Science

Jaminan Hukum atas Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia

Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan salah satu hak dasar yang dilindungi oleh produk-produk hukum di berbagai negara. Tak hanya itu, jaminan atas HAKI juga dicantumkan oleh beragam dokumen dan kesepakatan internasional.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights / UDHR) misalnya, dalam Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa, “Setiap manusia memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan, baik secara moral, maupun kepentingan material, yang dihasilkan dari hasil karya saintifik, literatur, maupun seni yang dibuatnya.”

Indonesia sendiri juga sudah memiliki kerangka hukum untuk menjamin HAKI. Diantaranya adalah Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan Undang-Undang No. 13 Tahun 2016 tentang Paten. Dalam Pasal 1 UU Hak Cipta misalnya, dinyatakan bahwa “Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Sementara itu, dalam Pasal 1 UU Paten, disebutkan bahwa paten adalah “hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan sendiri invensi tersebut atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya.

Sejarah produk hukum perlindungan HAKI di Indonesia juga bisa ditarik hingga sebelum Indonesia merdeka. Pemerintah Kolonial Belanda misalnya, memberlakukan Undang-Undang Merek pada tahun 1885 dan Undang-Undang Hak Cipta tahun 1912. Pasca kemerdekaan, tahun 1953, Menteri Kehakiman Republik Indonesia mengeluarkan peraturan nasional pertama tentang paten, yakni Pengumuman Menteri Kehakiman no. J.S 5/41/4.

Akan tetapi sayangnya, meskipun Indonesia sudah memiliki kerangka hukum perlindungan HAKI yang diikuti sejarah yang panjang, namun implementasi atas Undang-Undang tersebut masih terlalu minim.

Berdasarkan indeks Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual tahun 2020 dari Kamar Dagang Amerika Serikat (U.S. Chamber of Commerce) misalnya, dari 53 negara yang disurvei, Indonesia menduduki peringkat ke 46. Hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang sangat memprihatinkan, dan seyogyanya harus bisa diperbaiki di kemudian hari (U.S. Chamber of Commerce, 2020).

Tidak hanya secara global, Indonesia juga menduduki peringkat bawah dalam hal perlindungan HAKI untuk negara-negara di kawasan Asia. U.S. Chamber of Commerce mencatat bahwa perlindungan hak cipta, ditengah maraknya pembajakan, merupakan salah satu permasalahan besar di Indonesia terkait perlindungan HAKI.

Bagi seseorang yang banyak menghabiskan waktu di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, hal ini tentu merupakan sesuatu yang bisa dengan sangat mudah kita temui. Bila kita pergi ke berbagai pusat perbelanjaan misalnya, kita tidak akan bisa menutup mata dari banyaknya toko-toko yang menjual berbagai produk bajakan, mulai dari film, album musik, fashionsoftware komputer, dan video games. Berbagai produk tersebut dijual dengan harga yang sangat jauh di bawah produk aslinya.

Seseorang misalnya, dapat membeli film atau album lagu dengan harga di bawah Rp10.000, atau membeli produk fashion dengan harga di bawah 10% dari harga aslinya. Hal ini tentu sangat merugikan mereka yang sudah bekerja dan berpikir keras untuk berkarya dan berinovasi.

Selain itu, U.S. Chamber of Commerce juga mencatat bahwa Indonesia tidak memiliki penelitian yang sistematis yang meneliti mengenai hubungan antara perlindungan HAKI dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini tentu membuat insentif pemerintah untuk menegakkan aturan perundang-undangan yang melindungi HAKI menjadi berkurang, atau bahkan tidak ada.

Ada beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan antara perlindungan HAKI dengan pertumbuhan ekonomi. Park & Ginarte (1997) misalnya, menemukan ada hubungan yang erat antara kedua hal tersebut. Perlindunan HAKI dapat meningkatkan akumulasi faktor produksi, seperti modal research and development. Adanya perlindungan HAKI dapat mendorong mereka yang bergerak di bidang penelitian untuk berinvestasi lebih besar dan mengambil resiko yang lebih tinggi, yang tentu akan mendorong pertumbuhan ekonomi (Mrad, 2017).

Meskipun demikian, U.S. Chamber of Commerce juga mencatat ada beberapa perkembangan positif terkait perlindungan HAKI di Indonesia. Diantaranya adalah implementasi perlindungan hak cipta yang lebih baik dalam ranah dunia maya, dengan menutup beberapa situs streaming gratis, dan koordinasi pada tingkat kabinet yang semakin baik terkait penegakan perlindungan HAKI.

Contoh inisiatif kebijakan pemerintah terkait perlindungan HAKI di Indonesia, salah satunya dapat dilihat dari upaya yang dilakukan oleh Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) melalui Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (Ditjen KI). Pada tahun 2017 lalu, Ditjen KI memberlakukan kebijakan untuk memperkuat fungsi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam menegakkan perlindungan HAKI di Indonesia.

Salah satu hal untuk meningkatkan fungsi PPNS Ditjen KI ini diantaranya adalah menambahkan wewenang PPNS untuk melakukan proses mediasi bila ada sengketa terkait perkara HAKI. Mediasi ini merupakan salah satu bentuk alternatif untuk menyelesaikan sengketa terkait HAKI di luar dari lembaga peradilan (Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual, 2017).

Hal ini tentu merupakan sesuatu yang patut dirayakan dan diapresiasi. Perlindungan HAKI di Indonesia tentu merupakan sesuatu yang sangat penting, untuk menjaga hak para inovator, seniman, dan pembuat konten kreatif agar mereka bisa menikmati hasil kerja keras dan kreativitas yang mereka lakukan.

Dengan demikian, diharapkan tentu akan semakin banyak para inovator dan orang-orang kreatif yang lahir di Indonesia, yang dapat membawa dampak yang sangat positif bagi perekonomian dan peningkatan kesejahteraan.

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

Neue Meta-Studie: „Insekten-Apokalypse findet nicht statt”

Eine neue Studie zeigt zwar einen Rückgang der Landinsekten, gleichzeitig aber eine Zunahme der Süßwasserinsekten. Klimawandel und Landwirtschaft beeinflussten dies nicht. Streit ist vorprogrammiert.

Schmetterling

Eine neue Meta-Analyse zu Insektenpopulationen dürfte die Diskussion um das Insektensterben wieder anheizen. Der Analyst Bill Wirtz von der Firma “Consumer Choice Center” aus Brüssel hat nach eigener Aussage die bisher größte und umfassendste Auswertung von Insektenstudien und Zählungen durchgeführt, die es bislang gab.

Seine Ergebnisse würden einige „der Missverständnisse zum vermeintlichen Artensterben der letzten Jahre“ korrigieren, wie der Senior Policy Analyst am Freitag in einer Presseinformation mitteilte. Er hoffe, dass die Diskussion wieder in eine weniger sensationsgetriebene Gangart rücken wird.

“Diese Analyse von 166 Langzeitstudien, die zwischen 1925 und 2018 an 1.676 Standorten auf der ganzen Welt durchgeführt wurden, gibt den vorhandenen Studien zu diesem Thema endlich die nötige Nuancierung. Seit Jahren wurden weniger tiefgreifende Forschungsergebnisse herangezogen, die behaupten, dass wir es mit einem Insektenrückgang apokalyptischen Ausmaßes zu tun haben. Wir wissen jetzt, dass dies nicht zutreffend war”, sagt Wirtz.

Seiner Aussage nach hat diese Studie einen Rückgang der Insektenpopulation festgestellt. Dies sei sicherlich ein Grund für weitere Untersuchungen, doch die Zahlen zeigten, dass der Effekt ungefähr sechsmal geringer sei als in früheren Studien. Ein Teil des Rückgangs der Landinsekten werde durch eine Zunahme von Süßwasserinsekten wie Mücken und Eintagsfliegen ausgeglichen, erklärte er weiter.

Während in früheren Studien der Verursacher im Klimawandel und in der modernen Landwirtschaft gesehen wurde, habe diese Meta-Analyse keinen klaren Zusammenhang zwischen Klimawandel und Insektenpopulationen gefunden, so Wirtz weiter. „Was Landwirtschaft betrifft, so zeigt diese Studie, dass der Anbau von Nutzpflanzen tatsächlich den Insektenpopulationen zugute gekommen ist. Die Forscher haben gezeigt, dass die Zerstörung des Lebensraums durch die Urbanisierung zum Rückgang der terrestrischen Insektenpopulationen geführt hat.“

“Eine Reihe von Medien haben frühere Studien genutzt, um auffällige Schlagzeilen zu schreiben. In dem Bemühen, den Nachrichtenkonsumenten ein vollständiges Bild zu vermitteln, hoffe ich, dass diese Medien jetzt über diese neuen Erkenntnisse berichten”, so Wirtz abschließend.

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

What comic book super heroes and villains tell us about plant and human gene editing – and the coronavirus

fd e b a dd d

Humanity is currently facing a huge challenge imposed by the coronavirus. Borders are being shut down, planes grounded, and factories closed. At the same time, scientists and public health professionals are working on tests, treatments, and vaccines to soon provide a medical response. Coping with corona might be one of the largest tests humans have faced in the past decades but it won’t be the last virus we need to defeat. It is time to embrace bioscience and allow more research and applications of genetic alteration methods.

For the layman, all this technobabble about mutagenesis and genetic engineering is difficult to comprehend and it took me personally a good amount of reading to start grasping what different methods exist and how these can massively improve our quality of life.

Let’s first look at the four most common ways to alter the genes of a plant or animal:

  • Dr. Xavier – Mutations per se just happen regularly in nature – This is how some amino acids ended up being humans a billion years later. Biological evolution can only happen thanks to mutations. Mutations in nature happen randomly or are caused by exogenous factors such as radiation (e.g. sun). For the comic book readers among us, X-men have mutations that (in most cases) occurred randomly.
legion professor xavier x
  • The Hulk – Mutation through exposure (mutagens): One of the most common ways to manipulate seeds is exposing them to radiation and hoping for positive mutations (e.g. higher pest resistance). This method is very common since the 1950s and a very inaccurate shotgun approach aiming to make crops more resistant or palatable. It requires thousands of attempts to get a positive result. This method is widely used and legal in nearly every country. In our comic book universe, the Hulk is a good example of mutations caused by radiation.
trb comp v e dab
  • Spiderman – Genetically Modified Organisms (transgenic GMO): This often-feared procedure of creating GMOs is based on inserting the genes of one species into the genes of another. In most cases, GMO crops have been injected with a protein of another plant or bacteria that makes the crop grow faster or be more resistant towards certain diseases. Other examples can be seen in crossing salmon with tilapia fish which makes the salmon grow twice as fast. Spiderman being bitten by a spider and suddenly being able to climb skyscrapers due to his enhanced spider-human (transgenic) DNA is an example from the comicverse.
  • GATTACA/Wrath of Khan – Gene Editing (the scissors): The latest and most precise way of altering an organism’s genes is so-called Gene Editing. In contrast to traditional GMOs, genes are not being implanted from another organism but changed within the organism due to a precise method of either deactivating certain genes or adding them.
star trek ii wrath of khan int s c

This can be even done in grown humans that are alive, which is a blessing for everyone who suffers from genetic disorders. We are able to “repair” genes in live organisms. Gene editing is also thousands of times more accurate than just bombarding seeds with radiation. Some applied examples are deactivating the gene responsible for generating gluten in wheat: The result is gluten-free wheat. There are several methods that achieve this. One of the most popular ones these days is the so-called CRISPR Cas-9. These ‘scissors’ are usually reprogrammed bacteria that transmit the new gene information or deactivate defunct or unwanted genes. Many science fiction novels and movies show a future in which we can deactivate genetic defects and cure humans from terrible diseases. Some examples of stories in which CRISPR-like techniques have been used are movies such as GATTACA, Star Trek’s Wrath of Khan, or the Expanse series in which gene editing plays a crucial role in growing crops in space.Related article:  Viewpoint: How Germany’s anti-GMO, pro-organic politics benefit US ag companies

What does this have to do with the Coronavirus?

Synthetic biologists have started using CRISPR to synthetically create parts of the coronavirus in an attempt to launch a vaccine against this lung disease and be able to mass-produce it very quickly. In combination with computer simulations and artificial intelligence, the best design for such a vaccine is calculated on a computer and then synthetically created. This speeds up vaccine development and cuts it from years to merely months. Regulators and approval bodies have shown that in times of crisis they can also rapidly approve new testing and vaccination procedures which usually require years of back and forth with agencies such as the FDA?

CRISPR also allows the ‘search’ for specific genes, also genes of a virus. This helped researchers to build fast and simple testing procedures to test patients for corona.

In the long term, gene editing might allow us to increase the immunity of humans by altering our genes and making us more resistant to viruses and bacteria.

This won’t be the last crisis

While the coronavirus seems to really test our modern society, we also need to be aware that this won’t be the last pathogen that has the potential to kill millions. If we are unlucky, corona might mutate quickly and become harder to fight. The next dangerous virus, fungus, or bacteria is probably around the corner. Hence we need to embrace the latest inventions of biotechnology and not block genetic research and the deployment of its findings.

Right now a lot of red tape and even outright bans are standing between lifesaving innovations such as CRISPR and patients around the world. We need to rethink our hostility towards genetic engineering and embrace it. To be frank: We are in a constant struggle to fight newly occurring diseases and need to be able to deploy state of the art human answers to this.

Fred Roeder is a Health Economist from Germany and has worked in healthcare reform in North America, Europe, and several former Soviet Republics. One of his passions is to analyze how disruptive industries and technologies allow consumers more choice at a lower cost. Follow him on Twitter @FredCyrusRoeder

A version of this article was originally published at Consumer Choice Center and has been republished here with permission. The center can be found on Twitter @ConsumerChoiceC


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

Non, l’Afrique n’est pas épargnée!

OPINION. Le virus ailé que représente l’invasion actuelle de criquets menace de réduire à néant toutes les récoltes de la Corne de l’Afrique. Il faut réagir de toute urgence, en se souvenant que chimie et technologie font aussi partie du génie humain, rappelle notre chroniqueur

L’hémisphère Sud, et en particulier l’Afrique, semble en grande partie épargné par la pandémie de Covid-19 qui préoccupe toute l’Asie et l’Occident. Mais pendant que nous focalisons notre attention sur cette maladie, nous détournons notre regard d’un désastre sans doute pire encore, qui ravage le continent africain.

A l’heure actuelle, des dizaines de milliers d’hectares de cultures et de plantations sont ruinés par la plus grande invasion de criquets de ces vingt-cinq dernières années. En raison d’un climat automnal favorable, ces insectes ont proliféré et leur nombre pourrait encore croître d’ici à juin.

Neuf Etats africains s’essaient aujourd’hui à maîtriser la propagation de ce virus ailé qui se répand à une vitesse effarante. Maïs, millet, sorgho, herbes et feuilles: tout y passe!

Des nuages de criquets, parfois de la taille de petits pays comme le Luxembourg, se déplacent sur des kilomètres ravageant tout sur leur passage et ne laissant derrière eux qu’une terre stérile. Ces régions pauvres, qui souffrent régulièrement de la famine, se retrouvent ainsi face à une future crise alimentaire de grande ampleur.

Depuis le début de cette invasion, les gouvernements de ces pays ont intensifié les mesures de contrôle qui comprennent notamment une utilisation rapide de pesticides dans toutes les zones touchées, pulvérisés à l’aide de pompes manuelles et motorisées. Ces Etats sont aujourd’hui appuyés par les Nations unies, qui demandent une aide urgente pour organiser rapidement une pulvérisation aérienne de grande ampleur avant la saison des plantations.

L’objectif est principalement d’empêcher l’éclosion des œufs des criquets par l’utilisation de fénitrothion et de malathion, des insecticides organophosphorés couramment utilisés pour lutter contre les moustiques et les insectes frugivores. En effet, si une intervention n’est pas faite rapidement, la plaie des criquets pourrait s’amplifier et réduire à néant les terres agricoles restantes de la Corne de l’Afrique.

Pandémie et prolifération des criquets: face à ces catastrophes d’ampleur biblique, l’Humanité se retrouve confrontée à ses éternels ennemis naturels qui lui rappellent sa fragilité. La nature nous rappelle aujourd’hui qu’elle n’est pas que Gaïa la nourricière mais également Nemesis la colérique.

Par ces épreuves, nous prenons conscience que la technologie et la science ne sont pas des oppressions qui nous éloignent d’un état naturel fantasmé mais au contraire le résultat de notre vie et notre confrontation à notre milieu.

Energie nucléaire, produits chimiques, médicaments de synthèse, vaccins: toutes ces solutions qui sont décriées par des minorités qui font beaucoup de bruit sont pourtant les fruits de l’ingéniosité humaine et la source de sa prospérité.

Après le passage de ces heures sombres, nous devrions ressortir plus reconnaissants de ce qui nous permet d’échapper à une vie «courte, brutale et indigente», comme le disait Thomas Hobbes. Retrouvons foi en notre ingéniosité et notre capacité à créer plutôt que porter sans cesse le poids d’une culpabilité infondée de notre présence sur cette Terre.

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

Україна не може дозволити собі заборони на експорт пшениці

Farm

У середу, заступник міністра економіки Тарас Висоцький повідомив Reuters, що Україна готова ввести заборону на експорт пшениці, якщо його обсяг перевищить узгоджений з трейдерами рівень. Цьому кроку передувало звернення Всеукраїнської асоціації пекарів та асоціації «Борошномели України» до президента Володимира Зеленського, прем’єра Дениса Шмигаля, міністра економрозвитку Ігоря Петрашка та секретаря Ради нацбезпеки і оборони (РНБО) Олексія Данілова з проханням вплинути на ситуацію з підвищенням цін на продовольчу пшеницю.

Заборони на експорт – це природна реакція на надзвичайну ситуацію, спричинену пандемією. Метою є запобігання дефіциту пшениці та зростання цін на зерно всередині країни. Тому, з цієї сторони, такий крок може здаватись виправданим та навіть своєчасним.

Однак проблема у тому що у перспективі такі рішення можуть призвезти до втрат у вигляді погіршення відносин з країнами-торговими партнерами та втратою багатьох експортних можливостей у майбутньому. Так як Україна є одним із найбільших світових експортерів зерна, нам важливо підтримувати цей статус та намагатись збирати рекордний врожай.

Зростання експорту в 2018-ому році забезпечили в основному кукурудза, пшениця, ріпак, м’ясо і субпродукти птиці, олії, тютюн і вироби з нього, яйця і кондитерські вироби. Найбільшими імпортерами української сільгосппродукції в 2018 році були Індія, куди було експортовано аграрної продукції на суму понад 1,8 млрд дол., Китай – 1,2 млрд. дол., Нідерланди – 1,2 млрд. дол., Іспанія – 1 млрд. дол. і Єгипет – 0,9 млрд. Дол.

Міжнародна торгівля важлива тим, що вона дозволяє кожній стороні використовувати свою перевагу і отримувати вигоду з переваги іншої. Таким чином, rраїни, в які ми постачаємо зерно є залежними від наших імпортів так само як наші експортери залежні від від продажу на світовий ринок. В результаті, обидві сторони виграють. Саме тому для нас так важливі ці торгові відносини, і обривати їх шляхом заборони експортів є не найкращим рішенням.

Експорт зерна є важливою частиною економіки України, і заборона або обмеження їх зашкодить вітчизняним експортерам. Цілком ймовірно, що тоді вони – цілком виправдано – вимагатимуть від держави певну грошову підтримку для збереження свого виробництва. Україна, як країна, яка водночас веде війну з Росією, і коронавіруcом і яка по голову в кредитах, не може собі цього дозволити.

Але це не лише Україна. Кілька країн заявили про готовність повернутись всередину. Нещодавно Румунія ввела заборону на вивезення зерна та переробленого зерна (включаючи хлібобулочні вироби) за межі Європейського Союзу, і румунські фермери вже висловили свою стурбованість. Зокрема, вони побоюються, що заборона не буде скасована після закінчення пандемії, і вони не зможуть продати урожай пшениці, ячменю, ріпаку. “Це було б катастрофою, оскільки фермери не мають потужностей для зберігання,” – стверджує Строеску.

Економічний націоналізм є привабливим, але він так само є неймовірно небезпечним в довгостроковій перспективі і підштовхне нашу економіку ще більше вниз.

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

Gewollt oder nicht, Julia Klöckner treibt die Gen-Revolution positiv an

Die Bundeslandwirtschaftsministerin hat den richtigen Riecher und steht beim Thema Genschere auf der Seite der Wissenschaft. Zu Recht.

Im Jahr 2012 haben Prof. Dr. Thorsten Stafforst und sein Team an der Universität Tübingen entdeckt, dass man durch die Verknüpfung von Enzymen mit manipulierten RNA-Strängen Gene verändern kann. Neben Ribonukleinsäure (RNA) kommen mittlerweile auch andere Methoden im Bereich Gen-Editing zur Anwendungen, am bekanntesten ist wahrscheinlich die Genschere  CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats). Für die Einen bloße Zungenbrecher, für Andere ein lebenswichtiger Durchbruch in Medizin und Landwirtschaft.

Aus medizinischer Sicht ist Gen-Editing vielversprechend im Kampf gegen Krebskrankheiten. Zum Beispiel haben Wissenschaftler in den USA zwei innovative Ansätze miteinander vermischt: CRISPR, bei dem DNA umgeschrieben wird, sowie die T-Zelltherapie, bei der dendritische Zellen (die sogenannten “Wächterzellen”) des Immunsystems zur Zerstörung von Tumoren eingesetzt werden. Drei Patienten erhielten im vergangenen Jahr CRISPR-veränderte Versionen ihrer eigenen Zellen. Geheilt werden konnten die Patienten leider nicht mehr, doch die Recherche ist Gold wert. Es zeigte sich vor allem, dass CRISPR sicher als Behandlung eingesetzt werden kann. Im Jahr 2017 konnten zwei Kleinkinder (11 und 18 Monate alt) in den Vereinigten Staaten mit moderner Zelltherapie erfolgreich behandelt werden.

Ähnlich vielversprechend ist Gen-Editing in der Landwirtschaft. An der Universität Wageningen in den Niederlanden haben Forscher letztes Jahr glutenfreien Weizen herstellen können, indem sie mit CRISPR die für Gluten verantwortlichen Gene entfernten. Für Millionen Europäer, die an Zöliakie leidet, ist dies eine vielversprechende Nachricht.

In Belgien wurden unterdessen Fungus-resistente Bananen geschaffen, doch nach einer Entscheidung der EU-Gerichtshofes in Luxemburg (EUGH) verlor das Projekt seine Finanzierung. Der EUGH hatte 2018 beschlossen, dass Gen-Editing unter die Definition von Genetisch Veränderten Organismen (GVO) fällt und daher durch die GVO-Direktive aus dem Jahr 2001 de facto verboten ist. Diese Entscheidung wurde seitdem konsequent kritisiert. Studenten der Universität Wageningen haben derweilen eine EU-Bürgerinitiative gegründet um die Gesetzgebung zu ändern, doch bei solch wissenschaftlichen Themen und wenig Medieninteresse werden wahrscheinlich am Ende die nötigen Unterschriften fehlen und das Quorum nicht erreicht.

Aus dem deutschsprachigen Raum kommen positive Änderungsvorschläge und Beiträge. Die EU-Bürgerinitiative selbst wurde unter anderem von einer Österreicherin und einer Deutschen gestartet.

Bei der Europäischen Behörde für Lebensmittelsicherheit (EFSA) ist es der Österreicher Dr. Bernhard Url, der darauf verweist, dass es in der Wissenschaft den Unterschied zwischen “Gefahr” und “Risiko” gibt : Die “Gefahr” beschreibt das Potenzial, dass etwas Negatives passieren kann, während “Risiko” quantifiziert wie wahrscheinlich es ist, dass etwas Negatives passiert. So ist beispielsweise Wasser an sich harmlos, doch wer zu viel davon trinkt, kann unter negatives Folgen leiden. Sonnenstrahlen sind ebenso harmlos, doch wer sich nicht richtig davor schützt, also in ungesundem Maße konsumiert, der kann sich verbrennen. Die Aussage, dass die Sonne an sich krebserregend sei, wäre aber bizarr.

Dies ist in der Diskussion rund um die Lebensmittelsicherheit wichtig, da das sogenannte Vorsorgeprinzip in der Europäischen Union herrscht. Gegner des Gen-Editings behaupten, dass dieses Prinzip greifen muss, da es eine Gefahr gibt, also das Potenzial, dass etwas Negatives eintrifft. In Wahrheit geht es darum in der Praxis herauszufinden wie wahrscheinlich es ist, dass es eintrifft, und dann im Einzelfall entscheiden. Würde man das Vorsorgeprinzip zum Beispiel konsequent bei Wasser und Sonne anwenden, müssten diese beiden lebenswichtigen Baustoffe verboten werden.

Bundeslandwirtschaftsministerin Julia Klöckner ist offen gegenüber Gen-Editing in der Landwirtschaft. „Die klassische grüne Gentechnik mit CRISPR/Cas in einen Topf zu werfen, halte ich für sachlich falsch”, sagte Klöckner der Nachrichtenagentur Reuters. Bei der Grünen Woche in Berlin gibt es warme Worte für CRISPR von der CDU-Ministerin. Landwirte sollten Zugang zu fortschrittlichen Methoden bekommen. Beim “Global Forum for Food and Agriculture” (GFFA) im Januar in der Hauptstadt, stellten sich Vertreter des Bundeslandwirtschaftsministeriums offen hinter die neue Gentechnik, während Vertreter der Ernährungs- und Landwirtschaftsorganisation der Vereinten Nationen (FAO) auf “Agroökologie” und back-to-basics Landwirtschaft setzen. Die SPD ist unterdessen von Gen-Editing wenig überzeugt und meinte 2018, dass Klöckner das EUGH-Urteil einfach akzeptieren solle.

Zu Recht hat die Ministerin dies bisher nicht gemacht, denn das EUGH-Urteil ist an sich keine Abrechnung mit dieser Technik. Die 2001 GVO-Direktive ist veraltet, und beschreibt in ihrer Definition von genetischer Veränderung (Mutagenese) sogar Prozesse die in der Natur stattfinden, und nicht menschgemacht sind. Der EUGH in Luxemburg hat nach diesen Definitionen gehandelt, und nicht nach Vorsorgeprinzip. Existierende Gen-Editing Fortschritte sind wichtig für Medizin und Landwirtschaft, und benötigen politische Unterstützung.

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

La nueva herramienta contra la lucha de los virus, la edición genética: en qué consiste y por qué deberíamos estar entusiasmados con esta nueva tecnología?

Imagen de Arek Socha en Pixabay

Actualmente, la humanidad está atravesando un gran desafío impuesto por el Coronavirus. Las fronteras están siendo cerradas, las aerolíneas suspendiendo sus operaciones y algunos negocios cerrando sus puertas.

Simultáneamente, científicos, investigadores y profesionales de la salud se encuentran arduamente trabajando en nuevos tratamientos que permitan encontrar pronto una solución a la pandemia producida por el COVID-19.

Probablemente, lidiar con el coronavirus y sus consecuencias debe ser uno de los retos más grandes que el mundo contemporáneo ha enfrentado en las ultimas décadas. Sin embargo, no será el ultimo virus que debamos enfrentar.

Por tal motivo, se vuelve importante abrazar a las biociencias y permitir una mayor apertura a la aplicación de métodos de alteración de genes.

Para comprender mejor las ventajas que brinda la biociencia y cómo esta puede mejorar considerablemente nuestra calidad de vida, revisaremos las cuatro alternativas más comunes para alterar los genes de una planta o animal:

X- Men (Dr Charles Xavier) – Mutaciones naturales/espontáneas

20th Century Fox
20th Century Fox

Las mutaciones per se suceden de manera regular en la naturaleza. Fue justamente de esta manera que unos aminoácidos terminaron siendo seres humanos luego de unos miles millones de años. La evolución biológica puede suceder justamente gracias a este tipo de mutaciones. Las mutaciones naturales suceden de manera aleatoria o son causadas por factores exógenos como la radiación (p. ej. el sol). Para los amantes de los cómics entre nosotros, las mutaciones que tienen lugar en “X-men” son un ejemplo de mutaciones naturales, debido a que (en muchos casos) ocurren de manera espontánea.

Hulk – Mutaciones por exposición (mutágenos)

Imagen de Alexander Gounder en Pixabay
Imagen de Alexander Gounder en Pixabay

Una de las formas más comunes de manipular semillas es a través de la exposición a la radiación y esperar a mutaciones positivas (p. ej. una resistencia mayor a plagas). Este método es muy común desde 1950 y es un método bastante preciso en la búsqueda de obtener plantaciones más resistentes o agradables para el consumo. Sin embargo, requiere de miles de intentos para obtener un resultado deseable. Este método es ampliamente utilizado y legal en gran parte de los países. En nuestro universo de cómics, Hulk seria un buen ejemplo de este tipo de mutaciones causadas por la radiación.

Spiderman- Organismos genéticamente modificados (transgénicos OGM)

Imagen de djedj en Pixabay
Imagen de djedj en Pixabay

El método utilizado para la creación de organismos genéticamente modificados (OGM) suele ser temido por muchos. El procedimiento se basa en insertar los genes de una especie en otra especie. En la mayor parte de los casos, las plantaciones de transgénicos OGM han sido inyectadas con la proteína de otra planta o bacteria que permite a la plantación o cosecha desarrollarse de manera más acelerada o resistente hacia ciertas plagas.

Otros ejemplos pueden palparse en el cruce del salmón con la tilapia que permite al salmón crecer de manera mucho más acelerada. Un ejemplo a nivel de los cómics para este caso es Spider-man, mejor conocido como el “hombre araña”. Luego de ser mordido por una araña, puede escalar rascacielos y desarrollar una agilidad sobrehumana gracias a su potenciado ADN aracno-humano (transgénico).

GATTACA / La Ira de Khan- Edición genética (las tijeras de la biociencia)

Screenshot de Star Trek: La ira de Kahn | https://www.espinof.com/criticas/especial-star-trek-star-trek-2-la-ira-de-khan-de-nicholas-meyer
Screenshot de Star Trek: La ira de Kahn | https://www.espinof.com/criticas/especial-star-trek-star-trek-2-la-ira-de-khan-de-nicholas-meyer

Super villanos libre de gluten: La edición genética no se trata de super humanos, sino de mantenernos y darnos una vida saludable

Este método puede llevarse a cabo en personas adultas que se encuentra vivas, lo cual significa una gran oportunidad sobre todo para aquellos que sufren trastornos genéticos. La edición genética permite “reparar” los genes en organismos vivos. Este método también es miles de veces más preciso que el método de bombardear con radiación. Algunos ejemplos son la desactivación del gen responsable de generar el gluten en el trigo: el resultado es trigo sin gluten para celiacos.

Existen varios métodos utilizados en la edición genética. Uno de los más populares estos días es aquel llamado CRISPR Cas-9. Estas “tijeras” son usualmente bacterias reprogramadas para transmitir un nuevo gen o desactivar genes no deseados.

Muchas novelas de ciencia ficción y películas nos muestran un futuro en el cual podemos desactivar defectos genéticos y curar a las personas de enfermedades catastróficas. Algunos ejemplos de historias de este tipo donde métodos similares al CRISPR han sido utilizados son GATTACA-La Ira de Khan, Start Trek o la serie Expanse donde la edición genética juega un rol crucial en desarrollar plantaciones para ser cultivados en el espacio.

Qué relación tiene todo esto con el Coronavirus?

Biólogos sintéticos han comenzado a utilizar CRISPR para recrear de manera artificial partes del coronavirus en un intento de producir una vacuna en contra de esta afección del sistema respiratorio para desarrollarla de manera masiva y rápida.

Gracias a la combinación de simulaciones computarizadas con inteligencia artificial, este proceso acelera la producción de una vacuna de años a cuestión de meses. De igual forma, en tiempos de crisis las instituciones encargadas de aprobar nuevas pruebas y procedimientos para este tipo de tecnología como la DEA en los EEUU han demostrado estar a la altura de las circunstancias.

El CRISPR permite también identificar genes específicos en un virus. Esto ha permitido a los investigadores construir de manera rápida y sencilla tests para ser utilizados en los pacientes con coronavirus.

En el largo plazo, la edición de genes nos permitiría ampliar la inmunidad que poseemos los seres humanos para alterar nuestros genes y convertirnos más resistentes a los virus y las bacterias.

Esta no será la última crisis

Mientras el coronavirus pone a prueba nuestra sociedad contemporánea, también necesitamos ser conscientes de que este no será el último patógeno que tendrá el potencial de matar millones de personas. Si no contamos con mucha suerte, el COVID-19 podría tener alguna mutación que lo haga mucho más difícil de combatir.

El próximo virus, hongo o bacteria letal podría estar a la vuelta de la esquina. Por este motivo, debemos adaptarnos y aceptar las nuevas innovaciones en biotecnología y evitar bloquear las investigaciones genéticas que están teniendo lugar y la aplicación de sus resultados.

En estos momentos, varias prohibiciones se encuentran en vigencia bloqueando la posibilidad de utilizar innovaciones como la del CRISPR en pacientes alrededor del mundo. Debemos repensar aquella hostilidad que existe hacia la ingeniería genética y aceptarla por lo que es, una alternativa prometedora para nuestra supervivencia. Para ser franco, siempre nos encontramos en aquella disyuntiva entre nuevas enfermedades que aparecen y la necesidad de implementar herramientas innovadoras como el CRISPR que podrían salvar millones de vidas.

by Julio Clavijo

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

In Africa, a locust plague is seriously endangering food security

As Europe is dealing with Coronavirus, Africa is looking at the most devastating locust plague in decades, argues Bill Wirtz

Europeans are panic-buying in the supermarkets around the continent – toilet paper, pasta, and many other items that people fear will soon be out of stock. The retailers are being overrun, but the only real shortage is that of staffers bringing stock back into the shelves. The harvest hasn’t been bad, European toilet paper is produced in Europe, and all delivery companies need to do is work extra shifts (not bad news for the workers in these economically unstable times). In comparison to Africa, Europeans don’t need to worry about food supply.

What is happening on the African continent at the moment, surpasses the wildest nightmare of any European consumer, and should give us a moment to think about agricultural technology and crop protection.

Billions of locusts are swarming East Africa and parts of South Asia, in the worst pest swarm in 25 years. These insects eat the equivalent of their own body weight every day, giving them the potential to grow one hundredfold by the month of June. With countries such as Saudi Arabia, Pakistan, Iran, India, Kenya, Uganda, Somalia, and Yemen already massively affected, and the plague able to reach Turkey shortly, this crisis is set to affect a billion people by the end of spring.

The United Nations’ Food and Agriculture Organisation (FAO) has requested aid of $138 million to tackle the crisis, but with COVID-19 paralysing Europe, it is unlikely that the issue will generate much attention in the coming weeks.

In February, China announced that it was sending experts to Pakistan to try and deploy 100,000 ducks to fight locusts. Even though ducks are known to devour more than 200 locusts a day (while chickens only eat 70), an animal-based solution remains dubious at best. A genuine way to fight this plague is chemical crop protection, more specifically insecticides. But that comes with certain political baggage.

In order to fight these insects, farmers in Africa and Asia are using insecticides such as fenitrothion and malathion. Countries such as India have imposed restrictions on these chemicals, allowing use only in times of plagues. The downside of this kind of legislation is that reduced general use creates shortages in times of need – the supply of both conventional and biopesticides is low, as demand is met on specific orders from governments and farmers. In the European Union, the use of fenitrothion and malathion is illegal in all circumstances, which excludes the possibility of quickly supplying farmers in need.

Such crop protection tools are and have long been controversial in Europe. Environmentalist groups have slandered chemicals and their manufacturers in the media, misinforming the public over safety features and the reality of farming. Without pest control, Africa and Asia would have had much more problematic food insecurities in the past. The solution lies in scientific research, and the abilities of farmers to use the tools they need.

Just last month, the Nigerian Biosafety Management Agency (NBMA) approved the commercial release of genetically modified cowpea, a variety resistant to the Maruca pod borer, an insect that destroys crops. To combat locusts, genetic engineering is also an important tool: gene editing through CRISPR/Cas9 can fight locust plagues by inducing targeted heritable mutagenesis to the migratory locust. In plain English: gene-editing technology could be used to reduce the number of certain insects that eat crops in Africa and Asia. Genetic engineering will also reduce our need to use certain chemical crop protection tools, which need precise application in order not to pose a threat to human health.

In order for innovation to take place, we need to embrace scientific research, and not stigmatise the use of modern crop protection tools.

There is a growing trend in civil society advocacy that promotes using no pesticides, no synthetic fertilisers, and no genetic engineering. This approach does not reflect the reality of what farmers in many countries in the world need in order to successfully produce food.

As climate change alters areas in which certain insects are present, Europe too will be confronted with this debate in a way that will be politically uncomfortable. In that situation, the ostrich head-in-sand tactic will not be the answer.

We need bold advocates for biotechnology in the interests of farmers and consumers around the world.

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

The ‘Bad Boys’ of the Private Sector turn into Corona-Angels

In light of the Corona virus, businesses that are usually on the top of politicians’ lists to be taxed, regulated, nationalized, or shut down are demonstrating how much value they produce for society.

LES ENFANTS D’ABORD!

Alors que la chloroquine a relancé le débat sur les protocoles et les publications médicales, une prestigieuse revue scientifique s’intéresse à tout autre chose…

Un récent rapport de la revue scientifique The Lancet, « A Future for the World’s Children? » [« Un avenir pour les enfants du monde ? », NDLR.], est une fois de plus une apologie en faveur de l’Etat-nounou. Ne souffrant aucune remise en question, cette publication en devient une véritable parodie.

Ces dernières années, The Lancet a eu la réputation d’approuver certaines des politiques les plus interventionnistes et paternalistes qui soient. Des restrictions publicitaires à la taxation des boissons sucrées, pour The Lancet, il n’existe pas de sujet où l’Etat ne doit pas intervenir pour éduquer ou punir la population… pour son propre bien.

Dans un récent numéro, la revue médicale s’attaque à la publicité pour les enfants, qu’elle considère comme une menace majeure.

Jeune public

Dans ce rapport, le rédacteur en chef du Lancet, Richard Horton, s’adresse aux décideurs politiques dans un communiqué de presse en disant que le marketing pour les cigarettes, les cigarettes électroniques, l’alcool et la malbouffe aggrave les problèmes de santé publique.

Le rapport demande l’ajout d’un protocole facultatif à la convention des Nations unies relative aux droits de l’enfant, qui obligerait les gouvernements à réglementer ou à interdire la publicité des boissons sucrées et de l’alcool qui serait susceptible d’être vue auprès d’un jeune public.

Horton explique :

« Nous vivons dans une économie basée sur les énergies fossiles, la consommation et la production, qui crée les conditions qui vont nuire à la santé des enfants. […] Je pense qu’aucun d’entre nous ne souhaite que cela soit le monde que nous sommes en train de créer. »

L’affirmation du Lancet selon laquelle les entreprises commercialisent délibérément des aliments malsains et d’autres vices aux enfants est difficile à saisir. En lisant ce genre de commentaires, les lecteurs pourraient se demander si les compagnies de tabac ne chercheraient pas à glisser leurs cigarettes directement dans les poussettes. Rien de tel ne s’est évidemment produit jusqu’à présent.

Le Lancet condamne également le fait que les enfants soient soumis à la publicité pour l’alcool lors des manifestations sportives. Il explique que lors des spots publicitaires lors d’émissions sportives, il y a régulièrement des publicités pour la bière ou les spiritueux, qui sont vues par des enfants alors que ces produits leur sont interdits.

En substance, les chercheurs affirment que TOUTE publicité susceptible d’être vue par un enfant ne devrait pas contenir de produits dangereux. Ce qui signifie que mise à part quelques rares exceptions, comme les projections dans les salles de cinéma pour les plus de 18 ans, cette interdiction frapperait la quasi-totalité des publicités.

Stop à la condescendance

Il est également absurde que The Lancet s’oppose à la publicité pour les produits à risques réduits tels que les cigarettes électroniques.

En effet, les recherches de ce même journal ont montré que dans certaines régions du monde (comme la Nouvelle-Zélande) la vape a remplacé le tabagisme chez les jeunes, pour un bénéfice sanitaire évident.

De plus, en dehors des nouvelles plateformes et des réseaux sociaux, les publicitaires ne peuvent guère discriminer leurs audiences. Ces interdictions n’auraient pour seul effet que de réduire grandement les revenus des supports publicitaires traditionnels (journaux, affiches, cinéma…), déjà en grande difficulté, au profit des grandes entreprises de l’internet.

Dans l’ensemble, les consommateurs ne devraient pas être traités avec condescendance par des interdictions de publicité. C’est le rôle des parents et des services scolaires d’apprendre aux enfants à faire la part des choses et à devenir des êtres autonomes et responsables. L’idée de donner de tels pouvoirs au gouvernement revient à chercher à maintenir les citoyens dans l’enfance et l’irresponsabilité.

Suivre les conseils du Lancet, c’est avant tout suivre une position idéologique en faveur de la création d’un Etat paternaliste « omniscient », dont l’objectif est de réduire la liberté de choix des consommateurs.

Originally published here.


The Consumer Choice Center is the consumer advocacy group supporting lifestyle freedom, innovation, privacy, science, and consumer choice. The main policy areas we focus on are digital, mobility, lifestyle & consumer goods, and health & science.

The CCC represents consumers in over 100 countries across the globe. We closely monitor regulatory trends in Ottawa, Washington, Brussels, Geneva and other hotspots of regulation and inform and activate consumers to fight for #ConsumerChoice. Learn more at consumerchoicecenter.org

Scroll to top