat nikotin. Kandungan zat nikotin yang terdapat di dalam rokok elektrik ini sering dianggap sebagai penyebab utama yang membuat rokok elektronik dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, dan rokok elektrik berpotensi besar akan membuka pintu bagi para penggunanya untuk menggunakan rokok konvensional yang dibakar.Namun pandangan tersebut adalah sesuatu yang keliru. Berdasarkan badan penyedia layanan kesehatan Britania Raya, National Health Service (NHS), nikotin, meskipun zat yang berpotensi dapat menimbulkan kecanduan, namun relatif aman. Faktor utama yang membuat rokok konvensional sangat berbahaya bagi kesehatan dan dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung adalah zat-zat beracun lainnya yang terkandung di dalam rokok tersebut, dan bukan pada nikotinnya (National Health Service, 2019). Pandangan bahwa rokok elektrik merupakan pintu masuk untuk rokok konvensional juga merupakan sesuatu yang salah besar. Sebaliknya, justru melalui rokok elektrik atau vape, para perokok justru menjadi sangat terbantu untuk menghentikan kebiasaan mereokok mereka yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Di Amerika Serikat misalnya, berdasarkan laporan dari National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine pada tahun 2018, terdapat kaitan yang erat antara menurunnya populasi perokok di Amerika Serikat dengan meningkatnya penggunaan vape di negeri Paman Sam tersebut (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2018). Studi yang dipublikasikan oleh New England Journal of Medicine pada tahun 2019 juga menunjukkan bahwa penggunaan vape dua kali lipat lebih efektif dibandingkan dengan produk-produk pengganti nikotin lainnya yang digunakan untuk membantu perokok untuk berhenti merokok (The New England Journal of Medicine, 2019).

Joachim Schüz, yang merupakan ketua dari lembaga riset kanker milik World Health Organization (WHO), The International Agency for Research on Cancer, untuk bagian lingkungan dan radiasi, mendukung penggunaan vape untuk membantu perokok untuk berhenti merokok. Schüz menyatakan bahwa rokok elektronik jauh tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok konvensional (Consumer Choice Center, 2020).

Sebagai penutup, kebijakan pelarangan vape atau kebijakan yang membatasi pilihan rokok elektrik yang dapat dikonsumsi oleh konsumen merupakan kebijakan yang sangat berbahaya. Hal ini akan semakin mempersulit para perokok untuk berhenti merokok, yang tentunya juga akan semakin sulit untuk mereduksi berbagai penyakit yang sangat berbahaya yang disebabkan oleh penggunaan dan konsumsi rokok seperti kanker dan penyakit jantung.

Perlu ditekankan bahwa, saya dalam hal ini bukan mengadvokasi seseorang untuk mengkonsumsi nikotin atau menggunakan produk-produk rokok elektrik. Namun, kesalahpahaman mengenai dampak rokok elektronik serta manfaat yang dapat diberikan oleh produk tersebut kepada konsumen adalah hal yang sangat penting untuk dikoreksi dan diluruskan.

Tidak ada manfaatnya bagi para otoritas kebijakan kesehatan publik atau pemerintah untuk menakut-nakuti warganya terhadap produk-produk rokok elektrik. Hal ini justru sangat berbahaya karena akan membuat para perokok enggan untuk berpindah ke rokok elektrik yang jauh lebih aman, yang dapat membantu mereka untuk hidup lebih sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis.

Originally published here.

Departemen Kesehatan Pennsylvania Mengadakan Pertemuan Virtual Mengatasi Risiko Vaping

Departemen Kesehatan Program Narkoba dan Alkohol berkolaborasi di bawah kepemimpinan Menteri Kesehatan, Rachel Levine, mengadakan sebuah pertemuan virtual membahas tentang mengatasi risiko vaping bersama dengan Gubernur Demokrat, Tom Wolf.

“Ribuan orang di Pennsylvania menjadi korban produk tembakau dan vaping yang dipasarkan secara terang-terangan dan tidak menyadari dampak kesehatan yang signifikan seperti kecanduan nikotin dan penyakit terkait paru-paru. Saya bangga melihat para ahli, kelompok advokasi, dan otoritas lokal berkumpul untuk membahas tantangan dan menemukan peluang untuk mengatasi epidemi vaping,” kata Levine.

Dalam pertemuan ini memang tidak ada presentasi khusus mengenai pengurangan dampak buruk. Acara tersebut hanya diskusi bagaimana para ahli menyikapi kekhawatiran di antara produk bebas rokok dan pendukung pengurangan bahaya tembakau yang akan dihadapi di masa depan.

Consumer Choice Center, menerbitkan whitepaper yang mengindeks status vaping di semua 50 negara bagian di Amerika Serikat. Untuk menentukan peringkat setiap negara bagian, pusat tersebut menciptakan sistem penilaian yang mempertimbangkan peraturan seperti pembatasan rasa, pajak nikotin, tembakau, dan kebijakan penjualan produk vaping secara online.

Menurut sistem poin negara bagian, 0 hingga 10 poin yang diterima memberikan nilai “F” untuk negara bagian. 11 sampai 20 poin adalah nilai “C”. Negara-negara dengan skor antara 21 dan 30 telah menerima nilai “A”. Pennsylvania, berdasarkan indeks vaping Consumer Choice Center, diberi peringkat dengan nilai “C”.

Originally Published here.

Le département de la santé de l’État de Pennsylvanie a organisé un sommet virtuel sur les risques du vapotage

Le 5 novembre, le gouvernement de l’État américain de Pennsylvanie a organisé une série de séminaires virtuels traitant des risques sanitaires du vapotage sous la forme d’un sommet.

Les départements de la santé et des programmes de lutte contre la drogue et l’alcool ont collaboré sous la direction de la secrétaire d’État à la Santé Rachel Levine. Levine sert sous les ordres du gouverneur démocrate Tom Wolf.

«Des milliers de personnes à travers la Pennsylvanie sont victimes des produits du tabac et du vapotage commercialisés de manière stratégique et ne sont pas conscientes des impacts importants sur la santé tels que la dépendance à la nicotine et les blessures pulmonaires associées», a déclaré Levine, médecin agréé par le conseil. «Je suis fier de voir des experts, des groupes de défense et des autorités locales se réunir pour discuter des défis et trouver des opportunités pour lutter contre l’épidémie de vapotage.»

Selon un examen de l’événement publié par le gouvernement de l’État, le sommet sur le vapotage a réuni plusieurs experts dans de nombreux domaines pour offrir des informations et des mises à jour sur le travail de plaidoyer, de santé et de politique effectué pour réduire l’épidémie de vapotage dans l’État.

Conférenciers de l’American Lung Association, de l’Université de Pennsylvanie, de l’Université de Pittsburgh et du département de santé publique de la ville de Philadelphie.

À notre connaissance, aucune présentation sur la réduction des méfaits n’a été présentée. Bien que l’événement en valait certainement la peine, les défenseurs des produits sans fumée et de la réduction des méfaits du tabac s’inquiètent du fait que les présentations étaient déterminées et n’ont pas discuté du potentiel d’alternatives et d’autres stratégies de minimisation des méfaits pour les consommateurs.

Chez Vaping Post, nous souhaitons également souligner que cet événement a été soutenu par des fonds fournis par l’État, l’American Lung Association, la Pennsylvania Alliance to Control Tobacco et l’ONG au niveau de l’État, TRU (alias Tobacco Resistance Unit).

Le Consumer Choice Center, un groupe de réflexion politique de centre-droit, a publié un livre blanc répertoriant l’état du vapotage dans les 50 États des États-Unis. Pour classer chaque État, le centre a créé un système de notation pondéré qui tient compte des réglementations telles que les restrictions de saveur, les taxes sur la nicotine et le tabac et la possibilité de vendre des produits à base de vapeur en ligne.

Les réglementations sont également évaluées en fonction de leur rigueur, y compris des règles et des politiques déjà promulguées par la Food and Drug Administration et d’autres agences de santé publique fédérales et étatiques. Selon le système de points de l’État, 0 à 10 points reçus donnent à un État une note «F». 11 à 20 points est une note «C». Les États dont les scores se situent entre 21 et 30 ont reçu une note «A».

La Pennsylvanie, basée sur l’indice de vapotage du Consumer Choice Center, est notée avec une note «C».

Originally published here.

Pennsylvania State Health Department Held A Virtual Summit Addressing The Risks Of Vaping

Vaping was the subject of a virtual public health summit put on by tobacco control NGOs and the state government.

The Departments of Health and Drug and Alcohol Programs collaborated under the leadership of state Secretary of Health Rachel Levine. Levine serves under Democratic Gov. Tom Wolf.

“Thousands across Pennsylvania fall victim to the strategically marketed tobacco and vaping products and are unaware of the significant health impacts such as nicotine addiction and lung associated injuries,” Levine, who is a board-certified medical doctor, said. “I am proud to see experts, advocacy groups, and local authorities come together to discuss challenges and find opportunities to address the vaping epidemic.”

According to a review of the event published by the state government, the vaping summit featured several experts in many fields to offer information and updates on the advocacy, health, and policy work done to curtail the vaping epidemic in the state.

Speakers from the American Lung Association, the University of Pennsylvania, the University of Pittsburgh, and the City of Philadelphia’s public health department.

As far as we can tell, no harm reduction presentations were presented. While the event was certainly worthwhile, there’s concern among smoke-free product and tobacco harm reduction advocates that the presentations were single-minded and failed to discuss the potential for alternatives and other consumer-facing harm minimization strategies.

We at Vaping Post also wish to highlight that this event was supported with funds provided by the state, and the American Lung Association, the Pennsylvania Alliance to Control Tobacco, and the state-level NGO, TRU (a.k.a, Tobacco Resistance Unit).

The Consumer Choice Center, a center-right policy think tank, published a whitepaper that indexed the status of vaping in all 50 states in the United States. To rank each state, the center created a weighted scoring system that considers regulations like flavor restrictions, nicotine and tobacco taxes, and the ability to sell vapor products online.

Regulations are additionally assessed based on how stringent they are, including rules and policies that are already promulgated by the Food and Drug Administration and other federal and state public health agencies. According to the state’s point system, 0 to 10 points received gives a state an “F” grade. 11 to 20 points is a “C” grade. States with scores between 21 and 30 have received an “A” grade.

Pennsylvania, based on the Consumer Choice Center’s vaping index, is rated with a “C” grade.

Originally published here.

Vapor Advocacy Groups Want California Flavor Ban Repealed

California queen palms

Three e-cigarette advocacy groups are asking California State General Assembly to repeal the state’s ban on flavored vaping products. The group’s leaders say an estimated 900,000 former smokers in California could be forced to switch back to smoking if the bill (CA SB793) is not overturned by referendum or repealed.

“Unless California lawmakers want to force hundreds of thousands of vapers back to smoking, they need to reconsider this flavor ban,” said Gregory Conley, president of the American Vaping Association (AVA). “While voting for bans may make legislators feel righteous, the reality is that prohibition is failed public policy and never works for adult consumer products.”

The World Vapers’ Alliance (WVA), Consumer Choice Center (CCC) and the AVA, which combined represent hundreds of thousands of consumers, sent a letter today to members of the California State Assembly members urging them to repeal the flavored tobacco ban bill in California to avoid pushing vapers back to combustible cigarettes.

“Instead of improving public health by reducing the number of smokers, this law will have the opposite effect: more people smoking again,” said Yaël Ossowski, deputy director at the Consumer Choice Center. “Moreover, these measures will push people into the illegal market and will also have a disproportionate impact on people of color, who overwhelmingly prefer flavored products and would suffer the most from criminalization and over-policing in our local communities.”

California joins Massachusetts as the two states having flavored vaping bans, though each have unique exemptions to the laws. In Massachusetts, businesses defined as “smoking bars” are still able to sell flavored vaping and tobacco products.The ban goes into effect on Jan. 1, 2021.

“Gavin Newsom’s plan will have disastrous consequences and he is celebrating a victory for public health,” said Michael Landl, director of the World Vapers’ Alliance. “More than 900,000 vapers in California could switch back to smoking due to the ban. Either Governor Newsom is poorly informed about the unintended consequences prohibition always generates or he is just an anti-vaping crusader.”

The bill prohibits a vape shop owner or tobacco retailer, or any of those entities retailer’s agents or employees, from selling, offering for sale, or possessing with the intent to sell or offer for sale, a flavored tobacco product or a tobacco product flavor enhancer, subjecting them to a fine of $250 for each violation. It also allows local governments to impose greater restrictions on the access to tobacco products than the bill imposes.

Originally published here.

Die E-Zigarette als “Einstiegsdroge ins Rauchen”? Ein entlarvter Mythos

Das Schreckensbild, welches die Nikotingegner von der E-Zigarette beschwören: Jugendliche probieren das Dampfen aus und landen automatisch bei den krebserregenden klassischen Zigaretten. Auch wenn es nicht stimmt: Behaupten kann man es ja mal und mit vielen Wiederholungen wird’s vielleicht doch wahr ...

Eine neue Studie entkräftet den Mythos, dass jugendliche und erwachsene Nichtraucher über das Dampfen zum Rauchen verführt werden.

Die World Vapers Alliance und das Consumer Choice Center haben in der Meta-Studie „Vaping and the Gateway Myth“ den gängigen Vorwurf, Dampfen würde Jugendliche zum Rauchen verführen, widerlegt.

Niedrige Raucherquote dank E-Zigaretten

Länder wie die USA, Kanada und das Vereinigte Königreich verzeichnen historische Tiefstände ihrer Raucherquoten – in den USA sank diese von 21 % im Jahr 2005 auf 14 % in 2018. 2018 führte der US National Acacedemies of Sciences, Engineering and Medicine Report an, dass die Raucherquote deutlich stärker gesunken sei, seit sich der E-Zigaretten-Konsum weit verbreitete.

Gateway? Nonsense

Auch der Leiter der WHO-Krebsforschungs-Agentur, Joachim Schüz, stellte im Februar 2020 vor dem Europaparlament fest: „E-Zigaretten sind in keiner Weise so schädlich wie Tabakzigaretten und können schweren Rauchern beim Rauchstopp helfen. Die Eignung von E-Zigaretten als Entwöhnungswerkzeug ist gut belegt, zudem wenden sie sich dezidiert an Raucher. Die häufigen Anschuldigungen, E-Zigaretten wären ein Türöffner ins Rauchen, entbehren jeder Grundlage.“

Dazu stellten Colin Mendelsohn und Wayne Hall in ihrer im Journal of Drug Policy veröffentlichten Arbeit fest, dass zumindest 70–85 Prozent aller Jugendlichen, welche das Dampfen ausprobieren, zuvor auch schon Raucher waren. Die Autoren resümieren: „Im starken Gegensatz zur Gateway-Hypothese scheint das Dampfen einen Teil dieser Jugendlichen vom deutlich riskanteren Rauchen abzubringen.“

Originally published here.

Vaping is a pathway away from smoking, study finds

Vaping is a pathway away from smoking, study finds

Over the years, e-cigarettes have repeatedly been accused of being a gateway to smoking. The statistics have consistently suggested otherwise, but a new report from the Consumer Choice Centre and World Vapers’ Alliance hopes to finally put this myth to bed.

The report

The report, entitled ‘Vaping and the Gateway Myth’ has investigated whether there is any evidence that vaping is a gateway to smoking. Short answer; there isn’t.

They found that in actual fact, vaping is a gateway out of smoking. E-cigarettes were designed to offer smokers a safer way to consume nicotine, with the target market being adult smokers. They have succeeded in this, with a number of studies finding e-cigarettes to be twice as effective as nicotine replacement therapies such as nicotine patches and gum.

The report looks into the different reasons that have been raised as part of the opinion that vaping is a gateway to smoking, such as their nicotine content, whether they are encouraging young people to smoke, and the controversy around flavoured e-liquids. The report consistently finds these arguments to be unfounded.

But e-cigarettes can contain nicotine – isn’t that dangerous?

Honestly, the effect that vaping nicotine has on the body is actually comparable to that of your morning coffee. It is true that a massive overdose of nicotine would cause it to act as a nerve poison, however this is not something that can be achieved by vaping the levels of nicotine available in e-liquids.

Yes, nicotine is an addictive substance, but research has found that the addiction smokers have is not just to the nicotine, but also to other ingredients in tobacco smoke, and to the habit of smoking, or the ‘smoking ritual’. In the absence of these other ingredients, many vapers actually find their nicotine cravings are lower.

Professor Bernd Mayer, Toxicologist at the University of Graz, and Scientific Advisor to the World Vapers’ Alliance, explains;

“Smokers do not die from their addiction, but from the harmful effects of the ingredients in tobacco smoke. In the cardiovascular system, much like caffeine, nicotine leads to a slight increase in blood pressure and heart rate. These effects are clinically harmless, the risk of serious illnesses (heart attack, stroke) or mortality is not increased by nicotine.”

While the report recognises that people should not be encouraged to start consuming nicotine if they have not previously been a smoker, they express that it is important that public health authorities make smokers aware that vaping offers a far safer alternative to smoking.

Traditional cigarettes create over 7000 chemicals when burned, and 69 of these have been identified as potentially carcinogenic. E-liquids on the other hand, are primarily made up of propylene glycol (PG) and vegetable glycerin (VG), both of which are recognized by the European Food Safety Authority as safe and not harmful, and are common ingredients found in many food products.

Are e-cigarettes turning young people into smokers?

This is another topic that has been hotly debated for some time, due in some part to the high levels of teen vapers seen in the US. However, this is not an issue that is present in the UK and it has been found that e-cigarette use among teenagers is low, and those young people who do regularly use an e-cigarette are either ex or current smokers.

Colin Mendelsohn and Wayne Hall concluded in their recently published review for the Journal of Drug Policy;

“Contrary to the gateway hypothesis, vaping appears to divert a subset of youth at risk of cigarette smoking away from smoking.”

The misconception that e-cigarettes could lead adolescents to smoke seems to stem from the fact that they are a novel technology, therefore teens are going to want to try them as the ‘cool, new thing’. In actual fact, data from Action on Smoking and Health (ASH) shows that UK youth smoking rates are at an all-time low, and while it is true that a number of young people report having tried an e-cigarette before, it is important to make the distinction between this and regular use. As stated in ‘Vaping and the Gateway Myth’;

“Clearly, it makes a difference if someone has one puff from a friend’s e-cigarette at a party or is a daily user.”

The great flavour debate

There are a number of countries that are considering banning flavoured e-liquids in a bid to make vaping less appealing to non-smokers. However, data suggests that only around 2% of regular vapers have never smoked, and that flavoured e-liquids are actually essential in increasing the odds of adult smoking cessation. Another two-thirds of current vapers use a non-tobacco flavoured e-liquid, and removing these options would likely lead many back to smoking, or to purchase from the black market where e-liquids are not regulated.

The Yale School of Public Health concluded in their study into flavour bans that the main reason many vapes prefer a non-tobacco flavour is precisely because these flavours do not remind them of the taste of cigarettes, and that those using flavoured e-liquids are 2.3 times more likely to make a successful stop smoking attempt than these using tobacco flavours.

The report concludes by making recommendations to policymakers about utilising e-cigarettes as an essential tool for harm reduction, including an evaluation of advertising rules and ensuring that vaping products are easily accessible to adult smokers as an alternative nicotine source.

If you or someone you know is considering making the switch from smoking to vaping, head over to our blog to find lots of information on making the switch, or pop in to your local Evapo store and speak to a member of our team.

Sources:

https://consumerchoicecenter.org/wp-content/uploads/2020/10/Vaping_and_the_Gateway_Myth.pdf


Originally published here.

Vapear es una ‘puerta de salida’

Vapear es una 'puerta de salida’

Vapear es una puerta para dejar de fumar. Las sugerencias de que los cigarrillos electrónicos alientan a los no fumadores a adoptar el hábito no resisten el escrutinio. Así lo afirma una nueva investigación publicada por la World Vapers Alliance y el Consumer Choice Center.

El informe “Vaping and the Gateway Myth” (“El vapeo y el mito de la puerta de entrada”) encontró que los cigarrillos electrónicos ayudan a los adultos a dejar de fumar. Además, con las tasas de tabaquismo de los jóvenes en un mínimo histórico, los argumentos de que el vapeo está alentando a los adolescentes a comenzar a fumar simplemente no están respaldados por la evidencia.

¿Qué dicen los investigadores?

Al comentar sobre la investigación, Michael Landl, director de World Vapers Alliance, dijo:

“El estudio de hoy muestra que el vapeo es una puerta para dejar de fumar. Los argumentos más comunes contra el vapeo (como que es una puerta para fumar) no pasan la prueba de la realidad y la ciencia. Vapear ayuda a los fumadores adultos a dejar de fumar y el uso de cigarrillos electrónicos entre los jóvenes es poco común, especialmente entre los no fumadores”.

El efecto de puerta de entrada al tabaquismo que a menudo se afirma no aparece en los datos. De hecho, muchos estudios muestran el efecto contrario. Las tasas de tabaquismo en el Reino Unido, donde las autoridades de salud pública fomentan el vapeo como una puerta para dejar de fumar, están en su punto más bajo y no hay signos de que el vapeo induzca a fumar más (consulte el cuadro a continuación).

Maria Chaplia, asociada de asuntos europeos del Consumer Choice Center y coautora del informe, agregó:

“La mayoría de los argumentos contra el vapeo no tienen en cuenta el hecho de que los cigarrillos electrónicos se dirigen a los consumidores de tabaco. Al igual que los sustitutos del azúcar ayudan a las personas a reducir su consumo de azúcar, los cigarrillos electrónicos ayudan a las personas a dejar de fumar. No culpamos a los sustitutos del azúcar por un mayor consumo de azúcar. Sin embargo, hacerlo con los cigarrillos electrónicos parece ser aceptable”.

Principales hallazgos

Los principales hallazgos de la investigación incluyen:

  • La nicotina no es el problema, las toxinas en los cigarrillos sí lo son. Casi todo el daño del tabaquismo proviene de las miles de otras sustancias químicas presentes en el humo del tabaco.
  • Los cigarrillos electrónicos ayudan a los adultos a dejar de fumar: son dos veces más efectivos que las terapias de reemplazo de nicotina.
  • Vapear no conduce a fumar entre los adolescentes. Las tasas de tabaquismo entre los jóvenes están en un mínimo histórico y el uso de cigarrillos electrónicos por parte de ellos es poco común.
  • Prohibir los sabores no resolverá el problema. Las restricciones y prohibiciones de los sabores limitarán significativamente la utilidad del vapeo como herramienta para dejar de fumar.

Michael Landl, director de la World Vapers Alliance concluyó:

“Los formuladores de políticas ya no pueden ignorar los hechos. El alarmismo sobre el vapeo debe detenerse y las agencias de salud pública deben respaldarlo como una herramienta eficaz para ayudar a los fumadores a pasar a una alternativa más segura”.

El informe completo se puede descargar aquí:

World Vapers Alliance (WVA) amplifica la voz de los vapeadores de todo el mundo y los capacita para marcar la diferencia en sus comunidades. Nuestros miembros son asociaciones de vapeadores, así como vapeadores individuales de todo el mundo. Más información en www.worldvapersalliance.com.

Consumer Choice Centre – La CCC representa a los consumidores en más de 100 países de todo el mundo. Supervisa de cerca las tendencias regulatorias en Ottawa, Washington, Bruselas, Ginebra y otros puntos críticos de regulación e informa y activa a los consumidores para que luchen por #ConsumerChoice. Obtenga más información en www.consumerchoicecenter.org

Originally published here.

Effet passerelle, un mythe facile à démonter

Non, « l’effet passerelle » n’existe pas ! Souvent accusée par ses détracteurs de mener les jeunes vers le tabac, la vape a vu son image écornée. S’appuyant sur de nombreux rapports de la communauté scientifique, une association internationale et indépendante de consommateurs publie une étude très fouillée qui démontre l’absurdité de cette hypothèse.

Effet passerelle, un mythe facile à démonter

« Le vapotage et le mythe de l’effet passerelle ». Tel est l’intitulé du rapport publié par le Consumer Choice Center (CCC). Cette association internationale de consommateurs s’est ainsi penchée sur cette théorie selon laquelle l’e-cigarette constituerait une porte d’entrée vers le tabagisme quotidien, en particulier chez les jeunes. 

Une théorie tellement pratique pour réglementer la vape

« Il est urgent de revenir à une perspective scientifique et indépendante, sur laquelle pourront s’appuyer les gouvernants afin d’améliorer le bien-être des consommateurs », indiquent en préambule les rapporteurs de l’étude. Car cette « méfiance » vis-à-vis de la vape est souvent véhiculée sans le moindre fondement ni démonstration. C’est notamment le cas du récent rapport SCHEER, censé éclairer la Commission européenne. Celui-ci se contente d’affirmer qu’il y aurait « de fortes preuves que les cigarettes électroniques constituent une porte d’entrée vers le tabagisme chez les jeunes » … sans pour autant les présenter explicitement.

Pourtant, certains dirigeants s’appuient sur cette théorie pour réglementer le marché. Et prendre des décisions qui privent de nombreux adultes du « substitut nicotinique le plus efficace à ce jour, au moins 95 % moins dangereux que la cigarette », selon de nombreuses agences de santé comme Public Health England. On pense notamment à l’interdiction des e-liquides aromatisés dans certains États américains, à une perspective similaire aux Pays-Bas ou encore à l’interdiction totale de la vape en Inde ou aux Philippines

Le réexamen de la TPD, qui doit être mené l’an prochain à la lumière du rapport SCHEER, risque aussi de suivre la même voie. Pour éclairer les débats, le Consumer Choice Center dresse la synthèse de toutes les études scientifiques autour de la vape et retient quatre raisons principales pour lesquelles l’effet passerelle n’existe pas. « L’e-cigarette est une porte de sortie du tabagisme, et non une porte d’entrée », indiquent-ils en conclusion.

En substance, il s’agit des points suivants : 

  • La nicotine n’est pas le problème, ce sont les toxines dans les cigarettes qui sont dangereuses.
  • L’e-cigarette aide les adultes à arrêter de fumer.
  • Le vapotage ne conduit pas au tabagisme chez les adolescents, d’après des études statistiques et scientifiques.
  • L’interdiction des arômes ne résoudra pas le problème : elle ne fera que priver les vapoteurs du substitut tabagique le plus efficace à ce jour.

Une mauvaise interprétation du rôle de la nicotine

Le rapport s’ouvre par un rappel très important : « L’e-cigarette est apparue en ciblant les consommateurs de cigarettes conventionnelles avant tout, en particulier les plus gros fumeurs, afin de les aider à arrêter. » En clair, la vape ne s’adresse pas à ceux qui n’ont jamais fumé.

Comme l’a rappelé récemment l’Anses, les cigarettes classiques libèrent plus de 7 000 substances toxiques en brûlant. 69 d’entre elles sont potentiellement cancérogènes. « La dépendance des fumeurs est due à une combinaison de nicotine et des autres ingrédients de la fumée de tabac, soutenue par un comportement conditionné (le “rituel de fumer”), indiquent les rapporteurs. En l’absence de la fumée de tabac, le potentiel de dépendance à la nicotine est très faible, de sorte que la plupart des vapoteurs ressentent une pression beaucoup moins addictive que les fumeurs ».

En s’appuyant sur une étude du British National Health Service, le Consumer Choice Center rappelle ceci : « Si la nicotine correspond à la substance addictive des cigarettes, elle est plutôt sans danger. Tous les risques proviennent des milliers de substances chimiques de la fumée de tabac, dont un grand nombre sont toxiques. Les substituts nicotiniques sont utilisés depuis de très nombreuses années pour aider les gens à arrêter de fumer, et ce sont des traitements sans danger ».

Autrement dit, la nicotine n’étant pas un problème dans les substituts classiques, elle ne l’est pas non plus dans le vapotage. Ou alors des milliers d’individus seraient devenus accros aux patchs ou aux gommes à mâcher, ou les auraient adoptés sans expérience tabagique antérieure. En France aussi, on a observé cette méconnaissance des risques entre vapotage et nicotine, y compris parmi les médecins.

L’e-cigarette, un rempart efficace contre le tabagisme

Les rapports qui démontrent l’efficacité de la vape dans le sevrage tabagique s’accumulent depuis plusieurs années. L’étude du Consumer Choice Center reprend les principaux d’entre eux.

Il y a tout d’abord l’étude de l’US National Academies of Sciences, Engineering and Medicine, source pourtant utilisée par les pouvoirs publics américains. Elle démontre que le nombre de fumeurs n’a jamais été aussi faible, aux États-Unis, passant de 21 % de la population en 2005 à 14 % en 2018. Ces experts corrèlent directement cette baisse à l’apparition progressive de l’e-cigarette. Ils soulignent que « la prévalence tabagique s’est réduite de plus en plus rapidement, au fur et à mesure de la popularité du vapotage aux États-Unis ».

Les rapporteurs du CCC citent également l’étude du New England Journal of Medicine, dont nous nous sommes déjà faits l’écho. Il en ressort que le vapotage est deux fois plus efficace que les autres substituts nicotiniques. Enfin,  ils reprennent les travaux d’Action on Smoking and Health, en Angleterre, qui montrent que « seul 0,3 % des non-fumeurs sont des vapoteurs en 2020, alors qu’ils étaient 0,8 % en 2019 ». Une baisse significative et un pourcentage très faible, qui montrent que le vapotage n’intéresse pas réellement ceux qui n’ont jamais fumé.

Pas d’effet passerelle observé chez les adolescents

C’est le principal argument des adeptes de la théorie de « l’effet passerelle » : la vape séduirait les adolescents n’ayant jamais fumé, au point de les rendre accro à la nicotine. Le rapport SCHEER indique ainsi qu’il existerait « de fortes preuves que les cigarettes électroniques constituent une porte d’entrée vers le tabagisme chez les jeunes ». C’est aussi le point de vue de Jerome Adams, le chirurgien général des États-Unis, qui qualifie « d’épidémie » la popularité de la vape auprès des adolescents. Sous-entendu : ce serait tous des fumeurs en puissance.

C’est d’autant plus étonnant que l’on retrouve essentiellement des études… qui démontrent le contraire. Le Consumer Choice Center cite ainsi les travaux de Colin Mendelsohn et Wayne Hall, publiés dans le Journal of Drug Policy. Ces recherches montrent qu’au moins 70 à 85 % des adolescents ont essayé la vape après avoir déjà commencé à fumer et que le vapotage régulier est très rare chez les adolescents. « Contrairement à l’hypothèse de l’effet passerelle, le vapotage apparaît comme un moyen de détourner les jeunes exposés à un risque élevé d’être accros à la cigarette classique », concluent les chercheurs.

Le rapport du CCC cite également les travaux du département de science comportementale de l’University College of London. Forts de la synthèse d’une quinzaine d’études, les chercheurs affirment que « l’effet passerelle chez les adolescents n’a pas été démontré »

En réalité, le rapport SCHEER ou Jerome Adams s’appuieraient essentiellement sur l’étude du National Youth Tobacco Survey, conduite en 2019. Elle montre que 27,5 % des lycéens américains ont essayé au moins une fois la vape dans les 30 derniers jours. « Le problème avec ce chiffre, souligne le Consumer Choice Center, c’est qu’il met tous les consommateurs dans le même panier. Ce n’est clairement pas la même chose, entre quelqu’un qui a tiré une fois une bouffée sur l’e-cigarette d’un ami lors d’une soirée, et un utilisateur quotidien. Si l’on catégorise davantage les usages, on constate que seuls 2,1 % des adolescents non fumeurs utilisent fréquemment l’e-cigarette. En parallèle, les données d’Action on Smoking and Health montrent que le tabagisme chez les adolescents est plus bas que jamais. Les e-cigarettes sont bien moins attrayantes pour les adolescents qu’on veut le croire. » 

L’interdiction des arômes ne résoudra pas le problème

Pour expliquer l’effet passerelle, ses adeptes mettent surtout en avant « l’attractivité » des e-liquides aromatisés. C’est d’ailleurs pour cette raison que plusieurs gouvernements les interdisent ou cherchent à les bannir.

L’étude du Consumer Choice Center cite, à l’inverse, le rapport Drug Strategy Household Survey, en Australie. Il montre que la majorité des adultes (54 %), et encore plus de jeunes adultes (72 %), essaient la vape par curiosité. La notion d’arômes ou de goût est finalement la moins souvent énoncée pour se mettre au vapotage. 

Les rapporteurs évoquent aussi « l’effet profondément négatif sur la société » qu’aurait l’interdiction totale des e-liquides aromatisés. Ils rappellent que les deux tiers des vapoteurs actuels les plébiscitent, selon plusieurs études. Et ils citent l’étude de Yale montrant que de tels e-liquides sont « 2,3 fois plus efficaces que les e-liquides au goût tabac », dans l’arrêt du tabagisme. « Il est donc raisonnable de penser que les restrictions et les interdictions des e-liquides aromatisés vont fortement limiter l’efficacité du vapotage en tant qu’outil d’arrêt du tabac, et risquent de ramener les vapoteurs vers les cigarettes », concluent-ils.

En conclusion

Après cette synthèse d’études qui vient tordre le cou à la théorie de l’effet passerelle, les chercheurs indiquent que « les e-cigarettes sont avant tout une porte de sortie du tabagisme, et non une porte d’entrée […] Le discours antivape joue en faveur des décideurs politiques qui cherchent à « paterner » les consommateurs et à limiter leurs choix. Une telle approche est désastreuse et préjudiciable à la santé des fumeurs, pour qui le vapotage est devenu un vrai outil leur sauvant la vie ».

Ils rappellent que « cet outil » est donc censé s’adresser à des fumeurs désirant arrêter. Parmi les recommandations du rapport, ils préconisent ainsi l’interdiction de la vente aux mineurs ainsi que le maintien de tarifs abordables pour les adultes.

Originally published here.

Scroll to top